Tanah Warisan 010

16/08/2001 “Kalian salah,” Nyai Pruwita hampir berteriak. “Anakku sama sekali
tidak membawa dendam. Ia pulang oleh kerinduannya kepada ibunya,  kepada rumah dan halamannya dan kepada tanah kelahiran. Ia pulang karena ia mencintai semuanya itu. Sama sekali bukan diseret oleh perasaan dendam.” Seorang anak muda melangkah maju sambil tertawa.
Dipandanginya wajah Bramanti yang kemerah-merahan oleh sinar lampu
minyak yang redup. Kau banyak berubah Bramanti. Tetapi aku masih tetap
mengenalimu. Tetapi bukan saja kau yang tumbuh menjadi besar, tetapi
anak-anak yang sebaya dengan kau, kawan-kawanmu bermain di Kademangan
ini pun telah tumbuh pula sebesar kau.”
Bramanti berpaling. Dilihatnya wajah anak muda itu sekilas. Kemudian
perlahan-lahan ia berdiri sambil menjawab, “Ya, kalian telah menjadi
besar pula. Bahkan lebih besar dari aku.”
“Dan orang-orang tua kami disini sudah menjadi bertambah tua. Tetapi
jangan kau sangka bahwa kau akan dapat membalas dendam kepada mereka.
Sebab pada umumnya mereka pun mempunyai anak laki-laki seperti ayahmu
mempunyai anak laki-laki.”
“Maksudmu, kalau aku ingin membalas dendam, maka aku akan berhadapan
dengan anak-anak muda kawanku bermain dahulu?”
“Ya.”
“Kau keliru. Ibuku sudah mengatakan, bahwa aku sama sekali tidak
pulang karena didorong oleh perasaan dendam. Apa yang dapat aku
lakukan atas kalian disini. Aku hanya seorang diri. Bahkan seperti
katamu, bahwa anak-anak muda disinipun telah tumbuh pula menjadi
dewasa.
Apakah yang dapat aku lakukan? Pembalasan dendam bukan suatu
penyelesaian bagiku. Aku tidak ingin hidup dalam kegelisahan seperti
ayah. Aku ingin hidup tenteram bersama ibuku yang telah tua. Aku ingin
berbuat sesuatu yang baik bagiku, bagi keluargaku dan apabila mungkin
bagi Kademangan ini.
Tiba-tiba anak muda itu tertawa. Katanya, “Setiap anak yang menyadari
dirinya, ingin berbakti kepada orang tuanya. Apakah kau tidak akan
berbuat demikian? Apakah kau tidak ingin membuat ayahmu tenteram di
alam baka dengan melepaskan sakit hatinya?”
“Aku tidak berpendirian demikian. Aku berpendapat bahwa arwah ayahku
tidak akan dapat disucikan dengan darah. Tidak. Darah hanya akan
menambah bebannya di alam baka. Karena itu, aku tidak akan berbuat
bakti dengan cara demikian.
“Ada dua kemungkinan,” tiba-tiba seorang setengah umur berkata,
“Bramanti seorang anak durhaka, yang tidak merasa perlu berbakti
kepada orang tuanya, tahu ia mencoba menipu kami. Ia akan mencari
kesempatan supaya kami menjadi lengah. Dalam kelengahan itulah ia akan
dapat berbuat menurut kehendaknya.”
“Yang kedualah yang paling mungkin,” sahut suara yang lain. “Kalau ia
benar-benar anak durhaka, yang tidak merasa perlu berbakti kepada
ayahnya, ia tidak akan datang kembali ke Kademangan ini. Ia akan tetap
tinggal di rantau, apapun yang akan terjadi atasnya.”
Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia mencoba
menjelaskan, “Aku mencintai ibuku. Aku mencintai kampung halaman.
Karena itu aku kembali.”
“Ah,” seorang yang tinggi berkumis melintang berkata, “Kita tidak
perlu mendengarkan kicauannya. Kita mendapat tugas menangkapnya.
Melawan atau tidak melawan. Kita bawa saja anak ini menghadap Ki
Demang. Terserah, apa yang akan dilakukannya atas anak ini.”
“Ya, itulah yang baik,” kata yang lain.
“Marilah, kita tangkap anak ini.”
Orang yang berkumis itu maju mendekati Bramanti sambil berkata. “Kita
harus menangkapmu nak. Apakah kau akan melawan?”
Bramanti memandang orang yang tinggi dan berkumis itu dengan sorot
mata yang aneh. Bagi Bramanti orang yang tinggi dan berkumis ini
memang aneh. Sikapnya agak lain dengan kawan-kawannya, meskipun pada
dasarnya, ia akan menangkapnya pula.
Sejenak Bramanti tidak dapat menjawab. Namun kemudian terasa tangan
ibunya meraba pundaknya, “Bukankah kau tidak mendendam?”
Bramanti mengangguk, “Ya, aku memang tidak mendendam,” Kemudian kepada
orang yang tinggi berkumis itu ia berkata, “Aku tidak akan melawan.
Aku sama sekali tidak akan mampu melawan kalian.” (Bersambung)-

2 Responses to “Tanah Warisan 010”

  1. sampe brapa episode nmih tanah warisan?..versi donlotnya ada gak?

  2. lho wis iso online to? iki from purwodadi opo from ngendi mas? tenang mas, mengko secara bertahap tak update walaupun tulisane dadi dedelduel soale ora sempat ngupdate:)

Leave a Reply