Tanah Warisan 019

26 Agustus 2001 “AH,” Ratri berdesah. Ia mencoba berjalan semakin cepat. Tetapi langkahnya selalu tertahan-tahan. Kawan-kawannya masih saja memegangi kainnya. Ketika pada suatu ketika Ratri dapat melepaskan diri, maka segera ia berlari menghambur mendahului kawan-kawannya sambil berkata, “Jangan ganggu. Aku tidak mau.” Yang terdengar adalah gelak tawa gadis-gadis itu, sehingga beberapa orang yang tinggal disebelah menyebelah jalan itu, menjengukkan kepala mereka dari pintu-pintu rumahnya, termasuk ibu Bramanti. “Ada apa he?”, bertanya seorang perempuan setengah tua yang berpapasan dengan gadis-gadis itu. “Bertanyalah kepada Ratri bibi,” jawab salah seorang dari mereka sambil tertawa. “Ah kau,” perempuan itu pun tersenyum ketika ia melihat Temunggul bersama kawan-kawannya tersembul dari tikungan. “Itulah sebabnya.” “He, darimana bibi tahu?” Perempuan tua itu mengerutkan keningnya. “Bukankah anakku kawan bermain Ratri dan kawan bermain kalian? Baru kali ini ia tidak keluar rumah karena sakit perut.” “O,” gadis-gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, pasti ia bercerita kepada bibi.” “Ya. Kepadaku, kepada ayahnya, kepada adik-adiknya.” “Dan mereka masing-masing pun bercerita pula bukan bibi?” “Tentu, tentu.” Gadis-gadis itu tertawa. Perempuan tua itu pun tertawa pula. “Sst,” desis salah seorang gadis itu. “Itu dia. Nanti ia marah.” “Mana mungkin ia marah. Ia mengharap kita mengganggunya terus. Semakin sering, semakin menyenangkan hatinya.” “Tetapi Ratri telah lari mendahului kita.” “Anak itu malu mengakuinya.” Sekali lagi terdengar mereka tertawa bergelak-gelak. Sehingga perempuan setengah tua itu berdesis. “Sst, tidak pantas gadis-gadis tertawa sampai memperlihatkan giginya. Apalagi di jalan seperti kalian sekarang. Ayo. Cepat pulang. Tertawalah di dalam bilik masing-masing. “Apakah bibi tidak pernah tertawa selagi masih gadis?” “Tentu pernah, tetapi tanpa memperlihatkan gigi.” “Sst, itu. Ia akan melampaui kita.” Tiba-tiba gadis itu berhenti tertawa. Mereka tidak beranjak dari tempat mereka. Meskipun mereka berpura-pura tidak melihat Temunggul dan kawan-kawannya, tetapi mereka menahan tertawa mereka di dalam mulut. Sedang perempuan setengah tua itu telah meneruskan perjalanannya pergi ke sawah mengantar makan dan minum bagi suaminya. “Kenapa kalian berhenti?” bertanya Temunggul. “Jangan kau cari disini,” sahut salah seorang gadis-gadis itu. “Siapa?” “Uh, kau masih pura-pura bertanya?” sahut yang lain. “Aku tidak tahu. Siapakah yang kalian maksud itu?” “Keleting Kuning. Kenapa Ande-Ande Lumut masih juga bertanya?” “Ah,” desis Temunggul. Tetapi sebelum ia sempat berkata lebih lanjut, tiba-tiba mereka terkejut ketika beberapa butir kelapa berjatuhan hampir bersamaan. Dengan serta merta Temunggul, kawan-kawannya dan gadis-gadis itu menengadahkan kepalanya. Merekapun kemudian melihat Bramanti masih berada di puncak pohon kelapa di halaman rumahnya. Agaknya Temunggul merasa terganggu. Wajahnya yang cerah tiba-tiba berkerut. Dengan nada datar ia bergumam, “Anak itu agaknya sudah gila.” Tanpa berpaling lagi ia melangkah memasuki regol halaman Bramanti. Dengan wajah yang buram ia berteriak, “He, Bramanti. Apakah kau sudah menjadi gila?” Bramanti tidak menyahut. “Turun,” teriak Temunggul. Gadis-gadis menjadi ketakutan melihat sikap Temunggul. Maka merekapun segera meninggalkan tempat itu, pulang ke rumah masing-masing. “Turun,” sekali lagi Temunggul berteriak. Bramanti kini menyadari. Ketika ia melihat gadis-gadis itu mengganggu Temunggul, tanpa diketahui sebab-sebabnya ia merasa terganggu pula. Karena itulah, maka tiba-tiba saja ia memotong sejanjang buah kelapa yang masih belum tua benar. Karena Bramanti belum juga turun, dan tidak menjawab sepatah katapun, maka sekali lagi Temunggul berteriak lebih keras, “Turun, kau dengar. Atau aku akan merobohkan pohon kelapa ini.” Hampir saja Bramanti menjawab tantangan itu. Tetapi untunglah, bahwa ia segera berhasil menahan dirinya. Karena itu, maka perlahan-lahan ia merayap turun.

Leave a Reply