Ketika Derita Mengabadikan Cinta
Tue. November 6, 2007Categories: Inspiring story
“Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat
pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan
oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri
. Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan
Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar
syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah
juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor
dipersilahkan. ..”
Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di
seluruh ruangan resepsi pernikahan nan mewah di Hotel
Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo.
Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya
yang akan disampaikan pakar syaraf jebolan London itu.
Hati mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan
baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan
syaraf dari professor yang murah senyum dan sering
nongol di televisi itu.
Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya
berambut putih melangkah menuju podium. Langkahnya
tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa.
Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia
memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang
tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas.
Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot
langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara,
seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu…
Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu’ala
Rasulillah, amma ba’du. Sebelumnya saya mohon ma’af,
saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya para ulama,
para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan
kali ini perkenankan saya bercerita…
Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan
fiktif belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi sebuah
pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang
telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya.
Harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian
yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah dan
pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya dan
buanglah lumpurnya.
Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan
hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam
kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap
hati yang menangkapnya.
Tiga puluh tahun yang lalu …
Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga
bangsawan menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira
tinggi, keturunan “Pasha” yang terhormat di negeri
ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady
dari keluarga aristokrat terkemuka di Ma’adi , ia
berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang
memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan
elit politik di negeri ini.
Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan.
Kami hidup dalam suasana aristokrat dengan tatanan
hidup tersendiri. Perjalanan hidup sepenuhnya diatur
dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga
besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan
aristokrat atau kalangan high class yang sepadan!
Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup
seperti ini. Saya merasa terkukung dan terbelenggu
dengan strata sosial yang didewa-dewakan keluarga.
Saya tidak merasakan benar hidup yang saya cari. Saya
lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan
teman-teman dari kalangan bawah yang menghadapi hidup
dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini
ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka
menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status
sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang
selalu basah keringat dalam mencari pengganjal perut
dianggap memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli.
Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari
kakek, dan ibu mampu mengembangkannya dengan berlipat
ganda, maka kami hidup mewah dengan selera tinggi.
Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar
negri, ke Paris , Roma, Sydney atau kota besar dunia
lainnya. Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria
misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah hotel San
Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan
dengan istana Raja Faruq.
Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil
mewah. Berkali-kali saya minta pada ayah untuk
menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar lebih
enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi
beliau menolak mentah-mentah.
“Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati
siapa saja” tegas ayah.
Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya
membantah habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan
agar lebih nyaman di hati, saya parkir mobil itu agak
jauh dari tempat kuliah.
Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang
gadis yang penuh pesona lahir batin. Saya tertarik
dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan
ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam
relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan
tiada tara . Kecantikan dan kecerdasannya sangat
menajubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi,
sama seperti saya.
Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai
saya. Saya merasa telah menemukan pasangan hidup yang
tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta ini dalam
ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan
pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai
tertinggi di fakultas. Maka datanglah saat untuk
mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami
ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus.
Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi
gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia
berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan saudara-saudara
saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan,
dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam
memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang
halus.
Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan
ayahnya. Begitu saya beritahu, serta merta meledaklah
badai kemarahan ayah dan membanting gelas yang ada di
dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum: Pernikahan ini
tidak boleh terjadi selamanya!
Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup
rencana pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu
tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah
pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang
tak terkira.
Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah
saya berlaku sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah
calon istri saya itu tukang cukur….tukang cukur,
ya… sekali lagi tukang cukur! Saya katakan dengan
bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang
lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang telah
menunaikan kewajibannya dengan baik kepada
keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak
banyak dilakukan para bangsawan “Pasha”. Lewat
tangannya ia lahirkan tiga dokter, seorang insinyur
dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak
mengecap bangku pendidikan.
Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah.
Saya berdiri sendiri, tidak ada yang membela. Pada
saat yang sama adik saya membawa pacarnya yang telah
hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu
langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta
pernikahannya sebesar 500 ribu ponds. Saya protes
kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil seperti
ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang
lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang
jelas-jelas telah berzina, bergonta-ganti pacar dan
akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang ke berapa
di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas
maha besar? Dengan enteng ayah menjawab. “Karena kamu
memilih pasangan hidup dari strata yang salah dan akan
menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar adik
kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan
martabat keluarga besar Al Ganzouri.”
Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya.
Kalau dia bukan ayah saya, tentu sudah saya maki
habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat sudah
dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah
dihalangi, namun yang jelas berzina justru
difasilitasi.
Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk
membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada
siapa saja, bahwa cara dan pasangan bercinta pilihan
saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain
menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan
suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.
Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya
temui ayahnya. Dengan penuh kejujuran saya jelaskan
apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau
berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula
wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap
beliau setelah mengetahui penolakan keluarga saya.
Beliaupun menolak mentah-mentah untuk mengawinkan
putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya
dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya
sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.
Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya
menolak pernikahan ini terjadi karena alasan status
sosial , sedangkan keluarga dia menolak karena alasan
membela kehormatan.
Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata,
beratap dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak
memiliki kesejukan cinta?
Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk
mengakhiri penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis
yang saya cintai itu ke kantor ma’dzun syari (petugas
pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku. Kami
berikan identitas kami dan kami minta ma’dzun untuk
melaksanakan akad nikah kami secara syari’ah mengikuti
mahzab imam Hanafi. Ketika Ma’dzun menuntun saya,
“Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima nikah
kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan
mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai
mahzab Imam Abu Hanifah.”
Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia
dan air mata 3 sahabat saya yang tahu persis detail
perjalanan menuju akad nikah itu. Kami keluar dari
kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata
Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya
agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya
penderitaan ini belum berakhir. Seperti yang saya
duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami
membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di
depan mata. Begitu mencium pernikahan kami, saya
diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan segala
fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa
membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa
potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja! Itulah
sisa uang yang saya miliki sehabis membayar ongkos
akad nikah di kantor ma’dzun.
Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh
keluarganya. Lebih tragis lagi ia hanya membawa tas
kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound, tak
lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2
dolar!!!
Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound?
Kami berdua bertemu di jalan layaknya gelandangan.
Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak
musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih
dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat
mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan
jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang , rasa berdaya
dan hidup menjalari sukma kami.
“Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang
kesengsaraan seperti ini. Maafkan Kanda!”
“Tidak… Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh
benar. Kita telah berpikir benar dan bercinta dengan
benar. Merekalah yang tidak bisa menghargai kebenaran.
Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil.
Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan
tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan
langkah yang kita tempuh ini. Percayalah, insya
Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda
tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita
akan buktikan kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan
jaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat
kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan
kita berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan
menangis haru.
Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya
air mata derita kita saat ini,” jawab isteri saya
dengan terisak dalam pelukan.
Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri
saya. Lahirlah rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut
dan cemas itu sirna seketika. Apalagi teringat bahwa
satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan
sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan
menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.
Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin
menggigit. Kami duduk di emperan toko berdua sebagai
gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam kebekuan, otak
kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak
mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar
pun datang juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami
masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam.
Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi
pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan
kami mencarikan losmen ala kadarnya yang murah.
Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami
disadarkan kembali bahwa kami berada di lembah
kehidupan yang susah, kami harus mengarunginya berdua
dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih
sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat
Allah SWT.
Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai
teman kami berhasil menemukan rumah kontrakan
sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah. Bagi kaum
aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang
sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan
mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka
mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami.
Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun
bentuk rumah itu, jika seorang gelandangan tanpa rumah
menemukan tempat berteduh ia bagai mendapat hadiah
agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang
membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa
tanpa uang jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi
sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk 3 bulan.
Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah
kesana. Lalu kami pergi membeli perkakas rumah untuk
pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah kasur kasar
dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua
kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan
dua cangkir dari tanah, itu saja… tak lebih.
Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu,
kami merasa tetap bahagia, karena kami selalu bersama.
Adakah di dunia ini kebahagiaan melebihi pertemuan dua
orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia adalah
hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang
di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga
Allah menjanjikan cinta. Ah, saya jadi teringat
perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya persetubuhan
cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia
adalah untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang
disediakan oleh Allah di surga. Jika percintaan
suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat
dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa
dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang
diberikan oleh Allah kepada penghuni surga , saat
Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua
penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah
SWT.
Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya
yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Yang konsisten
mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak memperoleh
segala cinta di surga. Melalui penghayatan cinta ini,
kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri
kepada-Nya.
Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur’an, lalu memakai
jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam ia
menjelma menjadi Rabi’ah Adawiyah yang larut dalam
samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia
adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan.
Ia memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian
kuat, ia bertekad untuk hidup berdua tanpa bantuan
siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita
yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25
poud yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup
untuk makan dan transportasi selama sebulan.
Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat
mencintai kami, dan kamipun mencintai mereka. Mereka
merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup
kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai
ada yang bilang tanpa disengaja,”Ah, kami kira para
dokter itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang
melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya.”
Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak
mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami
menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya saudara
sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar
menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka
karena kami memang dokter yang sibuk. Ada yang
membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu
membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan
pertolongan- pertolongan mereka.
Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya
perlakuan yang kami terima dari keluarga kami sendiri.
Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali
untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih
menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.
Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba
rumah kami digedor dan didobrak oleh 4 bajingan
kiriman ayah saya. Mereka merusak segala perkakas yang
ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan,
begitu juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur
satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan
memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar
dengan ancaman, “Kalian tak akan hidup tenang, karena
berani menentang Tuan Pasha.”
Yang mereka maksudkan dengan Tuan “Pasha” adalah ayah
saya yang kala itu pangkatnya naik menjadi jendral.
Ke-empat bajingan itu pergi. Kami berdua berpelukan,
menangis bareng berbagi nestapa dan membangun
kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang hancur.
Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, kami
masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang
sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku
yang berantakan. Meja dan kursi yang rusak itu
berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur kecapaian
dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya
genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang
meringankan intimidasi hidup ini.
Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan
membiarkan kami hidup tenang. Saya mendapat kabar dari
seorang teman bahwa ayah telah merancang skenario keji
untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita
tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen
militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa
saja dan undang-undang berada di telapak kaki mereka.
Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar
hal itu.
Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan
tidak mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah
seorang teman karibku berhasil memperdaya beliau
dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar
menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk
bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab
kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan
menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad.
Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap
pekan sambil meminta beliau sabar, sampai berhasil
meyakinkan saya untuk mencerai isteriku. Inilah
skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu,
sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana
kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan segala
sesuatu lebih matang.
Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib
militer. Selama satu tahun penuh saya menjalani wajib
militer. Inilah masa yang saya takutkan, tidak ada
pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound
setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan
jiwa yang sangat saya cintai. Nyaris selama 1 tahun
saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan
isteri tercinta.
Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga
keselamatan hamba-hamba- Nya yang beriman. Isteri saya
hidup selamat bahkan dia mendapatkan kesempatan magang
di sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami. Jadi
selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan
rahmat Allah SWT.
Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan
segenap rasa rindu kepada kekasih hati. Saat itu
adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam
itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih
bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala
cintanya. Saya teringat puisi seorang penyair
Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan
pendamping setia & lepas dari belenggu derita:
Sambil menatap kaki langit
Kukatakan kepadanya
Di sana … di atas lautan pasir kita akan berbaring
Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba
Bukan karna ketiadaan kata-kata
Tapi karena kupu-kupu kelelahan
Akan tidur di atas bibir kita
Besok, oh cintaku… besok
Kita akan bangun pagi sekali
Dengan para pelaut dan perahu layar mereka
Dan akan terbang bersama angin
Seperti burung-burung
Yah… saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya
istirahat dari nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi
itu kepada istri tercinta. Namun dia ternyata punya
pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk
program Magister bersama!
“Gila… ide gila!!!” pikirku saat itu. Bagaimana
tidak…ini adalah saat paling tepat untuk pergi
meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai
dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan
keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istri saya
tetap bersikukuh untuk meraih gelar Magister dan
menjawab logika yang saya tolak:
“Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita
dan mendapat tawaran dari Fakultas sehingga akan
mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar
sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta
dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah
menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk sum-sum
penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis
kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita.”
Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan
keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan
tekad baja istriku, hatiku pun luluh. Kupenuhi
ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan
kekuatan jiwanya.
Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan
mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih
menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan
kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku,
dll. Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya
dengan roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih
berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari
kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia
kami adalah air keran.
Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami
belajar bersama dalam suatu malam sampai didera rasa
lapar yang tak terperikan, kami obati dengan air. Yang
terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk
beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.
Siang hari, jangan tanya… kami terpaksa puasa. Dari
keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan
keikhlasan.
Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami
tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak
pernah saya melihat istri saya mengeluh, menagis dan
sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia
menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi
dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan
melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup
mewah, tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya
gelandangan.
Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya,
dia yang asalnya hidup nyaman dengan keluarganya,
harus hidup menderita di rumah kontrakan yang kumuh
dan makan ala kadarnya.
Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana
mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya
tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, hormat, dan
cinta yang mendalam padanya.
Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak
di depan saya adalah wajah istri saya yang lagi serius
belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada
bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan
mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya
penuh cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah
demikian, penderitaan terlupakan semua. Rasanya
kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini.
“Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang…”
bisiknya mesra sambil tersenyum.
Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.
Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami
berdua meraih gelar Magister dengan waktu tercepat di
Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami belum keluar
dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami
masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak
ada istilah makan enak dalam hidup kami.
Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah
usaha keras, kami berhasil meneken kontrak kerja di
sebuah rumah sakit di Kuwait . Dan untuk pertama
kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka,
kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di
rumah yang mewah, merasakan kembali tidur di kasur
empuk dan kembali mengenal masakan lezat.
Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa
berlantai dua di Heliopolis , Kairo. Sebenarnya, saya
rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki rumah
yang layak. Tetapi istriku memang ‘edan’. Ia kembali
mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan
program Doktor Spesialis di London, juga dengan logika
yang sulit saya tolak:
“Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita
telah kita lalui, dan kita kini memiliki uang yang
cukup untuk mengambil gelar Doktor di London . Setelah
bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya
kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil
merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah
sakit telah menyediakan dana tambahan.”
Kucium kening istriku, dan bismillah… kami berangkat
ke London . Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami
berdua berhasil menggondol gelar Doktor dari London .
Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis
jantung.
Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami
meneken kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar
biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai direktur
rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami
juga mengajar di Universitas.
Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan
cerdas. Saya namai dia dengan nama istri terkasih,
belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan duka, yang
tiada henti mengilhamkan kebajikan.
Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo
setelah sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah
Haram. Kami kembali laksana raja dan permaisurinya
yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami
hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih
dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara.
Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur
kami kepada Allah swt dan bertambahlan rasa cinta
kami.
Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat
hidup. Jika hadirin sekalian ingin tahu istri saleha
yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan
tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama
sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah
wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan
kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda
Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan
bahwa penderitaan bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof
Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz…”
Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video
menyorot sosok perempuan separoh baya yang tampak
anggun dengan jilbab biru. Perempuan itu tengah
mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata
Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru
kedua mempelai, dan segenap hadirin yang menghayati
cerita ini dengan seksama.
(*)My comment:
Cerita ini di kirim oleh seorang teman from tangerang
wh_kuningan[at]yahoo[dot]com
Sekian lama kucari-cari siapakah penulisnya ![]()
Baru beberapa bulan terakhir ini ku temukan.
Ternyata cerita ini hasil karya Habiburrohman El Shirozy.
Yang di terbitkan dalam buku “Di atas Sajadah Cinta”.
Mau cerita serupa ya beli atuh bukunya
izin berkunjung …