Tanah Warisan 018

25 August 2001 PERTANYAAN itu ternyata telah mengganggunya. Ia menganggap hal itu tidak wajar. Karena itu, maka Bramanti tidak dapat menahan hati lagi untuk mencari jawab atas pertanyaan itu. Dengan tergesa-gesa ia pergi ke pinggir desa menyusuri jalan yang memanjang di pinggir parit induk pedesaannya. Jalan itulah yang biasanya dilalui oleh gadis-gadis itu. “Oh,” Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Ternyata beberapa bagian dari jalan itu menjadi longsor.” Inilah agaknya sebabnya. Sukurlah, kalau tidak ada sebab yang lain.” Bramanti menjadi berlega hati. Tidak ada alasan untuk menjadi heran, kenapa gadis-gadis itu lewat jalan di depan rumahnya. Tetapi, ternyata sesuatu masih juga menyangkut dihatinya. Pertemuannya yang tidak disengaja dengan Ratri itu telah menumbuhkan persoalan di dalam dirinya. Sebenarnya ia tidak akan banyak menaruh perhatian atas gadis itu seperti atas gadis-gadis yang lain. Namun karena ancaman Temunggul, justru ia selalu berusaha mengenang wajah itu. “Ratri,” ia berdesis. “Mungkin Ratri itu akan menjadi isteri Temunggul kelak. Mungkin mereka berdua telah berjanji dan mungkin orang tua mereka telah sepakat pula.” Dan tanpa sesadarnya itu bergumam, “Beruntunglah Temunggul itu. Ia akan mendapat seorang isteri yang cantik, ramah dan agaknya mempunyai kelainan dari kawan-kawannya yang angkuh.” Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia sudah berada di rumahnya kembali, maka tanpa disadarinya ia selalu mengharap agar gadis-gadis itu lewat jalan itu juga, apabila mereka nanti kembali setelah mencuci. Karena itu, ketika ibunya memanggilnya untuk makan, Bramanti menjawab, “Nanti sebentar ibu. Kerja ini hampir selesai.” Tetapi Bramanti tidak melakukan apa-apa. Ia hanya sekadar meraut bambu yang telah dibelahnya untuk gapit dinding bambu di bagian dapur rumahnya. Tetapi bambu itu sebenarnya telah cukup halus. Tiba-tiba Bramanti menjadi gelisah. Setiap kali ia mengangkat wajahnya, memandang ke jalan di depan rumah itu. Tetapi ia tidak seorang pun yang lewat. Kalau sekali-kali ia mendengar desir langkah seseorang, kemudian diamatinya lewar regolnya yang terbuka, maka yang lewat adalah satu dua orang yang dengan tergesa-gesa pergi ke sawah mengantar makan dan minum. “Apakah mereka tidak pulang,” Bramanti itu bergumam sambil menengadahkan wajahnya memandang matahari yang semakin hampir sampai ke puncak langit. Akhirnya Bramanti itu pun menggeliat sambil berdiri. Agaknya harapannya untuk melihat sekali lagi wajah Ratri hari ini, tidak akan terpenuhi. Tetapi baru saja ia melangkah meninggalkan kerjanya, tiba-tiba ia mendengar suara tertawa. Suara gadis-gadis yang sedang bergurau. “Itukah mereka,” desis Bramanti. Tiba-tiba saja ia menjadi gelisah. Ia tidak dapat menghindarkan diri dari suatu keinginan untuk melihat gadis-gadis itu lewat. Tetapi ia tidak dapat dengan sengaja keluar regol untuk menunggu mereka. “Karena itu, maka Bramanti itu pun menjadi gelisah. Ia berjalan saja hilir mudik tanpa tujuan. Sekali-kali ia berdiri di muka regol masih di dalam halaman, namun kemudian ia melangkah pergi. Dalam kebingungan itu tiba-tiba Bramanti meraih parangnya. Dengan cekatan ia memanjat sebatang pohon kelapa. “Aku dapat pura-pura memetik buah kepala,” desisnya. Namun Bramanti itu kemudian terse-nyum sendiri. “Siapakah yang akan bertanya kepadaku, kenapa aku memanjat pohon kelapa?” Untunglah, bahwa ketika ia mencapai pertengahan pohon kelapa itu, dan melihat gadis yang berjalan sambil bergurau, mereka sama sekali tidak memperhatikannya. Tidak seorang pun dari mereka yang melihat, bahwa ia tengah memanjat semakin tinggi. Ketika Bramanti itu sudah sampai ke puncaknya, dan kemudian duduk di atas pelepah, hatinya menjadi agak tenang. Dari tempatnya ia dapat melihat gadis yang sedang berjalan semakin dekat. Dari tempatnya Bramanti melihat dengan jelas gadis-gadis baru pulang dari bendungan sambil menjinjing bakul cucian. Mereka bergurau sambil berdesa-desakan, dorong-mendorong dan ganggu-mengganggu. Agaknya yang menjadi pusat perhatian gadis-gadis itu adalah Ratri. Kawan-kawannya menggelinginginya. Ketika salah seorang berpaling tertawa, maka tanpa disengaja, mata Ratripun mengikuti arah pandangnya. “Hem,” Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Ternyata beberapa langkah di belakangnya, Temunggul berjalan bersama tiga orang kawan-kawannya. Sekali lagi dada Bramanti berdesir. Ia tidak tahu, kenapa ia menjadi tidak senang melihatnya. Melihat gadis-gadis dan kawan Ratri mengganggunya, dan sekali-kali mereka berpaling ke arah Temunggul. “Ah,” Bramanti berdesah, “Mereka benar-benar telah mengikat diri. Kawannya pun telah mengetahuinya. Bramanti menarik nafas. Tanpa disadarinya, ditatapnya wajah Ratri yang sedang tersipu-sipu. Semburat warna merah di wajah itu, membuat Ratri menjadi semakin cantik. Sekali-kali gadis itu terpekik apabila salah seorang kawannya mencubitnya. Kemudian ia berlari-lari kecil mendahului. Tetapi beberapa orang kawannya mengejarnya dan menarik kain panjangnya sambil berkata, “Tunggu aku Ratri. Tunggu.” “Bukan kami yang ditungguinya,” salah seorang dari gadis-gadis itu menyahut. “Tetapi itulah. Burung bangau tonthong yang telah menolong mencuci periuk sampai mengkilat seperti emas.”

Leave a Reply