Tanah Warisan 022
29 Agustus 2001″TEMUNGGUL telah memberitahukan hal ini kepadaku, dan ia mengajak aku
untuk melihatnya,” katanya di dalam hati. Namun kemudian timbul
pertanyaan, “Apakah ia bersungguh-sungguh.”
Selagi Bramanti masih belum menemukan jawaban, tiba-tiba tangannya yang
sedang meraut sepotong bambu terhenti. Ia mendengar seseorang
memanggil namanya. Dan ketika ia berpaling, maka dilihatnya sebuah kepala
menjenguk dari balik pintu regol halamannya, Temunggul.
Bramanti meletakkan parang dan sepotong bambu di tangannya. Kemudian
iapun berdiri dan melangkah ke regol.
“Tidak sepantasnya seorang anak muda tidak berani melangkahi tlundak
pintu regol halaman,” tegur Temunggul yang masih menjengukkan kepalanya.
Bramanti mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab. Hanya
langkahnya sajalah yang masih tetap membawanya mendekati Temunggul. Bahkan
matanya pun lurus-lurus memandang wajah anak muda yang kini telah berdiri
tepat di pintu.
“Kenapa kau berubah menjadi terlampau jinak sekarang Bramanti,” berkata
Temunggul kemudian, “O, pada masa kecilmu kau termasuk anak yang
paling liar di desa kita.”
Bramanti masih belum menjawab. Ketika ia kemudian berhenti beberapa
langkah di depan Temunggul, ia menarik nafas dalam-dalam.
“Nah, Bramanti,” berkata Temunggul kemudian, “Apakah kau tidak tertarik
untuk melihat pendadaran besok?”
Hati Bramanti terlonjak melihat kesempatan itu, sehingga dengan
serta-merta ia menjawab, “Tentu, Temunggul, aku ingin melihat.”
“Pergilah ke halaman banjar. Kau akan melihat betapa kawan-kawanmu
semasa kanak-kanak telah mendapat kesempatan untuk maju. Jauh lebih baik
dari anak-anak muda di Kademangan ini semasa kita kecil. Kau akan dapat
mengukur dirimu sendiri, apakah kau akan dapat menempatkan dirimu di
antara kami. Seandainya kau mempunyai niat apapun, kau akan dapat melihat
kemungkinan apakah yang dapat kau lakukan.”
Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Namun ia menjawab, “Baiklah
Temunggul. Aku akan melihat besok. Mudah-mudahan aku dapat melihat betapa
kecilnya aku berada di antara kalian.”
“Kau memang terlampau cengeng, tidak menyangka, bahwa hatimu, anak yang
liar di masa kecil itu, kini menjadi sekecil biji kemangi.”
Bramanti menggigit bibirnya. Namun ia tidak menjawab. Dicobanya menekan
gelora yang mengguncang dadanya. Di dalam hati ia berkata, “Terlampau
berat. Terlampau berat untuk menahan hati di antara anak-anak gila
ini.”
“Sudahlah,” berkata Temunggul. “Aku baru saja pergi ke bendungan. Aku
sengaja singgah kemari untuk memberitahukan kepadamu, bahwa kami seluruh
Kademangan selalu bergerak maju. Karena itu kau jangan tidur saja di
dalam bilikmu.”
Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab
supaya Temunggul tidak mendengar bahwa suaranya menjadi gemetar.
Sejenak kemudian maka Temunggul itupun meninggalkan regol halamannya.
Sedangkan Bramanti masih saja berdiri membatu di tempatnya. Ia merasakan
hubungan yang aneh antara dirinya dengan Temunggul, hanya karena
kebetulan pada saat ia datang kembali di kampung halamannya, ia bertemu
dengan Ratri.
“Tidak hanya sekadar itu,” katanya kemudian perlahan-lahan sekali.
“Riwayat keluarganya ikut juga menentukan sikapnya dan sikap anak-anak muda
di Kademangan ini,” sejenak ia terdiam, lalu “Tetapi besok aku akan
datang. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu.”
Sebenarnyalah, di hari berikutnya Bramanti berkemas-kemas untuk pergi
ke halaman Banjar Kademangan, meskipun ia menjadi ragu-ragu ketika ia
minta diri kepada ibunya.
“Kau lebih baik tinggal di rumah hari ini Bramanti,” berkata ibunya.
“Temunggul mengundang aku untuk melihat ibu,” jawab Bramanti.
“Banyak kemungkinan dapat terjadi. Kau masih belum diterima sepenuhnya
oleh keluarga Kademangan ini.”
“Karena itu aku harus banyak menerjunkan diri ke dalam
pertemuan-pertemuan seperti dalam kesempatan ini. Aku akan mendapat kesempatan untuk
memperlihatkan, bahwa aku benar-benar ingin terjun kembali dalam
pergaulanku di masa lalu sepuluh tahun yang lampau. Sudah tentu dengan segala
perkembangan yang telah terjadi.”
Ibunya tidak menjawab. Tetapi di wajahnya yang telah berkerut merut,
membayangkan kecemasan.
“Ibu jangan cemas. Aku tidak akan berbuat apa-apa.”
Perempuan tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian,
“Hati-hatilah Bramanti. Kau akan bertemu dengan berbagai macam tabiat. Kau
harus berusaha menempatkan dirimu.”
“Baik ibu.”
Dan Bramanti itu pun pergi ke halaman banjar Kademangan dengan
keragu-raguan yang masih saja mengganggunya. Namun kemudian ia mencoba
memutuskan, “Aku akan berbuat sebaik-baiknya. Aku tidak akan menjerumuskan
diriku sendiri ke dalam kesulitan dan keharusan untuk berbuat sesuatu yang
akan mendorong aku semakin jauh dari pergaulan di Kademangan ini.”
Posted on November 21st, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 205 Views





Leave a Reply