Tanah Warisan 026
01 September 2001, SEPERTI Jene maka anak muda itu tidak dapat melampaui kelincahan Panjang, meskipun ilmu mereka sebenarnya tidak terpaut banyak.
Kemenangan Panjang pun disambut dengan gemuruhnya tepuk tangan dan
sorak surai. Anak-anak kecil berloncat-loncatan sambil mengacung-acungkan
tangan mereka. Dan dengan suara yang melengking-lengking, mereka
berteriak-teriak. “Panjang menang, Panjang menang.”
Selanjutnya ternyata masih ada beberapa orang lain yang ingin melihat,
apakah Suwela dan Panjang benar merupakan calon yang paling tepat, dan
tidak ada yang menjadi anggota pengawal Kademangan.
Tetapi ternyata Suwela dan Panjang mampu mempertahankan pencalonan
mereka, sehingga orang yang terakhirpun tidak dapat mengalahkannya.
“Kalau masih ada yang ingin mengajukan dirinya untuk melakukan
pendadaran, pasti masih akan diterima, tetapi karena Suwela dan Panjang telah
lelah, maka untuk adilnya, permainan akan ditunda sampai besok. Nah,
apakah masih ada yang ingin mencoba lagi?”
Tidak seorangpun yang menyatakan dirinya. Beberapa kali Temenggul
mengulanginya, namun agaknya memang sudah tidak ada seorang pun yang akan melakukannya.
Temunggul mengedarkan pandangan matanya berkeliling untuk melihat
apabila ada satu dua orang yang ingin menyatakan dirinya. Tetapi ia tidak
melihatnya.
Namun tiba-tiba tatapan matanya itu berhenti pada seseorang yang justru
mencoba menyembunyikan dirinya di antara para penonton.
Sejenak Temunggul berdiam diri. Namun kemudian ia tersenyum.
Perlahan-lahan ia melangkah maju mendekat.
Semua mata mengikutinya dengan pertanyaan di dalam hati. Bahkan Ki
Jagabaya yang duduk di antara para pemimpin Kademangan yang lain, bergeser
sambil bergumam, “Apa yang akan dilakukan anak itu?”
Tidak seorang pun yang menyahut, karena memang tidak ada seorang pun
yang mengerti, apa yang akan dilakukan oleh Temunggul.
“Kemarilah,” tiba-tiba Temunggul berkata lantang, “Ayo, kemarilah.”
Sejenak tidak ada jawaban. Karena itu, sekali lagi Temunggul berkata,
“Bramanti, kemarilah.”
Dada Bramanti menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak beranjak dari
tempatnya.
“Suwela,” berkata Temunggul. “Kau masih mempunyai seorang lawan.”
Kemudian kepada Bramanti ia berkata, “Nah, Bramanti. Untuk menjadi seorang
laki-laki. Nah, cobalah turun ke arena. Apakah kau juga seorang
laki-laki yang pantas berada di dalam lingkungan permainan kami seperti semasa
kanak-kanak.”
Bramanti masih belum beranjak dari tempatnya.
“He, kenapa kau diam saja? Kemarilah.”
Bramanti masih diam.
Temunggul menarik nafas dalam-dalam, kemudian katanya, “Kau harus jadi
seorang laki-laki. Kalau kau tidak mau datang kemari, maka kau akan aku
tarik.
Ternyata Temunggul tidak hanya menakut-nakuti. Selangkah demi selangkah
ia mendekatinya.
Bramanti tidak mempunyai pilihan lain, kecuali memenuhi permintaan itu.
Dengan dada yang berdebar-debar ia melangkah memasuki arena.
“Nah, begitulah anak laki-laki,” teriak Temunggul yang kemudian kepada
segenap penonton ia berteriak. “He, tataplah anak muda yang perkasa
ini. Inilah putera paman Pruwita. Ia pasti mempunyai kemampuan seperti
ayahnya. Karena itu, marilah, kau harus melakukan penjajagan juga atas
kedua calon ini.”
Bramanti menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak akan melakukannya
Temunggul. Aku tidak akan dapat berbuat apa-apa. Aku sudah yakin bahwa
Suwela dan Panjang mempunyai kemampuan yang cukup untuk menjadi
anggota pengawal Kademangan.”
Temunggul tertawa. Katanya, “Ayolah. Bersikaplah sebagai seorang anak
laki-laki. Apalagi putera paman Pruwita yang hampir-hampir tidak
terkendali itu. Kau pun, harus menunjukkan bahwa kau adalah seorang laki-laki.
“Tetapi aku tidak akan melakukannya.”
“Karena kau tidak ingin?” ulang Temunggul.
“Bukan, bukan. Maksudku, karena aku tidak berani.”
Sekali lagi Temunggul tertawa. Kemudian ditariknya tangan Bramanti, dan
dibawanya anak itu ke tengah-tengah arena. Sambil mengangkat tangan
Bramanti Temunggul berkata, “Untuk mendapatkan tempatmu kembali diantara
kami, kau harus berani berkelahi dengan cara ini. Menang atau kalah
bukan soal. Tetapi sebagai seorang laki-laki kau tidak boleh menjadi
gemetar ketakutan.”
Bramanti tidak segera menjawab. Dadanya sedang diamuk oleh kebimbangan
dan keragu-raguan.
Sementara itu, Temunggul terkejut ketika ia mendengar suara yang
bernada berat. “He, siapakah anak itu?”
Temunggul berpaling. Dilihatnya Ki Jagabaya berdiri mendekatinya,
“Apakah anak itu Bramanti yang pernah kau bawa ke Kademangan?”
“Ya Ki Jagabaya,” jawab Temunggul.
“Akan kau apakan anak itu?”
“Aku harap ia berkelahi melawan Suwela atau Panjang.”
“Apakah itu memang kau kehendaki Bramanti?”
Posted on November 26th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 307 Views





Leave a Reply