Tanah Warisan 017
24 Agustus 2001 BRAMANTI berhenti sejenak sambil berpaling memandangi ibunya, “Terima kasih,” jawabnya, “Sebentar lagi. Nanti aku akan masuk dan minum. Sekarang aku ingin membersihkan halaman ini dulu sebelum aku memanjat ke atas atap nanti setelah embun menjadi kering.” “Jangan terlampau memeras tenagamu Bramanti. Waktu masih cukup panjang. Kau dapat mulai dengan bagian-bagian yang kecil selagi kau belum sembuh dari kelelahanmu setelah berjalan sekian lamanya.” “Ya ibu. Tetapi aku tidak lelah.” Ibunya tidak menyahut lagi. Diawasinya sejenak Bramanti yang sudah mulai bekerja lagi. Namun kemudian ditinggalkannya anak muda itu masuk ke dalam. Demikianlah Bramanti telah mulai berbuat sesuatu untuk halaman dan rumahnya. Tidak hanya halamannya, tetapi kemudian dijamahnya juga rumahnya. Bagian demi bagian dilihatnya, apa saja yang harus digantinya. Di hari berikutnya Bramanti telah menebang berpuluh batang bambu. Kemudian dibersihkannya ranting-rantingnya dan diikatnya menjadi beberapa ikat. Dipanggulnya bambu-bambu itu ke sungai disebelah desanya dan dibenamkannya ke dalam air. Bambu yang demikian akan menjadi bahan perumahan yang sangat baik. Sementara ia menunggu sampai setahun, maka diperbaikinya rumahnya untuk sementara dengan bambu-bambu yang baru saja ditebangnya. Dengan rajinnya Bramanti bekerja dari pagi sampai petang dihari-hari berikutnya. Dicarinya ijuk dilereng-lereng pegunungan. Kamudian dibersihkannya tepasnya dan dijemurnya sebelum dipasang sebagai penyulam atas rumahnya yang berlubang-lubang. Pada pekan ketiga setelah Bramanti ada di rumahnya, halaman rumah itu telah mulai tampak bersih. Pagar-pagar petamanan telah mulai dianyam, sedang pagar-pagar batu halamannya pun telah dibersihkannya dari lumut-lumut yang hijau. Regol halamannya kini sudah tidak miring lagi, meskipun beberapa bagian hanya disulamnya dengan bambu. “Kau membuat rumah ini hidup kembali Bramanti,” desis ibunya disuatu petang. “Kuwajibanku ibu.” Dan kuwajiban itu dilakukannya setiap hari. Sedikit demi sedikit bagian-bagian rumahnya telah menjadi baik kembali, meskipun belum pulih seperti ketika ayahnya masih seorang yang kaya raya. Namun karena itu, karena ia tenggelam dalam kesibukannya, ia tidak banyak keluar dari halaman rumahnya kecuali membawa bambu ke sungai, mencari ijuk dan sekali-kali mencari ikan untuk melepaskan ketegangan kerjanya. “Barangkali hal ini lebih baik bagiku untuk sementara,” katanya di dalam hatinya. “Dengan demikian aku akan terhindar dari perbuatan-perbuatan yang dapat mendorong aku ke dalam kesulitan.” Kadang-kadang, apabila kawan-kawannya bermain semasa kanak-kanak lewat di lorong di depan rumahnya, ia mencoba menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Tetapi hanya satu dua saja dari mereka yang membalas anggukan kepala itu. Bahkan ada di antara mereka yang pura-pura tidak melihatnya meskipun ia berdiri di depan regol halamannya. Meskipun demikian Bramanti tidak jemu-jemunya. Tidak saja menganggukkan kepala, pada saat berikutnya, diberanikannya dirinya menegor satu dua di antara mereka. Ternyata ada juga yang menjawab tegoran itu meskipun hanya sepatah dua patah kata. Tetapi bagi Bramanti, semuanya itu merupakan harapan baik baginya dimasa mendatang. Ia merasa bahwa pada saatnya ia akan menemukan tempatnya kembali di dalam pergaulan anak-anak muda di Kademangan ini. Namun ketika pada suatu pagi ia berdiri di regol halaman, dadanya tiba-tiba berdesir. ia tidak mendapat kesempatan lagi untuk menghindar, ketika tanpa disadarinya, di antara beberapa orang gadis yang membawa cucian ke sungai, terdapat seorang yang harus dijauhinya, Ratri. “Hem,” katanya di dalam hati. “Pertemuan ini kurang menguntungkan bagiku.” Tetapi ia tidak dapat menghindar. Ketika gadis-gadis itu lewat dimuka regol rumahnya, dan ia mencoba menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, agaknya tidak seorang pun yang memperhatikannya, kecuali Ratri. Agaknya gadis-gadis itu telah mendengar dari kawan-kawan mereka, bahwa anak-anak muda Candi Sari tidak menyenangi kehadiran Bramanti. Sehingga dengan demikian, mereka pun tidak mau berhubungan dengan anak muda yang telah sekian lamanya hilang dari pergaulan mereka. Ratri yang berjalan di paling belakang menganggukkan kepalanya pula. Meskipun hanya itu, hanya mengangguk, namun dada Bramanti telah menjadi berdebar-debar karenanya. Anggukan kepala itu telah cukup menjadi alasan bagi Temunggul untuk membuat persoalan. “Temunggul terlampau cemburu,” katanya di dalam hati. Tanpa sesadarnya tiba-tiba Bramanti mengangkat wajahnya mengikuti langkah Ratri. Sekali ia berdesis. “Hem, gadis ittu memang cantik. Pantaslah kalau Temunggul takut kehilangan.” Bramantipun kemudian melangkah masuk halaman, sambil berkata kepada diri sendiri, “Mudah-mudahan tidak seorang pun yang melihatnya. Dan dengan demikian tidak akan ada persoalan yang dapat mengungkat kebencian Temunggul kepadaku.” Meskipun demikian pertemuan yang tidak disengajanya itu telah membuatnya gelisah. Bukan ia tidak dapat menjawab ketika ia bertanya kepada diri sendiri. “Kenapa gadis itu mengambil jalan ini? Bukan kebiasaan mereka melalui jalan ini menuju ke bendungan.”
Posted on November 14th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 330 Views





Leave a Reply