Tanah Warisan 004
Tanah Warisan 004
10/08/2001
Ketika orang-orang berkuda itu berpacu lewat dimuka regol rumah tua,
tempat perempuan tua itu tinggal, terdengar salah seorang dari mereka
sempat berteriak.
“He Nyai Pruwita, kenapa kau tidak menyambut
kedatangan kami?”
Perempuan tua, penghuni rumah yang kotor dan rusak, yang dipanggil
Nyai Pruwita, menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak berani keluar dari
rumahnya, meskipun ia tahu bahwa orang-orang berkuda itu tidak akan
memasuki rumahnya karena tidak ada sesuatu yang akan dapat mereka
ambil. Meskipun demikian, berita yang didengarnya sedikit-sedikit
tentang orang-orang berkuda itu telah membuatnya menjadi ngeri.
“Sebenarnya lebih baik bagiku untuk tidak melihat apa saja yang
terjadi di Kademangan ini,” desisnya.
Tetapi perempuan tua itu tidak dapat pergi dari rumahnya. Apapun yang
terjadi di desa itu, apapun yang dialaminya, baik yang ditimbulkan
oleh ketakutannya tentang orang-orang berkuda, maupun sikap
orang-orang Kademangan itu sendiri tidak terlampau baik kepadanya,
juga betapapun rumahnya telah menjadi onggokan kayu bakar yang tidak
berarti, ia akan tetap tinggal di rumah itu.
Di halaman yang luas itu. Karena rumah itu adalah rumah peninggalan.
Tanah yang didiaminya itu adalah Tanah Warisan.
“Aku ingin mati di dalam rumah ini,” desisnya setiap kali.
“Meskipun seandainya aku akan tertimbun oleh atapnya yang roboh karena
hujan atau angin.”
Panggilan orang-orang berkuda itu ternyata telah menumbuhkan
kebanggaannya kepada orang yang bernama Pruwita. Seorang laki-laki
tampan, tegap dan berani. Tetapi laki-laki itu telah mati. Laki-laki
itu di masa hidupnya adalah suaminya. Kemudian dikenangnya kedua
anaknya laki-laki. Kedua anaknya telah pergi meninggalkannya ketika
mereka masih terlampau muda. Bahkan masih kanak-kanak. Tanpa
diketahuinya kemana mereka itu pergi.
Kini, ia hidup sendiri menunggui sebuah halaman yang luas di rumah
yang besar. Namun keadannya tidak lagi seperti beberapa puluh tahun
yang lalu. Rumah itu sudah tidak lagi memancarkan sesuatu, selain
wajah perempuan tua yang cekung dan dalam. Tetapi meskipun perempuan
yang bernama Nyai Pruwita itu, seakan-akan hidup terpisah dari
orang-orang disekitarnya, namun ia dapat merasakan kegelisahan yang
sangat telah membakar Kademangannya.
Orang-orang yang paling penting, yang dianggapnya paling kuat
diseluruh Kademangan, tidak berdaya untuk melindungi rakyatnya dari
sentuhan jari-jari orang yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat.
Demikianlah perempuan tua yang bernama Nyai Pruwita itu hidup terasing
di dalam masyarakat yang sedang dibayangi oleh ketakutan, kengerian
dan kecemasan. Sehingga dengan demikian, maka terasa hidupnya menjadi
semakin sepi. Rumahnya yang besar dan halamannya yang luas menjadi
semakin lama semakin suram. Tetapi tanah itu tidak akan
ditinggalkannya, sampai maut merabanya.
Tanah warisan itu akan ditungguinya sampai akhir hayatnya.
“Kalau saja, anak-anak itu ingat kembali kepada Tanah ini,” katanya
setiap kali di dalam hatinya.
“Mereka pasti akan datang. Mudah-mudahan umurku masih sempat melihat
salah seorang atau bahkan kedua-duanya kembali ke rumah ini.”
Dan setiap kali perempuan itu berdoa sambil menyesali segala kesalahan
yang pernah dilakukannya.
Dalam pada itu, orang-orang berkuda yang dipimpin oleh Wanda Geni
telah menjadi semakin jauh dari Kademangan yang telah dijadikan
korbannya. Kademangan Candi Sari.
Dengan gembira mereka kembali kepada pimpinan tertinggi mereka yang
menyebut dirinya Panembahan Sekar langit, karena mereka merasa bahwa
perjalanan mereka kali ini cukup memberi harapan untuk mendapatkan
kepercayaan yang lebih besar lagi dari Panembahan Sekar Jagat.
Dengan demikian, maka mereka tidak menaruh perhatian sama sekali
ketika mereka melihat seseorang berdiri tegak di atas pematang sawah
di pinggir jalan yang mereka lalui.
Hanya sekali Wanda Geni melihat seorang anak muda dengan pakaian yang
kusut, memandang orang-orang berkuda itu dengan penuh keheranan.
Selebihnya, anak muda itu tidak menarik sama sekali. Namun sebaliknya,
orang-orang berkuda itulah yang telah menarik perhatian anak muda itu.
Berbagai macam pertanyaan telah menyentuh dinding hatinya. Tetapi ia
sama sekali tidak berbuat sesuatu selain memandanginya sampai hilang
di belakang debu putih yang mengepul dari bawah kaki-kaki kuda mereka.
Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya
dipandanginya langit yang telah menjadi kemerah-merahan. Matahari
telah menjadi semakin rendah di arah barat.
“Kademangan itu hampir tidak berubah,” desisnya.
Posted on November 7th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 291 Views





on August 27th, 2011 at 2:04 pm Said:
izin menyimak ya