Tanah Warisan 027

03 September 2001, BRAMANTI menggelengkan kepalanya, sehingga Ki Jagabaya itupun kemudian membentak. “Kalau begitu, pergi kau. Mau apa kau berada di tengah
arena?” Kemudian kepada Temunggul ia berkata, “Tidak ada peraturan yang
dapat memaksa seseorang harus bertanding. Lepaskan anak itu.”
“Tetapi,” Temunggul tergagap. “Maksudku, biarlah ia menjadi seorang
laki-laki.”
“Kenapa kau ribut-ribut tentang anak itu. Biar sajalah ia menjadi
perempuan atau menjadi banci. Itu bukan persoalanmu.”
Namun kata-katanya terputus oleh kata-kata Ki Demang, “Biarlah Ki
Jagabaya. Anak laki-laki Candi Sari tidak boleh cengeng. Karena itu, biarlah
ia merasakan serba sedikit, bahwa anak-anak muda Candi Sari harus
berwatak laki-laki.”
Ki Jagabaya menggeram, tetapi ia tida dapat berbuat apa-apa. Sambil
mengumpat-umpat ia kembali duduk di tempatnya.
Kini kembali Temunggul menengadahkan wajahnya. Di panggilnya Suwela
sambil berkata, “Nah, lihatlah, dan ajarilah Bramanti menjadi seorang
laki-laki.”
Suwelapun menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya wajah Temunggul,
kemudian wajah Ki Demang yang duduk di tepi arena disamping Ki Jagabaya.
Barulah ketika Ki Demang mengangguk kepadanya hatinya menjadi mantap.
“Nah Bramanti,” berkata Temunggul. “Senjata apakah yang akan kau
pergunakan?”
Bramanti tidak segera dapat menjawab. Sejenak ditatapnya wajah
Temunggul, Suwela, kemudian Ki Demang dan Ki Jagabaya.
Menanggapi sikap orang-orang Candi Sari, dada Bramanti serasa sudah
tidak dapat menampung lagi. Tetapi setiap kali teringat akan ibunya, maka
ia selalu berjuang untuk tetap menguasai perasaannya.
Ternyata nama ayahnya yang kurang menguntungkan baginya itu benar-benar
telah membawanya ke dalam berbagai kesulitan. Namun ia masih bertahan
pada pendiriannya. “Ini adalah salah satu ujud kebaktianku kepada orang
tua. Aku harus mencuci nama keluargaku dengan tingkah laku dan
perbuatan baik.” Kemudian terngiang kembali kata-kata ibunya, “Kenapa kau
pelajari ilmu semacam itu?”
Ayahmu juga mempelajari ilmu semacam itu dahulu.
Bramanti itu terkejut ketika ia mendengar Temunggul membentaknya, “He,
kenapa kau tidur? Ayo, sebut, senjata apakah yang kau kehendaki.”
Tetapi Bramanti menggelengkan kepalanya, “Aku tidak ingin berkelahi,
karena aku memang tidak mampu melakukannya.
“Persetan,” Temunggul menjadi jengkel. “Melawan atau tidak melawan
Suwela akan menyerang kau dengan caranya dan bersungguh-sungguh. Aku akan
menghitung sampai bilangan kesepuluh. Ayo cepat sebut senjata yang kau
kehendaki. Jangan membuat nama ayahmu tercemar. Ayahmu adalah seekor
serigala yang disegani di Kademangan ini lebih dari sepuluh tahun yang
lalu. Aku masih ingat, betapa ia seorang yang gagah perkasa. Kenapa kau
kini menjadi pengecut dan bahkan banci?”
Bramanti tidak dapat menjawab. Karena itu ia terdiam.
“Cepat,” teriak Temunggul.
Ki Jagabaya yang telah beringsut mengurungkan niatnya untuk berdiri,
karena Ki Demang mengamiatnya, “Biarlah saja,” berkata Ki Demang.
Ki Jagabaya menggeram. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa.
Bramanti akhirnya tidak dapat mengelak lagi. Ketika Temunggul
membentaknya sekali lagi ia menjawab, “Kalau aku terpaksa melakukannya,
terserahlah kepada Suwela, senjata apakah yang dikehendakinya.”
“Bagus,” sahut Temunggul yang kemudian bertanya kepada Suwela. “Senjata
apa yang kau kehendaki?”
“Cambuk,” sahut Suwela sambil tersenyum.
Temunggul mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian tersenyum pula.
“Bagus. Kalian akan memakai cambuk.”
“Tidak,” tiba-tiba Ki Jagabaya berteriak. “Terlampau berbahaya bagi
Bramanti.”
“Sudahlah Ki Jagabaya,” cegah Ki Demang, “Jangan campuri persoalan
anak-anak.”
Ki Jagabaya terdiam. Namun ia masih berkumat-kamit.
Sementara itu, Temunggul telah memberikan sebuah cambuk kepada Suwela
dan sebuah kepada Bramanti sambil berkata, “Nah, kalian akan segera
bertanding sebagai anak laki-laki. Bukan anak-anak cengeng. Karena itu
tidak boleh menangis dan berlindung kepada ibu masing-masing.”
Terdengar suara tertawa tertahan di antara para penonton. Namun karena
mereka melihat Temunggul tertawa, akhirnya suara tertawa itu pun
meledak.
Suara tertawa di seputar arena terasa seperti percikan bara api di
telinga Bramanti. Tetapi sekali lagi mencoba menahan hatinya.
“Kalau aku membuat kesalahan, aku akan di usir dari Kademangan ini. Aku
akan kehilangan tanah kelahiran yang tercinta ini, dan ibupun akan
semakin menderita,” katanya di dalam hati. Karena itu maka ia telah
berjuang untuk mengambil suatu keputusan, bahwa ia tidak akan melawan.
Sejenak kemudian maka Temunggul telah melangkah surut sambil berkata,
“Aku akan menghitung sampai tiga. Kemudian kalian akan mulai dengan
pertandingan itu.
Sejenak kemudian terdengar Temunggul mulai menyebut urutan bilangan
itu. “Satu, dua, tiga.”

Leave a Reply