Tanah Warisan 009
15/08/2001 Bramanti menggeleng. “Tidak selalu ibu. Aku tahu, bahwa orang-orang
yang memiliki ilmu tata bela diri, sering menyalahgunakan ilmunya. Orang-orang yang demikian itulah yang akan tersesat dalam kegelapan dan bahkan malapetaka.
Perempuan itu mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia berdiri dan
melangkah mendekati anaknya yang duduk terpekur. “Bramanti, apakah kau
menyimpan dendam dihatimu atas kematian ayahmu?”
Bramanti terperanjat. Diangkatnya wajahnya dan ditatapnya mata ibunya
yang sayu. Kemudian dengan suara yang mantap ia berkata, “Tidak ibu.
Aku tidak menyimpan dendam didalam hati. Apapun yang telah terjadi
atas ayah, biarlah itu terjadi. Aku tidak akan mempersoalkannya lagi.
Ini bukan berarti aku tidak berbakti kepada orang tuaku. Tetapi tidak
dengan cara itu aku akan menjunjung nama ayah dan keluargaku.
Seleret cahaya memancar dari sepasang mata yang tua itu. Tiba-tiba
perempuan tua itu sekali lagi memeluk anaknya dan mencium keningnya.
“Kau anak baik ngger. Kau benar. Bukan begitu cara yang sebaik-baiknya
untuk berbakti kepada orang tua. Dendam tidak akan menumbuhkan
ketentraman didalam hati dan di dalam keseluruhan hidup ini.
“Ya ibu, begitu jugalah pesan orang yang memungutku menjadi anaknya
dan sekaligus muridnya.”
“Apa pesannya?”
“Aku harus berbuat sebaik-baiknya. Aku harus mengembalikan kewibawaan
ayah dengan cara yang baik. Aku harus bekerja keras, memberikan
suasana yang demikian, akan terhapuslah nama yang kurang baik dari
ayah dan keluargaku. Seandainya ayah memang pernah berbuat salah, maka
aku harus menebus kesalahan itu.”
“Oh,” ibu yang tua itu membelai rambut anaknya yang panjang. “Kau akan
memenuhi idamanku ngger. Kau adalah anak yang terlampau baik. Dengan
demikian akan hilanglah coreng moreng dikening kita.
“Mudah-mudahan aku berhasil ibu.”
“Mudah-mudahan,” dan ibu yang tua itu kemudian melepaskan anaknya,
sambil menghapus air matanya yang meleleh di pipinya yang sudah mulai
berkeriput. Katanya sejenak kemudian, “Baristirahatlah nak. Kau tentu
lelah setelah menempuh perjalanan sehari ini.”
“Ya, aku memang lelah. Tetapi aku belum ingin tidur.”
“O,” ibunya menyahut. “Kalau begitu, aku harus merebus air lagi. Kita
duduk-duduk sambil berbicara apapun. Namun kita harus menyediakan
minum.”
“Ibulah yang nanti menjadi lelah. Bukan aku. Karena itu, biarlah. Aku
tidak terlalu haus.”
“Ah,” desis ibunya. “Biarlah aku merebuskannya untukmu. Untuk
kedatanganmu.”
Tetapi ketika perempuan tua itu berdiri, maka langkahnya menjadi
urung. Bahkan dadanya menjadi berdebar-debar karena ia mendengar
langkah kaki memasuki halaman dan naik ke pendapa rumahnya. Tidak
hanya seorang, tetapi beberapa orang.
Bramanti pun telah mendengarnya pula. Tetapi ia tidak beranjak dari
tempatnya. Hanya sorot matanya sajalah yang seolah-olah bertanya
kepada ibunya, “Siapa mereka?”
Tetapi ibunya masih berdiri diam mematung. Sejenak kemudian terdengarlah pintu rumah itu diketuk orang. Sekali, dua kali, kemudian berkali-kali dan semakin lama semakin keras. Nyai Pruwita, bukalah pintu rumahmu,” terdengar seseorang berteriak di luar pintu.
“Siapakah kalian?” bertanya Nyai Pruwita.
“Bukalah pintu, kau akan mengenal siapa kami.”
Nyai Pruwita menjadi ragu-ragu. Baru siang tadi orang-orang berkuda
memasuki Kademangan ini.
“Cepat Nyai, supaya kami tidak usah merusak pintu rumahmu yang hampir
roboh ini.”
Dalam keragu-raguan Nyai Pruwita memandangi wajah anaknya. Seolah-olah
ia minta pertimbangannya, apakah yang sebaiknya dilakukannya.
Sejenak Bramanti menjadi ragu-ragu. Namun kemudian dianggukkannya
kepalanya.
Tetapi ibunya tidak melangkah menuju ke pintu rumahnya, tetapi ia
meraih kepala anaknya sekali lagi sambil berbisik, “Jangan Bramanti.
Jangan berbuat apa-apa atas mereka. Aku kira mereka bukan orang-orang
jahat yang siang tadi memasuki Kademangan ini. Tetapi mereka adalah
tetangga-tetangga kita yang baik, apapun yang akan dilakukannya.”
“Aku tidak akan berbuat apa-apa ibu. Sudah aku katakan, aku tidak
menyimpan dendam di dalam hatiku.
Nyai Pruwita melepaskan kepala anaknya. Kemudian melangkah
perlahan-lahan menunju ke pintu pringgitan. Perlahan-lahan pula
tangannya yang lemah meraih selarak pintu dan membukanya kembali.
Begitu pintu rumah itu terbuka, maka beberapa orang laki-laki yang
tegap dan beberapa orang anak-anak muda berloncatan masuk. Bahkan
beberapa orang di antara mereka membawa senjata ditangannya.
“Nyai,” berkata salah seorang dari mereka, “Aku dengar, anakmu pulang
kembali ke rumah ini.”
Nyai Pruwita mengerutkan keningnya. Tanpa sesadarnya ia berpaling ke
arah Bramanti yang masih duduk ditempatnya.
“O,” orang itu menyambungnya. “Itukah anakmu yang bernama Bramanti? Ia
sudah cukup dewasa. Tubuhnya kekar dan utuh. Ia sudah pantas mewakili
ayahnya untuk melepaskan dendamnya kepada kami.”
Nyai Pruwita terperanjat mendengar kata-kata itu. Bramanti pun tidak
kalah terperanjat pula. Tetapi segera ia menekan perasaan itu.
Sehingga ia sama sekali tidak beringsut dari tempat duduknya.
(Bersambung)-m
Posted on November 10th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 394 Views





Leave a Reply