Tanah Warisan 016
23/08/2001 BRAMANTI itu mengangguk. Kemudian dilanjutkannya langkahnya, menyusuri jalan-jalan pedesaan pulang kerumahnya. Namun pertemuannya dengan Temunggul itu telah memberikan jawaban, meskipun baru sebagian kenapa Temunggul bersikap terlampau kasar kepadanya. Kalau saja tidak terjadi sesuatu dengan ayahku,” katanya di dalam hati. “Maka aku tidak akan tersudut dalam kesulitan serupa ini. Segala langkahku pasti akan diseret kepada persoalan ayah. Persoalan dendam dan segala macam. Meskipun soal yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan soal dendam dan kematian ayah, misalnya soal Ratri, namun bagiku, seolah-olah lubang itu telah disediakan. Dendam, menuntut balas, dengki, bikin onar dan bahkan akan ditarik garis lurus menuju ke gerombolan Panembahan Sekar Jagat.” Bramanti mengeluh di dalam hati. Tetapi terngiang lagi kata-kata gurunya. “Kaulah yang akan dapat menebus segala cacat orang tuamu.” “Itu adalah caraku untuk berbakti kepada orang tuaku,” desisnya. Dan Bramanti pun bersyukur, bahwa ia masih mampu mengendalikan dirinya meskipun ia mengalami perlakuan yang tidak sewajarnya. Ketika ia kemudian mengetuk pintu rumahnya, terdengar suaranya ibunya, “Siapa?” “Aku ibu.” “Oh,” kemudian terdengar langkah kecil tersuruk-suruk menuju ke pintu. Sejenak kemudian terdengar gerik selarak terbuka dan pintu pun segera menganga. “Kau baik-baik saja bukan?” pertanyaan itulah yang pertama-tama diucapkan oleh ibunya. Bramanti melangkah masuk. Dengan nada yang dalam ia menjawab, “Baik bu. Tidak ada apa-apa yang terjadi.” “Tetapi,” ibunya mengerutkan keningnya sambil mengamat-amati wajah Bramanti yang kotor. “Oh,” Bramanti segera mengerti, bahwa ibunya melihat debu yang melekat diwajahnya ketika ia jatuh terjerembab, karena kakinya menyentuh kaki Temunggul. “Aku terperosok di tempat sampah itu. Aku tidak melihatnya.” Tetapi ibunya menjadi heran, “Dimana ada tempat sampah itu?” “Oh, maksudku pawuhan itu.” “Ya, dimana pawuhan itu?” “Di Kademangan,” jawab Bramanti sekenanya. “Tetapi sudahlah. Aku tidak apa-apa. Aku hanya menjadi kotor sedikit.” Ibunya menganggukkan kepalanya. Meskipun ia belum puas terhadap jawaban anaknya itu, tetapi ia tidak bertanya lagi. “Aku merebus air lagi Bramanti. Minumlah.” “Oh, terima kasih. Ibu menjadi lelah.” “Tidak. Aku tidak menjadi lelah. Aku sudah terlampau biasa bekerja apapun. Bahkan membelah kayu dan mengambil air untuk mengisi genthong di dapur.” Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Terbayanglah betapa berat hidup ibunya seorang diri. Seorang perempuan tua yang harus mengambil air sendiri, membelah kayu, mengisi lampu-lampu minyak dan kadang-kadang mengambil dedaunan dan buah-buahan. “Hem,” Bramanti menarik nafas dalam-dalam. “Tidurlah bu,” berkata anak muda itu. “Apakah kau belum akan tidur?” Bramanti mengangguk, “Ya, aku pun akan tidur. Besok aku akan mulai memperbaiki rumah ini.” Perempuan tua itu pun kemudian pergi ke pembaringannya dan memberikan sehelai tikar pandan yang sudah kekuning-kuningan kepada anaknya. “Disitulah kau nanti tidur.” “Baik bu. Aku dapat tidur dimana saja. Aku dapat tidur di atas tikar, dilantai tanpa alas, bahkan aku dapat tidur di pepohonan.” “Ah,” ibunya tidak menyahut selain berdesah perlahan-lahan, kemudian ditinggalkannya Bramanti yang sedang membentangkan tikar dan kemudian berbaring di atasnya. Namun, karena pikirannya yang ngelambrang, maka Bramanti tidak dapat segera tidur. Berbagai angan-angan hilir mudik di kepalanya, diselingi oleh segala macam kenangan dalam warna yang berbeda-beda. Anak muda itu mengerinyitkan alisnya ketika ia mendengar ayam jantan berkokok untuk yang ketiga kalinya. Tanpa sesadarnya ia berdesis. “Fajar.” Tetapi Bramanti pura-pura memejamkan matanya ketika kemudian ibunya terbangun. Perempuan tua itu berjalan tertatih-tatih menuju ke dapur dengan lampu ditangannya. Sejenak kemudian perapian pun telah menyala. “Hem, kasihan,” setiap kali Bramanti itu berdesis. Bramanti bangkit dari pembaringannya ketika matahari mulai mewarnai langit dengan sinarnya yang kemerah-merahan. Perlahan-lahan ia pergi keluar, menuruni pendapa rumahnya. Ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat lebih jelas lagi, betapa halamannya telah menjadi seperti hutan yang liar. Rumpun-rumpun bambu yang lebat, pohon perdu yang tersebar di segala sudut. Pepohonan yang menjalar dan sejenis ubi-ubian yang rimbun. Semua itu telah mendorong Bramanti untuk melepaskan bajunya. Dicarinya cangkul dan parang yang masih tersisa di rumahnya itu. Dengan langkah yang pasti, maka mulailah ia membersihkan halaman rumahnya. Mula-mula dibersihkannya rerumputan liar di muka tangga pendapanya. Kemudian sebelah menyebelah sebelum ia mulai menjamah perdu yang tersebar di mana-mana. Ketika ibunya menjengukkan kepalanya dari pintu dapur, maka perempuan tua itu menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat anaknya bekerja dengan sepenuh hati. “Minumlah dahulu Bramanti,” berkata ibunya dari ambang pintu.
Posted on November 14th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 365 Views





Leave a Reply