Tanah Warisan 013

20/08/2001 Karena itu, maka Bramanti pun melangkah terus. Berjalan di antara anak-anak muda yang berdiri tanpa beranjak sejengkal dari tempatnya. Sedang Bramanti pun sama sekali tidak berpaling pula. Bahkan kepalanya semakin menunduk ketika ia melangkah di depan Temunggul yang bertolak pinggang itu. Bramanti tidak sempat berbuat apapun juga, ketika hal itu terjadi dengan tiba-tiba. Ia merasa tangan Temunggul mendorong punggungnya. Sedang kakinya disilangkannya di hadapannya. Dengan demikian, maka Bramanti itu pun terdorong ke depan, namun karena kakinya terkait, maka ia pun terbanting jatuh tertelungkup. Bramanti masih mendengar anak-anak muda di regol itu serentak tertawa berkepanjangan. Beberapa di antara mereka tidak dapat menahan air matanya yang membasahi pelupuk. Yang lain lagi terpaksa memegangi perutnya yang berguncang-guncang. “Ayo cepat, cepat bangun anak manis,” terdengar Temunggul berdesis. “Ayo bangunlah, meskipun belum pagi.” Bramanti mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Sebagai seorang anak muda maka darahnya segera mendidih. Namun kemudian dikenangnya kata-kata gurunya dan bahkan ibunya. “Jangan mendendam ngger.” “Tetapi ini bukan soal dendam,” katanya di dalam hati. “Aku telah dihinanya. Apakah aku akan tetap menundukkan kepala saja.” Yang kemudian diingatnya adalah kata-kata Ki Demang. “Tetapi apabila kau berbuat sesuatu yang menyakitkan hati kami, apalagi membuat onar, maka kami tidak akan mengampunimu.” Bramanti menggigit bibirnya untuk menahan hatinya yang bergolak. Suara tertawa anak-anak muda di sekitarnya masih terdengar. Dan Temunggul masih juga berkata, “Ayo bangun anak manis.” Bramanti bangkit perlahan-lahan bertelekan pada kedua tangannya. Kemudian ia berdiri pula pada lututnya. Sekilas dipandanginya anak-anak muda yang berdiri di sekitarnya. Mereka bergembira karena mereka merasa mendapat permainan yang mengasyikkan. Ketika terpandang wajah-wajah anak-anak muda itu, maka ia berkata di dalam hatinya. “Anak-anak itu juga. Anak-anak yang kini seolah-olah menjadi liar? Kalau ayahku terbunuh karena ayahku dianggap oleh orang-orang Kademangan ini sebagai seorang yang liar, seharusnya akulah yang menjadi liar melampaui ayah dan melampaui keliaran anak-anak muda itu.” Tetapi sekali lagi ia seolah-olah mendengar kata-kata gurunya. “Ayahmu memang bersalah. Karena itu jangan kau selusuri jalan hidupnya. Kau harus mencari jalan sendiri. Jalan yang baik. Kau harus membuktikan, bahwa tidak selalu tabiat orang tua yang kurang baik itu dapat menurun kepada anaknya. Dengan jalan itulah kau berbakti kepada orang tuamu.” Namun sekali lagi dadanya bergolak. “Tetapi ini adalah soal yang lain. Aku dihinanya tanpa sebab.” Belum lagi ia menemukan jalan yang akan ditempuhnya, terasa punggungnya terdorong oleh telapak kaki sambil didengarnya lagi suara Temunggul, “He, apakah kau masih terlampau lelah.” “Sekali lagi Bramanti terdorong jatuh tertelungkup. Wajahnya yang basah oleh keringat, menyentuh tanah berdebu, sehingga menjadi keputih-putihan. Oleh cahaya pelita, wajahnya menjadi tampak terlampau acuh, sehingga anak-anak muda disekitarnya tertawa semakin keras lagi. Bramanti tidak dapat lagi menahan hatinya. Betapa pun ia mengingat segala macam nasehat, tetapi darah mudanya telah mendidih sampai ke ubun-ubun. Namun sebelum ia berbuat sesuatu, didengarnyalah suara keras di antara anak-anak muda itu. “He, siapa yang berbuat ini?” Anak-anak muda itu saling berpandangan. Suara tertawa mereka telah lenyap ditelan kecemasannya melihat wajah yang berdiri di antara mereka dengan marahnya. “Kalian selalu membuat kisruh saja.” Bramanti kemudian mengangat wajahnya. Ditatapnya orang yang sedang marah-marah itu. “Ki Jagabaya,” desisnya. Perlahan-lahan ia pun segera bangkit. Sambil membenahi pakaiannya ia berdiri termangu-mangu melihat sikap Ki Jagabaya itu. “Kenapa kalian lakukan hal itu? Ki Jagabaya membentak. Anak-anak muda itu menundukkan kepalanya. Tidak seorang pun yang berani memandang wajah yang seram dan kemerah-merahan karena merah dan karena cahaya pelita yang jatuh di atas garis-garis yang keras di wajah itu. Tetapi anak-anak muda itu mengangkat wajah-wajah mereka ketika mereka mendengar suara yang lain, “Biar sajalah Ki Jagabaya. Begitulah adat anak-anak muda. Bukankah kita berbuat seperti itu pula ketika masih seumur dengan mereka.” Ternyata suara itu adalah suara Ki Demang Candi Sari. Dan Ki Demang berkata seterusnya, “Suatu cara perkenalan yang bai bagi Bramanti. Ia harus berusaha menyesuaikan dirinya di sini.” “Aku mengenalnya sejak kanak-kanak,” sahut Temunggul. “O. Kalau begitu kau bertemu dengan sahabat lama? Pantaslah kalau kau dapat bergurau begitu meriah.” Anak-anak muda itu kini mulai tertawa. “Tetapi perbuatan itu sudah keterlaluan,” geram Ki Jagabaya. “Ki Demang tertawa. Katanya kemudian, “Pulanglah Bramanti. Jangan kamu pikirkan lagi apa yang terjadi. Setelah lama kalian tidak saling bertemu, maka anak-anak itu merasa kangen bergurau dengan kau lagi.”

Leave a Reply