Sang Pemimpi
Baru kemaren mbaca “Sang Pemimpi”.
Melewati masa puber dan kemudian perlahan meninggalkan dunia anak yang
ceria.
Dan kemudian lagi mulai berfikir realistis, Akhirnya si Ikal sadar
perdjoeanganya “Ngambat” setiap dini hari yang kemudian upahnya di
tabung di celengan, Tidak akan pernah cukup di gunakan sebagai biaya
kuliah. Apalagi sampe ke Sorborne.
Dan kemudian Ikal patah arang, Semester sebelomnya berhasil mendudukan
Ayahnya - ketika mengambil raport - di kursi 3. Semester 5 ini Ikal
mendudukan Ayahnya di kursi nomer 74 dari 160 siswa.
Pak Mustar marah Sekali ke Ikal atas turunya semangat belajar Ikal.
Ikal juga merasa bersalah. Tapi kemudian lecutan yang paling keras
adalah teriakan Arai “Kita tidak akan pernah mendahului Nasib!!!”. Entah
nanti mau jadi kuli ngambat atau pekerjaan kasar yang laen-nya. Di sini
di sekolah ini kita harus melakukan yang terbaik.
Kira-kira bigitu apa ya? Btw, saya juga ikut terlecut oleh teriakan Arai
ke Ikal di atas.
Mas Ikal-pelangilintang[at]yahoo[dot]com
Teruslah nulis cerita-cerita perdjoengan sebanyak-banyaknya. Untuk
melawan SMS. Semoga bisa memberikan kontribusi perubahan ke arah yang
lebih baik bagi negeri ini.
Kalau boleh tahu e-mailnya Arai apa ya? Biar saya bisa menyapa
“malaikatmu” itu.
Sedulur-sedulur yang laen,
Saya sangat menyarankan untuk mbaca Novel perdjoengan ini. Sangat
menginspirasi. Rugi besar kalau sampeyan semua tidak sempat mbacanya
![]()
Posted on November 14th, 2007 by panggiring
Filed under: imho 545 Views





Leave a Reply