Tanah Warisan 006

Tanah Warisan 006
12/08/2001

Bramanti menjadi semakin tunduk. Terbayang sekilas di rongga matanya wajah kakaknya, Panggiring yang kini sama sekali tidak diharapkannya untuk bertemu lagi. “Dan sekarang,” terdengar suara Ratri, “Apakah kau akan pulang ke rumah yang sudah kira-kira sepuluh tahun kau tinggalkan itu?” Bramanti mengangguk lemah.

Jawabnya, “Ya, aku akan pulang ke rumah itu. Ibuku masih ada di dalam rumah itu.” Namun tiba-tiba Bramanti mengangkat wajahnya, “Bukankah ibuku masih ada di rumah itu?” Ratri mengangguk. Jawabnya, “Ya, ibumu masih tinggal di rumah itu.” Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ibu pasti sudah menjadi tua.” “Seperti kau Bramanti. Ibumu tampak jauh lebih tua dari umurnya yang sebenarnya.”
“Aku dapat membayangkan. Betapa berat beban hidupnya. Sementara sumber
penghasilannya sudah habis sama sekali.”
Ratri mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kedatanganmu pasti akan menjadi
obat keprihatinannya selama ini.”
“Ya, aku mengharap demikian.”
“Tentu, sudah tentu,” potong Ratri.
Tetapi yang Ratri masih akan berbicara terus itu tertegun. Didengarnya
seorang memanggilnya, “Ratri, he apa yang sedang kau lakukan?”
Barulah gadis itu sadar, bahwa ia bukan Ratri yang dahulu. Yang masih
pantas bermain berkejaran dengan Bramanti. Dan Bramanti itu pun bukan
Bramanti yang dahulu pula. Ia kini seorang anak muda yang sudah
dewasa. Karena itu, maka tiba-tiba wajahnya menjadi merah. Sambil
menundukkan kepalanya ia berkata, “Maaf Bramanti. Aku dipanggil ayah.”
“Ayahmu datang ke mari Ratri.”
“Oh,” Ratri mengangkat wajahnya memandang ke ayahnya yang dengan
tergesa-gesa mendekatinya. “Dengan siapa kau berbicara he?,” bertanya
ayahnya.
“Anak yang sudah lama hilang dari permainan dipadukuhan kami ayah.
Kini ia kembali.”
“Siapa,” orang tua itu mencobanya mengamat-amati wajah Bramanti,
tetapi ia tidak segera dapat mengenalnya. “Aku tidak mengenal anak
ini.”
“Tentu ayah mengenalnya. Tetapi agaknya ayah tidak punya waktu untuk
mengenal wajah anak-anak waktu itu. Kira-kira sepuluh tahun yang
lalu.”
“Oh, sepuluh tahan yang lalu.”
“Ya ayah. Inilah Bramanti putera paman Pruwita”.
“He?” orang tua itu mundur selangkah. “Jadi kau anak Pruwita?”
“Ya paman,” sahut anak muda yang bernama Bramanti itu.
“Oh, anak Pruwita sudah sebesar kau ini?”
“Ya paman,” anak muda itu mengangguk pula.
Bramanti menjadi heran ketika wajah orang tua itu semakin tegang.
Tiba-tiba ia meraih tangan anak perempuannya dan menariknya sambil
berkata. “Marilah. Jangan berhubungan lagi dengan anak muda itu,” Lalu
kepada Bramanti ia berkata, “Aku tidak mempunyai sangkut paut dengan
Pruwita.”
“Ayah,” potong Ratri, “Kenapa dengan ayah?”
Tetapi orang tua itu menarik tangan Ratri, “Marilah. Marilah.”
Ratri tidak dapat membantah lagi. Sambil berlari-lari ia mengikuti
langkah ayahnya, karena tangannya masih juga ditarik oleh ayahnya itu.
Bramanti berdiri kebingungan. Kenapa ayah Ratri itu bersikap demikian
terhadapnya? Anak muda itu kemudian menundukkan kepalanya. Ia mencoba
mengerti akan sikap itu. Dicobanya untuk mengenang, apa saja yang
pernah dilakukan oleh ayahnya di masa kecilnya. “Ayah memang bukan
seorang yang terlampau baik,” katanya di dalam hati.
“Tetapi ia dahulu seorang yang kaya, seorang yang disegani, diluluti
oleh tetangga. Namun ketika ayah menjadi miskin, serentak mereka
menjauhkan dirinya. Dan bahkan ayah harus mati dalam keadaan yang
paling menyedihkan.”
Bramanti menggeram. Diangkatnya wajahnya. Dengan sorot mata yang
berapi-api ia memandang padukuhan yang terbentang dihadapannya.
Semakin lama menjadi semakin kabur, karena cahaya matahari menjadi
semakin suram dan bahkan kemudian menjadi merah kehitam-hitaman. “Aku
akan pulang. Apapun yang akan terjadi,” geramnya.
Tiba-tiba langkahnya justru menjadi tegap. Dadanya tengadah dan
matanya memandang lurus ke depan. Dengan tidak menghiraukan apapun
lagi ia berjalan kemulut lorong desanya. Satu dua ia masih bertemu
dengan orang-orang yang terlambat pulang dari sawah. Tetapi
orang-orang itu sama sekali tidak memperhatikannya. Orang-orang itu
pada umumnya sudah tidak dapat mengenalnya lagi. Tetapi langkahnya
kemudian tertegun pula ketika ia sudah berdiri diregol halaman
rumahnya yang rusak.
Terasa sesuatu menyangkut dikerongkongannya. Rumah ini seolah-olah
telah menjadi rumah hantu. Gelap dan mengerikan.
Halamannya pun sudah tidak ubahnya lagi dengan sebuah hutan kecil yang
pekat dengan berbagai macam pepohonan liar.

Leave a Reply