Tanah Warisan 025
01 September 2001 DENGAN penuh perhatian ia melihat, betapa kaki Suwela meloncat-loncat dengan lincahnya, sedang Jene bergerak lamban, namun mantap. Seolah-olah kakinya melekat kuat-kuat di atas tanah tanpa tergoyahkan, apabila ia
sedang berdiri tegak dengan kaki merenggang.Rotan-rotan itu telah mulai bergerak-gerak. Kadang-kadang berputar di
atas kepala, namun kadang-kadang terayun-ayun disisi tubuh.
Sejenak kemudian Jenelah yang mulai melancarkan serangan-serangannya
yang mantap. Ayunan rotannya menyambar dengan dahsyatnya. Ternyata bahwa
anak muda itu mempunyai kekuatan yang luar biasa. Namun lawannya cukup
lincah untuk mengimbangi kekuatan itu. Dengan sigapnya Suwela
menghindar sambil menyentuh rotan lawannya, sehingga rotan itu menjadi berubah
arah.
Tetapi Jene segera memperbaiki kesalahannya. Ia bergerak setapak, dan
sekali lagi memutar rotannya dan langsung terayun kelambung lawannya. Ia
meloncat selangkah surut sambil membungkukkan badannya, sehingga ujung
rotan lawannya meluncur beberapa nyari saja dari perutnya.
Bramanti yang menyaksikan permainan itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Di dalam hatinya ia berkata, “Mereka mempunyai kemampuan yang cukup.
Kalau Jene dan Suwela dapat bermain demikian baik, apalagi Temunggul, Ki
Jagabaya dan Ki Demang. Tetapi kenapa tidak seorangpun yang berani
berdiri di paling depan untuk melawan Panembahan Sekar Jagat? Apakah
rata-rata kemampuan anak-anak Sekar Jagat itu nggegirisi?”
Bramanti terkejut ketika ia melihat Suwela terpaksa melontarkan dirinya
beberapa langkah surut. Sedang Jene tidak membiarkan kesempatan itu
lewat. Dengan loncatan panjang ia memburu. Namun tiba-tiba langkahnya
terhenti. Bahkan ia terdorong surut selangkah ketika tiba-tiba saja, tanpa
disadarinya ujung rotan Suwela telah mendorong ikat pinggang kulitnya.
“Uh,” ia mengeluh pendek. Namun segera ia memperbaiki keadaannya,
sehingga ketika Suwela berganti menyerang, Jene berhasil menangkisnya.
“Cukup baik,” Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bergumam
di dalam hatinya. “Jene mempunyai kekuatan yang cukup, sedang Suwela
adalah seorang anak muda yang lincah. Perkelahian ini pasti memerlukan
waktu yang lama sebelum salah seorang dari mereka melemparkan sepasang
rotannya.”
Tetapi sejenak kemudian Bramanti melihat, bahwa betapapun kuatnya Jene,
namun kelincahan Suwela setiap kali berhasil mendahului gerak lamban
Jene. Meskipun kadang-kadang dalam benturan senjata Suwela harus
mempertahankan rotannya agar tidak terlepas, namun setiap kali rotannya
menjadi silang menyilang di wajah kulitnya yang kekuning-kuningan itu.
Temunggul yang menunggui permainan itu, mengikutinya dengan tegang.
Setiap kali ia menarik nafas, dan bahkan setiap kali ia menyeringai
seolah-olah ialah yang dikenai oleh salah satu dari dua pasang rotan yang
bergerak berputar-putar itu.
Akhirnya Bramanti melihat bahwa Jene pasti tidak akan dapat bertahan
lebih lama lagi. Saat-saat berikutnya rotan Suwela menjadi lebih sering
mengenai tubuh lawannya, sehingga pada suatu saat Jene meloncat
jauh-jauh ke belakang sambil melepaskan kedua rotan dari tangannya, “Aku
menyerah,” katanya.
Posted on November 26th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 338 Views





on May 19th, 2011 at 3:02 pm Said:
I posted about this earlier on my own web site. Your article has actually given me some food for thought, I feel you might have made many very intriguing points. I want I might discovered it earlier, previous to writing my own post.