Tanah Warisan 024
31 Agustus 2001, “BAGUS,” berkata Temunggul. “Kalian dapat menilai, apakah ada di
antaranya yang masih merasa perlu meyakinkan keprigelannya. Tetapi sebelumnya
marilah kita memberikan kesempatan kepada Suwela.”Suwela kemudian melangkah maju. Berbeda dengan Panjang yang masih
dibayangi oleh keragu-raguan, maka Suwela melangkah ke tengah-tengah arena
dengan kepala tengadah. Sambil tersenyum-senyum di gerak-gerakkannya
sepasang pedang di tangannya.
“Kau mendapat kesempatan itu,” berkata Temunggul, “Nah, mulailah.”
Suwela segera mulai dengan permainannya. Mula-mula ia melenting tinggi
sambil menyilangkan pedangnya. Kemudian demikian kakinya menyentuh
tanah, maka sepasang pedangnya telah berputar seperti sepasang sayap yang
menggelepar sebelah menyebelah. Dengan tangkasnya Suwela meloncat ke
berbagai arah. Kemudian melenting beberapa kali. Pada saat terakhir
dijatuhkannya dirinya, berguling beberapa kali, dan dengan gerak yang manis
sekali ia meloncat berdiri di atas kedua kakinya.
Tepuk tangan dan sorak-sorai kecil bagaikan meruntuhkan langit.
Sehingga untuk sejenak Suwela masih tetap berada di tengah-tengah arena sambil
mengangguk-angguk ke segala arah.
“Kesempatan itu telah datang,” berkata Temunggul. “Ayo, siapa yang
merasa bahwa kedua calon ini masih belum pada saatnya menjadi anggota
pengawal.”
Untuk sesaat arena itu menjadi sepi. Beberapa anak-anak muda saling
berpandangan. Tetapi belum seorangpun yang melangkah kakinya masuk ke
dalam arena.
“Ayo,” berkata Temunggul pula. “Siapa? Setidak-tidaknya kita akan tahu,
sampai di mana kemampuan kedua calon ini, sebelum mereka ditetapkan
menjadi anggota pengawal.”
Sejenak anak-anak muda Kademangan Candi Sari saling berpandangan. Namun
masih belum ada seorang pun yang maju ke arena.
“Tidak hanya anak-anak muda.” Temunggul berteriak lagi, “Siapapun boleh
selain mereka yang telah menjadi anggota pengawal.”
Sejenak arena itu menjadi hening. Baru sejenak kemudian semua mata
memandang seseorang yang dengan langkah ragu-ragu memasuki arena.
“Nah,” berkata Temunggul. “Kau agaknya yang ingin melihat, apakah kedua
anak-anak muda ini cukup bernilai untuk menjadi anggota pengawal.”
Orang itu menganggukkan kepalanya. Sambil tersenyum ia menjawab. “Aku
tidak akan berusaha mengalahkan mereka atau salah seorang daripadanya.
Aku tidak akan mampu. Tetapi seperti yang kau katakan Temunggul,
setidak-tidaknya kita akan dapat gambaran betapa kekuatan yang tersimpan di
Kademangan ini.”
“Bagus,” sahut Temunggul. “Senjata apakah yang akan kau pilih? Rotan,
cambuk atau jenis yang lain.”
“Aku akan memakai rotan.”
“Baik,” berkata Temunggul kemudian. “Siapakah yang akan kau pilih
menjadi lawanmu? Suwela atau Panjang?”
“Salah seorang daripadanya. Yang manapun juga,” jawab orang itu.
Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ditatapnya Suwela
yang masih berdiri ditengah-tengah arena. “Kaulah yang masih berdiri
disini. Lawanmu akan mempergunakan rotan. Apakah yang akan kau pilih
sebagai senjata?”
“Akupun akan mempergunakan rotan,” sahut Suwela.
“Bagus. Bersiaplah kalian.”
Suwela segera meletakkan pedangnya dan menerima dua potong rotan. Yang
sepotong agak panjang, sedang yang lain lebih pendek. Demikian juga
orang yang menyatakan dirinya menjajagi kemampuan Suwela itu.
Suwela yang segera telah bersiap, tersenyum sambil berkata, “Hem,
agaknya kau menaruh minat juga pada permainan ini Jene. Aku memang sudah
menyangka.”
Orang yang bernama Jene itupun tersenyum pula. “Aku hanya ingin
bermain-main.”
Sementara itu Temunggul yang juga memegang sepotong rotan berkata,
“Marilah, permainan segera akan dimulai.”
Suwela dan Jene pun segera bersiap. Mereka berdiri berhadapan dengan
sepasang rotan di kedua tangan masing-masing.
Temunggul mengangkat rotan di tangannya. Kemudian berkata, “Kalau aku
mengayunkan rotan ini, maka permainan akan segera dimulai. Aku percaya
bahwa kalian telah memahami segala macam peraturan dan pantangan di
permainan ini.”
Keduanya mengangguk sambil mempersiapkan diri. Kaki mereka merenggang
sedang sepasang rotan masing-masing bersilang di muka dada.
Sejenak kemudian rotan di tangan Temunggul mulai bergerak. Dan dalam
sekejap rotan itu telah terayun dengan derasnya.
Orang-orang yang mengelilingi arena itu mulai menjadi tegang. Mereka
melihat Suwela dan Jene mulai berputar-putar sambil menggerakkan
tongkat-tongkat rotan mereka. Sekali-kali rotan-rotan itu berputar, kemudian
menyilang rendah. Sedang tongkat rotan yang pendek mereka pergunakan
sebagai perisai apabila serangan benar-benar datang menyambar.
Bramanti yang berdiri di antara penonton menarik nafas dalam-dalam.
Suwela menjadi kecewa ketika tidak seorang pun yang bersedia memasuki
arena. Dengan demikian ia tidak akan mendapat gambaran sampai berapa jauh
kemajuan yang telah dicapai oleh kawan-kawan yang hampir sebayanya.
Namun agaknya harapannya itu dapat terpenuhi.
Posted on November 26th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 249 Views





Leave a Reply