27 Agustus 2001 BELUM lagi Bramanti sampai di tanah, terdengar ibunya bertanya, “Angger Temunggul, kenapa dengan Bramanti?” Temunggul berpaling. Dilihatnya seorang perempuan tua dalam kecemasan. Namun ia sama sekali tidak mengacuhkannya lagi. Perhatiannya telah tercurah kepada Bramanti, yang menjadi semakin marah. “He, Bramanti.
Posted on November 14th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
26 Agustus 2001 “AH,” Ratri berdesah. Ia mencoba berjalan semakin cepat. Tetapi langkahnya selalu tertahan-tahan. Kawan-kawannya masih saja memegangi kainnya. Ketika pada suatu ketika Ratri dapat melepaskan diri, maka segera ia berlari menghambur mendahului kawan-kawannya sambil berkata, “Jangan ganggu. Aku tidak mau.”
Posted on November 14th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
25 August 2001 PERTANYAAN itu ternyata telah mengganggunya. Ia menganggap hal itu tidak wajar. Karena itu, maka Bramanti tidak dapat menahan hati lagi untuk mencari jawab atas pertanyaan itu. Dengan tergesa-gesa ia pergi ke pinggir desa menyusuri jalan yang memanjang di pinggir parit induk pedesaannya. Jalan itulah yang biasanya dilalui oleh gadis-gadis itu. “Oh,” Bramanti […]
Posted on November 14th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
24 Agustus 2001 BRAMANTI berhenti sejenak sambil berpaling memandangi ibunya, “Terima kasih,” jawabnya, “Sebentar lagi. Nanti aku akan masuk dan minum. Sekarang aku ingin membersihkan halaman ini dulu sebelum aku memanjat ke atas atap nanti setelah embun menjadi kering.” “Jangan terlampau memeras tenagamu Bramanti.
Posted on November 14th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
23/08/2001 BRAMANTI itu mengangguk. Kemudian dilanjutkannya langkahnya, menyusuri jalan-jalan pedesaan pulang kerumahnya. Namun pertemuannya dengan Temunggul itu telah memberikan jawaban, meskipun baru sebagian kenapa Temunggul bersikap terlampau kasar kepadanya. Kalau saja tidak terjadi sesuatu dengan ayahku,” katanya di dalam hati.
Posted on November 14th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
22 Agustus 2001 BRAMANTI mengerutkan keningnya. “Ayo, berjanjilah. Kalau tidak, maka kau kini tidak akan dapat mengharapkan bantuan siapapun juga.” “Apakah yang harus aku janjikan?” bertanya Bramanti. “Berjanjilah, bahwa kau tidak akan berhubungan dengan Ratri.
Posted on November 14th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
21/08/2001 BRAMANTI tidak segera beranjak dari tempatnya. Ditatapnya saja wajah Ki Demang dan Ki Jagabaya berganti-ganti. Tetapi dadanya berdesir ketika ia mendengar Ki Demang berkata, “Tidak ada tempat bagi anak-anak cengeng di Kademangan Candi Sari. Jangan menangis.
Posted on November 14th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
20/08/2001 Karena itu, maka Bramanti pun melangkah terus. Berjalan di antara anak-anak muda yang berdiri tanpa beranjak sejengkal dari tempatnya. Sedang Bramanti pun sama sekali tidak berpaling pula. Bahkan kepalanya semakin menunduk ketika ia melangkah di depan Temunggul yang bertolak pinggang itu.
Posted on November 14th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
19/08/2001 “Lebih baik kau mengaku,” Ki Jagabaya mengguncang baju Bramanti, sehingga anak muda itu ikut terguncang pula. “Tidak Ki Jagabaya. Aku tidak mengenal Panembahan Sekar Jagat.” “Jangan bohong,” ternyata Ki Demang pun membentaknya. “Tidak Ki Demang. Aku berkata sebenarnya.
Posted on November 14th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
18/08/2001 Belum lagi Bramanti selesai bicara, seorang anak muda yang berkulit kekuning-kuningan, bermata tajam dan berwajah tampan menarik tangannya kemudian mendorongnya, “Ayo, kita pergi ke Ki Demang.” Bramanti terdorong beberapa langkah ke depan. Ketika ia berpaling, maka terdengar ia berdesis. “Kau Temunggul.” “Hem,” anak muda itu menggeram, “kau masih ingat kepadaku.”
Posted on November 14th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan | No Comments »