Tanah Warisan 008

14/08/2001  Sekali lagi lewat sekilas ingatannya tentang sikap ayah Ratri
kepadanya.  Tetapi tidak bijaksana baginya apalagi ia segera bertanya.
Ia tidak akan merusak suasana pertemuan yang membuat dadanya serasa
menjadi retak.
Ketika ibunya kemudian pergi ke dapur menjerang air, maka Bramanti
berjalan berputaran di dalam setiap ruang rumahnya. Tidak ada yang
berubah, selain menjadi kotor dan rusak. Tetapi sesuatu telah
mengembang di dalam hatinya. Aku akan menjadikan rumah ini seperti
beberapa puluh tahun yang lampau. Semasa ayah masih seorang yang kaya
raya.
Setelah minum beberapa teguk dan mandi di sumur di belakang rumah,
maka Bramanti kemudian berceritera tentang dirinya. Pengalamannya
selama ia meninggalkan rumah ini. “Orang tua itu sangat baik bu,”
katanya.
“Aku tinggal di rumahnya seperti aku tinggal di rumah sendiri. Aku
dianggapnya sebagai anaknya. Apalagi orang tua itu memang tidak
mempunyai seorang anakpun”.
“Tuhan menuntun jalanmu sampai ke rumah yang baik itu ngger.”
“Ya ibu,” jawab Bramanti.
“Aku diketemukannya di pinggir sungai ketika aku beristirahat.
Hampir-hampir aku mati kelaparan. Tetapi Tuhan masih melindungi aku.”
“Bersyukurlah ngger,” sahut ibunya.
“Lalu apakah katamu ketika kau bermaksud pulang ke rumah ini?”
“Aku berkata terus terang. Aku rindu kepada ibu, kepada rumah ini dan
kepada tanah ini.”
“Apa ia tidak berkeberatan?”
“Tidak ibu. Sama sekali tidak. Ia tidak menganggapku hilang, sebab
setiap saat aku dapat pergi kepadanya atau ia pergi kepadaku, ke rumah
ini.”
“Oh, apakah kau masih akan pergi kepadanya?”
“Maksudku, aku dapat menengoknya untuk sehari dua hari. Lebih baik aku
pergi bersama ibu pada suatu ketika.”
“Senang sekali Bramanti.”
“Tetapi lebih daripada itu ibu, aku telah dipercaya olehnya untuk
mewarisi ilmunya.”
“Ya, ilmu kanuragan. Aku telah mendapat pelajaran tata bela diri
sebaik-baiknya. Aku sangat berterima kasih kepadanya. Kepada
kepercayaan itu.”
“Oh,” tiba-tiba wajah perempuan tua itu menjadi cemas.
“Kenapa kau pelajari ilmu semacam itu ngger?”
“Apa salahnya?”
Perempuan itu tidak menyahut. Tetapi wajahnya menjadi suram,
dilemparkannya pandangan matanya yang sayu ke sudut yang gelap.
Kemudian terdengar suaranya parau. “Ayahmu juga mempelajari ilmu
semacam itu dahulu.”
Bramanti tidak segera menjawab. Ia melihat ibunya justru menjadi kecewa.
Dengan demikian maka sejenak mereka dicekam dalam kesenyapan.
Masing-masing membiarkan angan-angannya meloncat ke saat-saat yang
lampau. Bramanti yang masih kecil saat itu tidak dapat mengerti lebih
banyak lagi, kenapa ayahnya mati terbunuh dalam perkelahian yang tidak
adil. Beberapa orang telah mengeroyoknya beramai-ramai. Betapapun
tinggi ilmu ayahnya itu, namun untuk menghadapi beberapa orang yang
berilmu pula, agaknya ia tidak mampu. Kekuatan lawan-lawannya berada
di luar kemungkinan perlawanannya. Sehingga akhirnya ia harus terkapar
mati berlumuran darah.
Dan Bramanti yang kecil itu sudah tidak tahu bahwa di antara mereka
yang membunuh ayahnya adalah orang-orang padukuhan ini sendiri. Tetapi
ibunya sudah dapat menangkap lebih banyak persoalan daripada Bramanti
yang kecil. Perempuan itu tahu benar, bahwa perselisihan itu timbul di
lingkaran judi. Dalam perselisihan yang demikian, maka tidak ada
seorang pun yang mampu menahan hatinya lagi. Dan terjadilah akibat
yang mengerikan itu. Suaminya terbunuh.
Masih terbayang di rongga matanya, apa yang terjadi saat itu, seperti
baru kemarin malam. Darah yang merah mengalir dari kening dan pelipis
suaminya. Tiga buah tusukan melubangi dada dan lambungnya. Yang paling
pedih adalah, geremang orang-orang yang melihat peristiwa itu. “Tidak
ada yang dapat disalahkan. Setelah Pruwita menjadi miskin, maka
sifatnya tidak lebih baik dari seekor serigala”.
Dan ternyata kemudian, bahwa akibat yang timbul tidak hanya terhenti
sampai sekian. Meskipun Nyai Pruwita itu telah merasakan, bahwa
orang-orang di sekitarnya, para tetangganya, telah mulai menjauhi
keluarganya, namun sejak meninggalnya suaminya sikap itu menjadi
semakin nyata. Hanya dalam soal-soal yang sangat penting, orang-orang
disekitarnya bersedia menghubunginya. Mereka berbicara kadang-kadang
sekali, sekadar satu dua patah kata.
Dengan demikian maka hidupnya kemudian menjadi terasing. Justru
setelah ia menjadi miskin. Setelah semua kekayaannya satu-satu
mengalir kelingkaran judi.

Perempuan tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ditatapnya wajah
anaknya yang masih tunduk. “Ilmu itu akan selalu membawa malapetaka
ngger,” desisnya kemudian.

Leave a Reply