Tanah Warisan 005

Tanah Warisan 005
11/08/2001

TANPA sesadarnya anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kemudian ia bergumam lagi. “Pohon preh itu adalah pohon kira-kira
sepuluh tahun yang lampau.”
Perlahan-lahan kepalanya terangguk-angguk. Kemudian kakinya yang kotor
oleh debu, mulai bergerak-gerak terayun selangkah mendekati padukuhan
induk Kademangan Candi Sari. Tetapi anak muda itu tidak segera masuk
ke dalam pedukuhan itu. Sejenak ia masih dibayangi oleh keragu-raguan.
Karena itu, maka kemudian, sambil beristirahat ia ingin melihat,
apakah ia masih berhak untuk memasuki desa itu kembali. Perlahan-lahan
diletakkannya dirinya, duduk di bawah pohon preh disimpang tiga,
beberapa patok dari desa yang terbentang dihadapannya. Diikutinya
setiap gerak yang tertangkap oleh matanya. Anak-anak yang berlari
sambil membawa binatang yang baru saja digembalakannya. Orang-orang
tua yang pulang dari sawah, dan anak-anak muda yang kembali, setelah
mereka bersembunyi digubug-gubug dipategalan mereka.
Tiba-tiba dadanya berdesir ketika ia melihat seorang gadis lewat
beberapa langkah didepannya sambil menjinjing sebuah wakul. Agaknya ia
baru pulang dari sawahnya, memetik lembayung. Sekilas anak muda itu
merasa bahwa ia pernah mengenal gadis itu. Tentu saja semasa
kanak-kanak. Hampir sepuluh tahun yang lampau. Tanpa sesadarnya
tiba-tiba ia berdiri dan melangkah mengikutinya. Dan hampir tanpa
sesadarnya pula ia memanggil. “Ratri.”
Gadis itu terkejut, sehingga langkahnya pun terhenti. Ketika ia
berpaling dilihatnya seorang anak muda berdiri tegak dibelakangnya.
Sejenak gadis yang bernama Ratri itu berdiri dengan tegangnya. Ia
tidak segera dapat mengenal, siapakah yang telah memanggilnya itu.
“Kau tentu saja tidak mengenal aku lagi bukan Ratri?,” bertanya anak
muda itu.
Ratri mencoba mengingat-ingat. Namun akhirnya bibirnya yang tipis itu
bergerak menyebut sebuah nama, “Panggiring.”
Tetapi sekali lagi Ratri terkejut ketika ia melihat wajah itu
benar-benar berkerut-kerut. Bahkan tampaklah bahwa anak muda itu
menjadi kecewa. Sambil menggelengkan kepalanya ia menjawab, “Bukan
Ratri. Aku bukan Panggiring anak setan itu.”
“Oh,” Ratri menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, “Jadi kau,
adiknya. Bramanti.”
Kepala anak muda itu terangguk lemah. Terdengar suaranya parau. “Ya,
aku Bramanti.”
“Aku hampir tidak dapat mengenalmu lagi Bramanti,” berkata Ratri
sambil melangkah mendekat.
“Kau sudah sedemikian besar dan gagah. Kemanakah kau selama ini? Kau
dan kakakmu Panggiring telah hilang dari Pedukuhan kami lebih dari
sepuluh tahun yang lampau. Wajahmu benar-benar mirip dengan wajah
kakakmu. Dimana kita masih kanak-kanak, tidak terlampau sulit
membedakan, yang manakah Panggiring dan yang manakah Bramanti, karena
umurmu terpaut agak banyak dari kakakmu. Tetapi wajah itu sukar
dibedakan kini.”
“Apakah kau pernah melihat Panggiring akhir-akhir ini?” bertanya
Bramanti.
Ratri menggeleng, “Tidak. Tetapi menurut bayangan angan-anganku,
wajahnya tidak terpaut banyak dengan wajahmu. Apalagi kau tampak jauh
lebih tua dari umurmu”.
Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya. Aku bekerja berat selama
ini. Tetapi bukankah Panggiring pergi jauh lebih dahulu dari
kepergianku.”
Ratri mengingat-ingat sebentar. Jawabannya kemudian. “Ya. Aku ingat
sekarang. Panggiring memang pergi lebih dahulu dari padamu. Waktu itu
aku masih terlampau kecil. Karena itulah maka aku tidak begitu ingat
lagi akan wajah itu. Tetapi wajah itu benar-benar seperti wajahmu
sekarang. Bahkan semasa kecil wajahmu itu tidak seperti wajahmu kini.”

3 Responses to “Tanah Warisan 005”

  1. wah menuh-2in tempat di http://blogger.batamweb.net :)

  2. mas jaz: mbok yo agak di edit dikit biar agak enak di lihat posisi tulisannya :)
    pasti lembur untuk memposting tulisan ini yah kang

  3. sip nanti Djok, tapi ya itu lihat document-nya aja udah pusing, lha buanyuak suekali :):):)

Leave a Reply