Tanah Warisan 020

27 Agustus 2001 BELUM lagi Bramanti sampai di tanah, terdengar ibunya bertanya, “Angger Temunggul, kenapa dengan Bramanti?” Temunggul berpaling. Dilihatnya seorang perempuan tua dalam kecemasan. Namun ia sama sekali tidak mengacuhkannya lagi. Perhatiannya telah tercurah kepada Bramanti, yang menjadi semakin marah. “He, Bramanti. Apakah maksudmu dengan memanjat pohon kelapa itu he? Apakah kau sengaja mengejutkan aku?” Bramanti menggeleng sareh. “Tidak Temunggul. Aku tidak mempunyai kesengajaan apapun untuk tujuan apapun.” Kini Bramanti telah berdiri ditanah, berhadapan dengan Temunggul. Keduanya adalah anak-anak muda yang sedang mekar. Keduanya dahulu adalah kawan sepermainan yang akrab. “Apakah kau berbuat demikian bukan sekadar untuk mengganggu gadis-gadis itu.” “Aku tidak begitu memperhatikannya,” jawab Bramanti. “Dan aku tidak tahu, katakanlah tidak memperhatikan, bahwa ada beberapa orang gadis di jalan itu.” “Gila kau,” Temunggul berteriak, “Sekarang hati-hatilah apabila kau ingin berbuat sesuatu. Mungkin kelapamu itu dapat jatuh di atas kepala seseorang, kalau caramu demikian. Dimanapun juga tidak lazim memetik buah kelapa sejanjang sekaligus seperti yang kau lakukan itu.” “Tetapi aku tahu benar, bahwa pohon kelapa itu tidak berada di pinggir jalan Temunggul, sehingga dengan demikian buahnya tidak akan mungkin jatuh ke jalan itu.” “Diam,” bentak Temunggul. “Sekarang memang demikian. Kebetulan pohon kelapa itu tidak ada di pinggir jalan. Tetapi lain kali, dalam kegilaanmu, kau akan berbuat lain.” Bagaimana juga Bramanti adalah seorang anak muda. Karena itu, sebenarnya terlampau sulit baginya untuk menahan diri. Apalagi ketika ia melihat anak-anak muda kawan Temunggul berdiri berjajar di depan regol sambil bertolak pinggang. Namun sebelum ia menjawab terdengar suara ibunya. “Bramanti, mintalah maaf. Kau telah membuat suatu kesalahan.” Dada Bramanti berdebar. Tetapi ketika dilihatnya wajah ibunya yang kecemasan, maka kemudian wajahnyapun tunduk. Dengan nada yang berat ia berkata, “Aku minta maaf Temunggul.” “Kali ini aku maafkan kau. Tetapi lain kali, aku akan berbuat sesuatu untuk menghajarmu.” “Terima kasih ngger,” terdengar suara perempuan tua yang ketakutan itu. Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ditatapnya tubuh Bramanti dari ujung ubun-ubun sampai ke ujung dari kakinya. Sejenak kemudian terdengar Temunggul berdesis. “Tubuhmu sempurna Bramanti. Kalau kau tidak gila, kau dapat menjadi anggota anak-anak muda pengawal Kademangan ini.” “Kalau saja diperkenankan, aku akan senang sekali,” jawab Bramanti. “Tetapi anggota pengawal Kademangan seharusnya bukan laki-laki cengeng.” Bramanti menarik nafas dalam-dalam, “Aku, akan mencoba.” “Tetapi penerimaan itu harus melalui pendadaran. Tidak setiap orang dapat diterima.” Bramanti tidak segera menyahut. “Nah, di dalam pendadaran itulah kita akan melihat, apakah seorang pantas untuk diterima menjadi anggota pengawal kademangan.” “Apakah aku juga diperkenankan Temunggul?” bertanya Bramanti kemudian. “Kau masih dalam pengawasan. Kalau kau ternyata tidak melanggar segala janji yang pernah kau ucapkan di muka Ki Demang dan kepadaku, maka kau akan mendapat kesempatan. Tetapi sebelum kau ikut dalam pendadaran, kau dapat melihatnya. Berapa hari lagi akan ada pendadaran serupa itu. Dua orang telah menyatakan keinginannya untuk menjadi anggota pengawal. Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa sesadarnya bertanya, “Siapakah pemimpin anak-anak muda anggota pengawal di Kademangan ini.” “Aku,” jawab Temunggul sambil mengangkat dadanya. Bramanti menarik nafas dalam-dalam. “Nah, cobalah melihat pendadaran itu. Kalau kau merasa sanggup juga, dan ternyata bahwa kau tidak akan melenggar segala janjimu, maka kau akan diterima kembali dalam pergaulanmu di masa kanak-kanak.

Leave a Reply