Tanah Warisan 003

Tanah Warisan 003
09/08/2001

Laki-laki tua itu tidak menyahut. Kedipan matanya sajalah yang
seolah-olah berteriak menyuruh orang-orang itu pergi segera dari
rumahnya.
“Jangan terlampau kikir.” kata Wanda Geni kemudian.
“Semua harta bendamu itu tidak akan dapat kau bawa mati. Bukankah
umurmu sudah menjelang enampuluh lima tahun.”
Laki-laki tua itu mengangguk.
“Nah, seharusnya kau sudah tidak memikirkan harta benda lagi. Kau
buang sajalah semua kekayaanmu, supaya tidak membuat jalanmu menjadi
gelap.”
Sekali lagi Wanda Geni tertawa. Kemudian direbutnya pendok yang masih
dipegang oleh laki-laki tua itu. Dengan suara menggelegar Wanda Geni
kemudian berkata. “Baik-baiklah di rumah. Aku minta diri.” Tanpa
menunggu jawaban, orang berkumis itu segera melangkah keluar, turun
kehalaman dan langsung meloncat ke punggung kudanya.
Sejenak kemudian terdengarlah ledakan cambuk disusul dengan derap kuda
menjauh. Tetapi kuda-kuda itu akan segera berhenti lagi, memasuki
halaman rumah yang lain dan memeras penghuni-penghuninya sambil
menakut-nakutinya dengan ujung parangnya.
Sepeninggal orang-orang berkuda itu, barulah istri laki-laki tua yang
kehilangan pendoknya bersama anak gadisnya berani keluar dari
persembunyiannya. Dengan tubuh gemetar mereka bertanya, apa saja yang
telah dibawa oleh orang- orang berkuda itu.
“Syukurlah,” berkata isterinya. “Kalau hanya sebuah pendok, kita akan
merelakannya. Seribu kali rela.” “Huh,” potong laki-laki tua itu. “Aku
menabung sejak aku masih muda.”
“Tetapi masih ada yang lain yang tinggal di rumah ini,” berkata
isterinya.
“Lihat, kelak mereka akan kembali dan kembali lagi. Semua kekayaan
kita akan dikurasnya sampai habis.”
“Tetapi itu lebih baik daripada nyawa kita yang diambilnya.”
Laki-laki tua itu menarik nafas dalam. “Tetapi ini tidak dapat
berlangsung terus menerus,” geramnya. “Lalu, apakah yang dapat kita
lakukan? Apakah kita akan mengungsi saja?”
“Tidak ada tempat lagi di kolong langit ini. Orang-orang besar saling
berebut kekuasaan, maka kita kehilangan perlindungan. Orang-orang yang
merasa dirinya kuat, berbuat sewenang-wenang untuk kepentingan diri
mereka sendiri. Seperti apa yang dilakukan oleh orang yang menyebut
dirinya Panembahan Sekar Jagat.”
Laki-laki itu berhenti sejenak, lalu, “Sepanjang umurku baru sejak
Pajang menjadi kisruh itulah aku mendengar nama Panembahan Sekar
Jagat. Kalau keadaan tidak segera menjadi baik, maka akan timbul pula
ditempat lain orang-orang serupa itu, yang dapat saja menyebut dirinya
Ajang Sekar Langit, atau Kiai Ageng Sekar Langit atau apa saja.”
Istri dan anak gadisnya tidak menyahut. Namun ketakutan yang sangat
telah membayang di wajah mereka. Dengan suara tertahan-tahan isterinya
berkata sekali lagi, “Kita mengungsi dari tempat ini. Kita mencari
tempat yang paling aman. Kita akan dapat hidup tentram meskipun tidak
sebaik ditempat ini.”
“Sudah aku katakan, tidak ada tempat yang baik saat di Bumi Pajang
telah menjadi panas. Sebentar lagi Pajang akan meledak, dan Mataram
akan menjadi bara yang terlampau panas. Semua tempat akan mengalami
gangguan serupa. Tidak ada seorang prajuritpun yang sempat melindungi
rakyatnya dari gangguan orang-orang gila macam Panembahan Sekar Jagat
itu.”
Isterinya tidak segera menyahut. Ia tidak dapat membayangkan,
bagaimanakah bentuk harapan suaminya itu. Karena itu, maka ia hanya
dapat menundukkan kepalanya sambil memeluk anaknya.
“Sudahlah nyai,” berkata laki-laki tua itu.
“Sementara ini kita tidak akan diganggu lagi, sampai saatnya iblis itu
datang dibulan depan. Aku kira mereka akan memerlukan sesuatu lagi
dari padaku dan orang-orang lain yang dianggapnya cukup di Kademangan
ini. Sekarang beristirahatlah. Berlakulah seperti biasa. Tidak ada
apa-apa. Setidak-tidaknya untuk sebulan mendatang.”
Isterinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian bersama anaknya
mereka pergi ke ruang belakang.
Di serambi belakang beberapa orang pembantu dan pelayan, menggigil
ketakutan tanpa dapat berbuat sesuatu.
Demikianlah maka sepanjang hari itu, Wanda Geni memasuki beberapa
rumah untuk mengambil apa saja yang dianggapnya berharga. Setelah
kerja itu dianggapnya selesai, maka kuda-kuda mereka pun segera
berderap pergi meninggalkan desa itu di dalam ketakutan dan kecemasan.
Sepeninggal orang-orang berkuda itu, beberapa orang laki-laki yang
bersembunyi bertebaran di gerumbul-gerumbul liar, saling bermunculan.
Dengan tergesa-gesa mereka pulang ke rumah-rumah masing-masing. Mereka
ingin segera tahu, apakah rumah-rumah mereka pun telah didatangi pula
oleh Wanda Geni. Terutama yang merasa mempunyai simpanan sesuatu di
dalam rumahnya.

Leave a Reply