Tanah Warisan 012

19/08/2001 “Lebih baik kau mengaku,” Ki Jagabaya mengguncang baju Bramanti, sehingga anak muda itu ikut terguncang pula. “Tidak Ki Jagabaya. Aku tidak mengenal Panembahan Sekar Jagat.” “Jangan bohong,” ternyata Ki Demang pun membentaknya. “Tidak Ki Demang. Aku berkata sebenarnya. Aku baru saja datang dari jauh. Kalau yang Ki Demang maksudkan orang-orang berkuda, maka aku memang menjumpai mereka itu di pinggir Kademangan ini.” “Aku tidak bertanya tentang orang-orang berkuda itu. Kami di sini melihat sampai jemu. Bahkan di antara kami dipaksa untuk menyerahkan harta benda kami. Yang ingin kami ketahui, apakah kau termasuk dalam lingkungan mereka?” “Tidak. Aku bersumpah,” jawab Bramanti. “Tetapi katanya kemudian, “Apakah Ki Demang tidak berhasil menangkap mereka.” “Apa kau bilang? Menangkap?” Ki Jagabaya berteriak, “Apa kau kira kami terlampau bodoh untuk menyerahkan leher kami karena sepotong benda yang kami anggap berharga.” “Tetapi mereka hanya beberapa orang saja. Sedang aku lihat beberapa kuatnya kemampuan setiap laki-laki di Kademangan ini. “Apakah kau ingin menjebak kami he?” “Sama sekali tidak Ki Jagabaya.” “Apa kau kira, aku tidak ada kekuatan lain kecuali mereka yang datang kemari itu? Kau kira kami akan dapat melawan seandainya Panembahan Sekar Jagat itu marah dan turun ke Kademangan ini untuk menghukum kami?” “Siapa Panembahan Sekar Jagat itu?” “Pertanyaan yang bodoh. Tidak seorang pun di antara kami yang mengenalnya.” “Kenapa kita tidak berani melawannya? Kita belum pernah mengenalnya. Dari siapa kita tahu, bahwa kita tidak akan dapat melawan kekuatan mereka. Apalagi kita mempertahankan hak kita sendiri.” Ki Jagabaya tidak segera menyahut. Tanpa sesadarnya dipandanginya wajah Ki Demang yang tegang. Namun sejenak kemudian Ki Demang itu berkata, “Kau mengigau. Yang ingin kami ketahui, apakah kau salah seorang dari mereka?” “Tidak Ki Demang.” “Dan kau datang benar-benar tidak akan membuat onar Kademangan yang sedang dicengkam ketakutan ini?” “Tidak Ki Demang. Aku tidak akan berani melakukan.” Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Setelah memandangi setiap wajah yang ada di pendapa Kademangan itu, maka kemudian ia berkata, “Aku akan memberi kau kesempatan. Tetapi apabila kau membuat onar, maka kami tidak akan mengampuninya. Supaya kau tidak akan dapat mengganggu kami lagi untuk seterusnya, maka hukuman yang akan kami berikan adalah hukuman yang seberat-beratnya.” Ki Demang berhenti sejenak, lalu, “Nah kau boleh pulang. Tetapi ingat, jangan berbuat sesuatu yang dapat mengantarmu ke lubang kubur. Kami tidak segan-segan bertindak terhadap siapapun yang melanggar tata tertib kehidupan di Kademangan ini. “Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk dalam-dalam ia berkata, “Terima kasih Ki Demang. Aku akan mencoba mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Aku akan membuktikan, bahwa aku tidak mempunyai maksud sama sekali untuk mempersoalkan lagi apa yang telah terjadi. Apalagi menuntut balas. “Aku tidak perlu mendengar igauan itu. Aku hanya ingin melihat apa yang akan kau lakukan di sini. Sekarang pergilah.” “Terima kasih Ki Demang. Aku minta diri.” Ki Demang menganggukkan kepalanya dengan acuh tak acuh. Ia sama sekali tidak memperhatikan lagi ketika Bramanti melangkah surut, kemudian berdiri meninggalkan pertemuan yang mendebarkan itu. Setelah memandang berkeliling, menembus kesuraman malam, maka ia pun segera turun ke halaman. Perlahan-lahan ia berjalan menyeberangi halaman yang luas. Sekali-kali ia berpaling. Dilihatnya, di pendapa para pemimpin kademangan masih duduk melingkari lampu minyak. Tanpa sadar tiba-tiba dadanya berdesir ketika dilihatnya beberapa anak-anak muda berdiri di regol halaman Kademangan. Setiap mata mereka memandanginya dengan tajamnya. Seolah-olah ingin melihat langsung ke pusat jantungnya. Di bawah cahaya lampu di regol yang kemerah-merahan Bramanti melihat Tumenggul berdiri bertolak pinggang. Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak tahu kenapa sikap Temunggul itu kini sangat menyinggung perasaannya. Temenggul adalah kawan bermain yang baik di masa kanak-kanak. Langkah Bramanti pun menjadi semakin lambat. Tetapi ia tidak berhenti. Dengan dada berdebar-debar ia maju semakin dekat. Sekali lagi ia menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya. Bahkan ia berkata di dalam hatinya, “Mungkin aku terlampau berprasangka.”

Leave a Reply