Tanah Warisan 015
22 Agustus 2001 BRAMANTI mengerutkan keningnya. “Ayo, berjanjilah. Kalau tidak, maka kau kini tidak akan dapat mengharapkan bantuan siapapun juga.” “Apakah yang harus aku janjikan?” bertanya Bramanti. “Berjanjilah, bahwa kau tidak akan berhubungan dengan Ratri. Bramanti terperanjat mendengar permintaan itu. Sejenak ia terbungkam. Namun dalam pada itu, segera ia mengetahui, bahwa inilah sumber persoalannya, kenapa Temunggul bersikap demikian kasar terhadapnya. “Berjanjilah,” geram Temunggul. Terasa bahwa di dalam nada kata-katanya itu tersimpan sebuah ancaman. “Aku tidak mempunyai sangkut paut apapun dengan Ratri,” jawab Bramanti. “Bohong,” potong Temunggul. “Pada saat kau menginjakkan kakimu kembali di Kademangan ini, yang pertama-tama kau temui adalah Ratri. Jangan bohong. Aku melihat sendiri apa yang telah terjadi itu.” “Itu hanya suatu kebetulan saja. Aku melihat Ratri berjalan beberapa langkah daripadaku. Bahkan Ratri sendiri sudah tidak dapat mengenal aku lagi.” “Memang. Mungkin Ratri sudah tidak mengenalmu dan sama sekali tidak mengharapkan pertemuan ini. Tetapi agaknya kaulah yang dengan sengaja menemuinya.” Bramanti menggeleng. “Tidak, Aku sama sekali tidak sengaja.” “Aku melihat sorot matamu, ketika kau menatap wajah Ratri.” “Sudah kira-kira sepuluh tahun aku tidak bertemu dengan anak itu. Perpisahan itu terjadi ketika kami masih kanak-kanak. Di dalam diri kami sama sekali tidak tersangkut perasaan apapun di dalam usia kami saat itu.” “Tetapi sekarang kau adalah seorang anak muda yang gagah. Tanggapanmu terhadap anak-anak perempuan yang masih kanak-kanak pada saat kau tinggalkan pasti mengalami perubahan pula.” “Tetapi aku belum siap untuk menilai seseorang karena aku baru saja melihatnya saat itu.” “Mungkin kau benar. Tetapi aku minta kau berjanji, bahwa untuk seterusnya kau tidak akan mengganggu Ratri.” Bramanti termenung sejenak. Sebenarnya ia sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap anak perempuan itu. Namun justru karena permintaan Temunggul itu, ia mulai membayangkan, wajah gadis yang bernama Ratri itu. “Ia memang cantik,” katanya di dalam hati. “Mungkin ia bakal istri Temunggul. Tetapi sikap Temunggul itu memang agak keterlaluan.” “Barjanjilah,” Temunggul mendesaknya. Bramanti kemudian menganggukkan kepalanya. Ia tidak melihat kemungkinan lain daripada memenuhi permintaan itu supaya tidak terjadi keributan. “Baik,” katanya, “Aku tidak akan mengganggunya sama sekali.” “Ingat-ingatlah janjimu itu,” suara Temunggul menjadi berat. “Jangan mencoba mengelabuhi aku. Sikapmu akan selalu ku awasi. Bukan saja soal Ratri, tetapi juga soal-soal lain yang menyangkut ketentraman Kademangan ini.” “Aku sama sekali tidak berkeberatan,” sahut Bramanti. “Berkeberatan atau tidak, kau tidak wenang memilih. Kau harus menerima keadaan ini. Kau akan diawasi. Aku memberitahukan hal itu kepadamu. Aku sama sekali tidak minta pertimbanganmu, apalagi minta ijinmu.” Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, begitulah,” katanya. “Bukan maksudku untuk menyatakan hal itu.” “Nah, untuk sementara aku percaya kepadamu. Tatapi apabila kau ingkar akan janji itu, maka kau akan menyesal untuk sepanjang umurmu.” Sekali lagi Bramanti mengangguk. “Baiklah.” “Sekarang pergilah. Pulanglah ke rumahmu yang hampir roboh itu. Lebih baik bagimu untuk mengurusi rumah itu. Kau dapat menenggelamkan waktumu dengan memperbaikinya.” “Ya aku akan berbuat demikian.” “Baik. Kita akan melihat perkembangan keadaan. Keadaan Kademangan ini dan keadaanmu sendiri. Sekarang pergilah.” Bramanti itu mengangguk. Kemudian dilanjutkannya langkahnya, menyusuri jalan-jalan pedesaan pulang kerumahnya. Namun pertemuannya dengan Temunggul itu telah memberikan jawaban, meskipun baru sebagian kenapa Temunggul bersikap terlampau kasar kepadanya.
Posted on November 14th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 192 Views





Leave a Reply