Sosok Pedjoeang
Di kampungku ada seorang pejuang namanya mbah Tarmudi,
Cerita perdjoeanganya agak lucu, berawal dari Jatuh Cinta ke seorang bunga desa. Yang ternyata Cintanya tidak di restui oleh sang calon mertua. Kemudian si Cewek di nikahkan sama pemuda laen. Membuat mbah Tarmudi Patah Arang. Dunia serasa sempit dan katanya seakan-akan semua tidak ada yang berpihak ke padanya. Akhirnya mBah Tarmudi ingin mati saja. Tapi agar matinya tidak mubadir begitu saja maka mbah Tarmudi bergabung dengan pedjoeang yang bermarkaz di pegunungan Dieng.
Untuk memuluskan tujuanya agar cepat mati, mbah Tarmudi selalu meminta di taruh di garis depan dalam setiap misi penyerangan ataupun penghadangan konvoi Belanda yang biasanya melewati jalan Dandeles-Alasroban juga-. Dalam setiap Penyerangan Kadang para pejuang ada yang suka merampas kekayaan Belanda, Senjata, emas, uang.dll. Mbah Tarmudi tidak peduli semua itu biasanya yang di ambil sama mbah Tarmudi hanyalah senjata secukupnya aja.
Ketika ku tanya mbah Tarmudi begitu heroiknya selalu berada di garis depan, kenapa tidak meninggal juga apa tip & triknya? Jawabanya sederhana “Yang ku cari hanya mati, tapi mati yang tidak sia-sia, tapi saya heran temen-temen yang tergoda harta rampasan itu satu-persatu koq ada yang mati terbunuh. Mungkin karena saya tidak tergoda harta rampasan itu jadinya tidak mati-mati”.
Sedikit ku ambil kesimpulan. Masuk akal juga sih kenapa mbah Tarmudi tidak mati-mati, Mbah tarmudi tidak peduli apapun, hanya focus terhadap perdjoeangan sehingga menurutku mbah Tarmudi bisa menjhaga diri. Sementara temen-temenya yang tergoda dengan harta rampasan mungkin suatu saat lengah dan tertembak.
Singkat cerita Soekarno memproklamasikan kemerdekaan dan Tentara melakukan semacam reconsolidasi Nasional. Membuat struktur organisasi.dll yang lebih professional. Maka seluruh pejuang di data di kasih pangkat dll. Kata mBah Tarmudi ada orang yang tidak ikut berdjoeang tapi ngaku-ngaku ikut berdjoeang akhirnya ikutan jadi TNI.
Mbah Tarmudi justru berfikir laen. Mbah Tarmudi menganggap perdjoeangan telah selesai. Dan sakit hatinya akibat di tolak calon mertua telah mulai hilang. Maka mbah Tarmudi justru memilih pulang kampuang dan macul lagi di sawah.
imho: Negeri ini membutuhkan orang-orang seperti mbah tarmudi sebanyak-banyaknya. Dialah pejuang sejati.
Posted on November 14th, 2007 by panggiring
Filed under: imho 654 Views





on September 26th, 2008 at 4:39 am Said:
Wuah, bagus banget ceritanya mbah!