Tanah Warisan 014

21/08/2001 BRAMANTI tidak segera beranjak dari tempatnya. Ditatapnya saja wajah Ki Demang dan Ki Jagabaya berganti-ganti. Tetapi dadanya berdesir ketika ia mendengar Ki Demang berkata, “Tidak ada tempat bagi anak-anak cengeng di Kademangan Candi Sari. Jangan menangis. Pulanglah dan lainkali, bersikaplah seperti seorang laki-laki.” Sekali lagi jantung Bramanti serasa tergores oleh sembilu. Tetapi dihadapan Ki Demang dan Ki Jagabaya ia tidak dapat berbuat apa-apa. Sebab kalau ia menuruti perasaannya, maka akibatnya pasti akan berkepanjangan. Melawan Ki Demang dan Ki Jagabaya berarti melawan seluruh Kademangan Candi Sari. “He, kenapa kau berdiri saja membatu,” terdengar Ki Jagabaya membentak, sehingga Bramanti terperanjat karenanya. “Ayo pergi, cepat, pergi,” Ki Jagabaya berteriak. Bramanti menganggukkan kepalanya sambil berkata. “Aku minta diri.” Baik Ki Jagabaya maupun Ki demang tidak menjawab. Anak-anak muda yang berdiri di regol itu pun tidak mentertawakannya lagi meskipun ia terkejut mendengar bentakan Ki Jagabaya sehingga ia hampir terlonjak. Bramanti itu pun kemudian berjalan tertatih-tatih meninggalkan regol Kademangan. Sekali-kali ia berpaling. Dilihatnya di bawah cahaya pelita di regol halaman, anak-anak muda itu masih saja berada ditempatnya. “Aneh,” Bramanti berdesis. Sebenarnya bagi Bramanti sikap Ki Jagabaya dan Ki Demang merupakan sikap yang aneh. Ki Jagabaya meskipun bersikap kasar, namun terasa kelurusannya. Ia bersikap kasar dan keras terhadap siapapun. Terhadap dirinya, tetapi juga terhadap siapapun. Terhadap dirinya, tetapi juga terhadap anak-anak muda itu. Berbeda dengan Ki Demang. Meskipun Ki Demang tidak sekasar Ki Jagabaya, namun terasa dalam sikapnya, bahwa ia kurang jujur menghadapi persoalan. “Sebuah bahan yang harus aku ingat-ingat,” gumamnya. Sementara itu kaki Bramanti melangkah terus menyusuri jalan-jalan desa. Jalan-jalan yang pernah dikenalnya dengan baik beberapa waktu yang lampau semasa ia masih kanak-kanak. Di jalan-jalan inilah ia dahulu berlari-lari berkejaran. Bermain sembunyi-sembunyian. Bermain hantu-hantuan dan di halaman rumahnya yang luas itulah anak-anak bermain nini Towok. Terutama anak-anak perempuan, sementara anak-anak laki-laki bermain kejar-kejaran. Tetapi semuanya telah berubah sama sekali. Tidak seperti jalan yang dilampauinya itu. Jalan ini seolah-olah masih jalan yang dahulu, tanpa perubahan sama sekali. Pohon nyamplung di pinggir sungai, pohon cangkring dan pohon gayam yang berdiri berjajar, pohon randu alas di samping kuburan dan pohon pucang berjajar empat. Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Di dalam hatinya ia berkata, “Aku ternyata harus berusaha menyesuaikan diriku. Sikap anak-anak Candi Sari sekarang adalah sikap yang tidak menyenangkan.” Namun kemudian tumbuh pertanyaan di dalam hatinya, “Tetapi kenapa tidak seorang pun yang berani berbuat sesuatu atas orang-orang yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat?” Tetapi Bramanti tidak dapat menemukan jawabannya. Untuk sementara ia menganggap bahwa sikap orang-orang berkuda yang menjadi kepercayaan Panembahan Sekar Jagat itu terlampau menakutkan bagi orang-orang Candi Sari, sehingga kesannya terhadap Panembahan Sekar Jagat menjadi terlampau berlebih-lebihan. Sambil merenung Bramanti melangkah terus. Dilaluinya regol demi regol. Semakin lama semakin jauh dari halaman Kademangan. Tetapi tiba-tiba ia mendengar sesuatu yang berdesir di balik dinding batu di tepi jalan. Telinganya yang tajam segera mengenal, agaknya seorang telah mengikutinya dengan diam-diam. “Siapa orang itu,” ia bertanya di dalam hatinya. Namun Bramanti tidak berhenti. Ia pura-pura tidak mengetahuinya. Bahkan langkahnya semakin dipercepatnya. Dengan demikian, maka ia akan segera memancing orang itu untuk segera melakukan maksudnya apabila memang itulah yang dimaksudkannya. Ternyata usahanya itu berhasil. Ketika Bramanti lewat ditikungan, disebelah halaman yang kosong dan gelap, maka meloncatlah sesosok tubuh langsung berdiri dihadapannya. Bramanti terkejut, bukan karena kehadiran itu dengan tiba-tiba, tetapi ia terkejut setelah ia mengenal orang itu. Temunggul. “Hem,” ia berdesah di dalam hatinya. “Apakah anak itu masih saja akan membuat persoalan.” Bramanti terpaksa menghentikan langkahnya karena Temunggul berdiri bertolak pinggang di tengah jalan. “Hem, kau beruntung hari ini Bramanti,” terdengar Temunggul berdesis. Bramanti tidak segera mengerti maksud kata-kata itu. Karena itu, maka untuk sejenak ia berdiam diri. Karena Bramanti tidak menjawab, maka Temunggul berkata lebih lanjut, “Seandainya Ki Jagabaya tidak ikut campur, maka kau akan tahu, bahwa kedatanganmu sama sekali tidak kami sukai. Dan kau akan tahu, seandainya kau ingin melepaskan dendammu, maka kau tidak akan mendapat kesempatan sama sekali.” Bramanti masih tetap membatu. “Sayang,” berkata Temunggul selanjutnya, “Ki Jagabaya yang kasar itu telah menyelamatkanmu.” Bramanti masih belum menyahut. “Nah,” berkata Temunggul pula, “Seperti kau berjanji kepada Ki Demang, maka kau pun harus berjanji kepadaku.”

percayaan Panembahan Sekar Jagat itu terlampau menakutkan bagi orang-orang Candi Sari, sehingga kesannya terhadap Panembahan Sekar Jagat menjadi terlampau berlebih-lebihan. Sambil merenung Bramanti melangkah terus. Dilaluinya regol demi regol. Semakin lama semakin jauh dari halaman Kademangan. Tetapi tiba-tiba ia mendengar sesuatu yang berdesir di balik dinding batu di tepi jalan. Telinganya yang tajam segera mengenal, agaknya seorang telah mengikutinya dengan diam-diam.

Leave a Reply