Tanah Warisan 007
13/08/2001 Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dipaksanya kakinya melangkah memasuki halaman yang kotor ini. Yang pertama-tama disentuhnya, adalah sarang labah-labah yang menyangut diwajahnya. Perlahan-lahan Bramanti melangkah menunju ke tangga pendapa. Pendapa itu masih juga berdiri, diatas tiang yang kokoh kuat. Saka guru yang hampir sepemeluk besarnya, kemudian
tiang-tiang yang lain masih juga tampak kuat. Tetapi ketika ia menengadah, maka atap rumah itu sudah dipenuhi oleh lubang-lubang sebesar kelapa.
“Selama ini ibu tinggal seorang diri di rumah ini,” desisnya. Apabila
ketika diingatnya sikap ayah Ratri terhadapnya. Maka desisnya, “Apakah
demikian pula sikapnya terhadap ibu?”
Pertanyaan itu telah mendorongnya semakin cepat menaiki tangga
pendapanya dan langsung menunju pintu pringgitan. Dari lubang-lubang
dinding gebyog yang retak ia melihat seleret sinar yang
kemerah-merahan menerangi ruangan dalam rumah itu.
Dengan tangan gemetar ia mengetuk pintu rumahnya. Perlahan-lahan,
kemudian semakin lama semakin keras.
“Siapa di luar?” terdengar suara parau seorang perempuan.
Bramanti akan menyahut. Tetapi sesuatu terasa menyumbat kerongkongan,
sehingga ia harus mendehem beberapa kali.
“Siapa di luar?” terdengar suara itu sekali lagi.
“Aku, aku,” suara Bramanti pun gemetar pula.
“Aku siapa?”
“Aku ibu, Bramanti.”
“He,” perempuan tua yang sudah berbaring dipembaringannya itu
terloncat berdiri. Tetapi ia tidak segera percaya kepada
pendengarannya. Sekali lagi ia bertanya, “Siapa di luar?”
“Bramanti ibu.”
“Bramanti, Bramanti,” perempuan itu kemudian berlari sehingga hampir
saja ia jatuh terjerembab ketika kakinya menyentuh sudut
pembaringannya. Dengan tergesa-gesa dibukanya selarak pintu rumahnya.
Ketika pintu rumah itu terbuka, sepercik cahaya lampu minyak meloncat
keluar, mengusap wajah anak muda yang berdiri dengan kaki gemetar di
muka pintu yang sudah sepuluh tahun ditinggalkannya. “Bramanti,” suara
perempuan itu seolah-olah menyangkut dikerongkongannya pula.
Anak muda itu tidak sempat menjawab, ketika tiba-tiba saja perempuan
tua itu memeluknya. Menciumnya seperti masa kanak-kanaknya dahulu.
Terasa setitik air mata hingga dipundaknya yang bidang. “Kau akhirnya
pulang ngger.”
“Ya ibu. Aku harus pulang. Tidak ada tempat lain yang paling baik
buatku daripada tanah ini. Daripada rumah ini dan halaman ini.”
“Ya, ya ngger. Aku memang sudah menyangka bahwa kau akan pulang.
Karena itu, betapa hatiku pedih, aku tetap tinggal di rumah ini sambil
menunggumu”.
“Sekarang aku sudah pulang. Ibu tidak akan sendiri lagi. Aku akan
membantu ibu dalam kerja sehari-hari. Aku akan membersihkan halaman.
Memperbaiki rumah kita yang rusak”.
“Tentu. Tentu Bramanti. Kau tidak boleh pergi lagi. Kau harus tinggal
dirumah ini apapun yang terjadi. Karena rumah ini, halaman ini, adalah
rumah kita. Tanah ini adalah Tanah Warisan yang tidak akan dapat
dimiliki oleh orang lain. Meskipun aku hampir mati kelaparan, tetapi
tanah ini tidak akan aku serahkan kepada siapapun dengan ganti apapun
lagi.”
Bramanti tidak menjawab. Yang terdengar kemudian adalah isak tangis
ibunya sambil menariknya masuk. Dengan suara yang patah-patah
perempuan tua itu berkata. “Marilah Bramanti. Masuklah. Jangan kau
tinggalkan lagi rumah kita ini”.
Bramanti pun kemudian masuk ke dalam ruang yang sudah lama
ditinggalkannya itu. Setelah menutup pintu dan memasang selaraknya
kembali, Bramanti mengamat-amati setiap sudut ruangan. Tiang-tiang itu
masih juga berdiri dengan kokohnya. Kayu-kayu nangka yang
kekuning-kuningan. Gebyog yang masih kuat meskipun kotor. Seperti
pendapa rumah itu, yang paling parah adalah atapnya.
“Tetapi tidak sulit untuk memperbaikinya,” desisnya di dalam hati. Aku
akan mencari ijuk, kemudian untuk sementara, sebelum sempat membuat
atap kayu, biarlah aku sulami saja dengan ijuk.”
Bramanti terkejut ketika ia mendengar suara ibunya. “Duduklah ngger.
Inilah rumahmu sekarang.” “Biarlah bu,” jawab Bramanti, “Besok aku
akan memperbaikinya. Aku akan membuat rumah ini seperti rumah kita
beberapa puluh tahun yang lampau.”
“Oh,” perempuan itu mengangkat wajahnya, namun kesan yang dengan
tiba-tiba membayang, segera lenyap. Bahkan ia pun kemudian tersenyum,
“Ya ngger. Kau harus memperbaiki rumah ini. Betapapun kesan
orang-orang disekitar kita.”
Posted on November 10th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 647 Views





Leave a Reply