20 Nopember 2001, “Kenapa harus bersembunyi?” bertanya Panjang.
“Jangan sombong,” sahut Suwela, “Kalau kau bertemu dengan Wanda Geni,
setidak-tidaknya punggungmu akan babak belur.
Posted on November 30th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
19 Nopember 2001, Namun sejenak kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Kuda itu semakin lama menjadi semakin jauh.
Posted on November 30th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
18 November 2001, Wanda Geni mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia menggeram, “Tetapi aku adalah manusia biasa. Manusia yang memiliki nafsu kemanusiaan yang
lengkap.
Posted on November 30th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
17 Nopember 2001, Dan tiba-tiba Panjang menjadi terperanjat sendiri ketika ia mendengar suara hatinya. “Apakah semuanya ini hanya merupakan suatu persiapan
saja baginya?
Posted on November 30th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
16 Nopember 2001, Panjang menjadi termenung sejenak. Kalau ia pergi menyusul, apakah Bramanti benar-benar pergi ke Bendungan? Tetapi yang sebenarnya paling
baik justru berada di rumah Nyai Pruwita itu.
Posted on November 30th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
15 Nopember 2001, “Sejak semula aku sudah menyangka, bahwa ia sama sekali bukan seorang yang lemah, tidak berkemampuan dan apalagi cengeng, seperti yang
dituduhkan oleh Temunggull,” gumamnya kepada diri sendiri.
Posted on November 30th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
14 Nopember 2001, “Sejak semula aku sudah menyangka, bahwa ia sama sekali bukan seorang yang lemah, tidak berkemampuan dan apalagi cengeng, seperti yang
dituduhkan oleh Temunggul,” gumamnya kepada diri sendiri.
Posted on November 30th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
13 Nopember 2001, “Mungkin Panembahan Sekar Jagat ingin membuktikan kebenaran berita itu, dan ingin bertanya kepada ibu.
Posted on November 30th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
12 Nopember 2001, Panjang tersenyum. Ditepuknya pundak Bramanti sambil bergumam, “Kau memang seorang yang luar biasa. Sudahlah, aku akan pergi ke Kademangan.”
Posted on November 30th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
11 Nopember 2001, “Terserahlah kepada Panggiring sendiri Bramanti. Kalau memang jalan itu yang dianggap baik,” Panjang berhenti sejenak, kemudian “Tetapi yang penting bagiku adalah sikap Ki Tambi itu sendiri.
Posted on November 30th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »