Tanah Warisan 023
Fri. November 23, 2007Categories: Tanah warisan
30 Agustus 2001KETIKA Bramanti kemudian sampai di lorong induk Kademangan, ia mulai bertemu dengan anak-anak muda dan bahkan orang-orang tua yang akan pergi
ke halaman banjar untuk melihat pendadaran tingkat anggota pengawal
Kademangan. Mereka datang berbondong-bondong dalam kelompok-kelompok.
Bramanti menjadi berdebar-debar melihat anak-anak muda itu. Satu dua
dari mereka memandangnya dengan penuh curiga. Tetapi satu dua yang lain berdesis, “Bramanti.”Bramanti berjalan perlahan-lahan. Setiap kali ia mencoba menganggukkan kepalanya, meskipun anak-anak muda itu menjadi ragu-ragu untuk membalas anggukan kepalanya itu. Tetapi satu dua ada pula yang bertanya,
“Apakah kau akan pergi ke banjar juga Bramanti?”
“Ya,” sahut Bramanti sambil menganggukkan kepalanya. Untuk memperkuat alasan kehadirannya itu, ia berkata, “Temunggullah yang memberitahukan kepadaku, bahwa hari ini ada pendadaran di halaman banjar itu.”
“Ya. Kami pun akan melihat, apa saja yang dapat dilakukan oleh kedua anak-anak itu.” Sebelum Bramanti menyahut, anak-anak muda itu telah meninggalkannya.
Namun meskipun demikian Bramanti merasa, bahwa tidak semua orang menganggap bahwa dirinya adalah hantu jadi-jadian yang bangkit dari kubur ayahnya, yang harus diasing-asingkan, dan dibenci. Dengan langkah yang pasti, Bramanti kemudian menyelusur lorong itu di antara orang-orang lain yang pergi ke halaman banjar.
Ketika ia memasuki halaman yang luas, ternyata di halaman itu telah banyak sekali orang-orang yang telah lebih dahulu datang, laki-laki, perempuan, tua, muda dan bahkan anak-anak. “Dahulu pendadaran itu tidak pernah dengan cara terbuka seperti ini,” desis Bramanti didalam hatinya. “Pada masa kanak-kanak, belum pernah melihat satu kalipun pendadaran serupa ini.” Tetapi Bramanti tidak bertanya kepada siapapun.
Ia mengambil tempat yang tidak terlampau banyak pencampuran dengan anak-anak muda sebayanya, apalagi yang sudah dikenalnya dengan baik. Ia lebih senang memilih tempat di antara orang-orang tua yang kurang mengenalnya, sehingga dengan demikian, ia telah berusaha mengurangi persoalan yang dapat timbul atas dirinya.
Ketika matahari sudah naik setinggi bumbungan, maka pendadaran itupun
akan segera dimulai. Yang mula-mula tampil ke arena adalah Ki Demang, Ki
Jagabaya, seorang pengawal dari golongan orang-orang tua dan kemudian
pemimpin anggota pengawal Kademangan dari anak-anak muda, Temunggul.
Beberapa saat Ki Demang berbicara di depan rakyatnya, kemudian mulailah
Temunggul memanggil kedua pemuda yang akan mengalami pendadaran.
Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya ketika ia melihat kedua anak-anak muda itu. Tanpa sesadarnya ia berdesis. “Suwela dan Panjang.” Tetapi Bramanti tidak mengucapkan apapun lagi. Apalagi ketika ia melihat satu dua orang berpaling ke arahnya setelah mereka mendengar ia menyebut kedua nama itu.
Namun di dalam hatinya ia berkata terus. “Agaknya kedua anak-anak itu terlambat. Temunggul telah lebih dahulu masuk menjadi anggota, bahkan kini ia memegang pimpinan.” Perhatian Bramanti itupun kemudian terpusat kepada kedua anak-anak yang
kini telah berada di tengah-tengah arena itu pula. Sedang Ki Demang dan Ki Jagabaya, serta para pemimpin Kademangan yang lain telah bergeser menepi.
“Kesempatan pertama akan diberikan kepada anak-anak muda,” berkata Temunggul sambil memandang berkeliling. Bramanti bergeser setapak. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya di belakang seoorang laki-laki tua di depannya.
“Kalau seseorang mampu mengalahkannya, maka pencalonan ini akan gugur.”
Temunggul berhenti sejenak, kemudian, “Untuk menilai kemampuannya sebelum ada di antara kalian yang ingin mencobanya, maka akan diberikan kesempatan kepada keduanya untuk menunjukkan sampai tingkat manakah kemampuan mereka.”
Suasana menjadi hening. Sementara itu Temunggul menganggukkan kepalanya kepada Ki Demang dan Ki Jagabaya sambil bertanya, “Bukan begitu?”
Ki demang dan Ki Jagabaya menganggukkan kepala mereka.
“Ya, begitulah,” jawab Ki Jagabaya dengan suaranya yang bernada rendah.
“Nah, marilah kita mulai.”
Kesempatan pertama diberikan kepada Panjang. Dan agak ragu-ragu ia
melangkah ke pusat arena sambil menjinjing sepucuk tombak pendek. Dengan
tombak itulah ia akan memamerkan keprigelannya bermain senjata.
“Mulailah,” berkata Temunggul yang berdiri tidak begitu jauh dari padanya.
Panjang mengangguk. Kemudian mulailah ia mempersiapkan dirinya. Kakinya
kini merenggang, kemudian kedua tangannya menggenggam tangkai tombaknya.
Sejenak kemudian ia telah mulai berloncatan sambil memutar tombaknya.
Sekali-kali ia memantukkan ujung tombak itu, kemudian mengayunkannya mendatar. Kakinya meloncat dengan lincahnya. Sekali-kali ke depan. Kemudian mundur setengah langkah, namun tiba-tiba tubuhnya seakan-akan meluncur maju dengan cepatnya sambil menusukkan ujung tombak pendeknya. Tepuk tangan dan berteriak-teriak tidak menentu sambil melontar-lontarkan baju mereka ke udara.
Comments