Tanah Warisan 028

04 September 2001, BERBARENG dengan terkatubnya mulut Temunggul, terdengarlah cambuk Suwela meledak sehingga Bramanti terkejut karenanya dan meloncat selangkah
surut. Sikap Bramanti itu telah meledakkan tawa sekali lagi di seputar arena.
Namun kali ini hati Bramanti tidak lagi menjadi panas, karena justru ia
telah menemukan keputusan.

“He, jangan lari,” desis Suwela sambil melangkah maju, sedang Bramanti
terus-menerus bergeser mundur, melingkar dan kemudian meloncat.
Suwela tertawa, dibarengi oleh suara tertawa orang-orang yang melihat
pertunjukan itu.
“”Aku akan mulai Bramanti,” berkata Suwela. “Terserah kepadamu, apa
yang akan kau lakukan.”
Bramanti tidak menyahut. Tetapi tangannya menjadi gemetar dan ujung
cambuknya diseretnya di atas tanah yang berdebu.
Tetapi agaknya Suwela benar-benar akan mulai. Di angkatnya tangkai
cambuknya, kemudian sekali lagi menggelepar di udara sambil melontarkan
bunyi yang memekakkan telinga. Meskipun ujung cambuk itu belum menyentuh
tubuhnya, namun Bramanti telah mengerutkan keningnya.
Dan tiba-tiba saja cambuk itu menggelepar sekali lagi di susul oleh
suara keluhan terdengar. Bramanti meloncat beberapa langkah mundur sambil
menyeringai kesakitan. Seleret jalur merah telah membekas ditengkuknya.

“He anak Pruwita, kenapa kau menangis he?”
“Ayo, lawanlah Suwela,” teriak yang lain.
Bramanti menggigit bibirnya sambil meraba jalur merah ditubuhnya itu.
Tetapi Suwela seolah-olah tidak tahu, bahwa Bramanti sedang menyeringai
kesakitan. Perlahan-lahan ia melangkah mendekat sambil
menggerak-gerakkan tangkai cambuknya.
Bramanti menjadi semakin terdesak mundur. Tetapi pada suatu saat ia
tidak dapat mundur lagi. Bahkan beberapa anak-anak muda yang berdiri di
seputar arena itulah mendorongnya maju.
Pada saat Bramanti sedang terhuyung-huyung karena dorongan anak-anak
muda di belakangnya sambil menyorakinya, sekali lagi cambuk Suwela
meledak. Kini punggung Bramantilah yang merasa disengat oleh ribuan lebah.
Tetapi agaknya Suwela masih belum puas. Sesaat kemudian terdengar
cambuk itu terdengar Bramanti berteriak kesakitan.
Sekali lagi Suwela tertawa terbahak-bahak dibarengi oleh orang-orang
yang menonton diseputar arena.
“Ayo anak Pruwita. Kalau kau ingin membalas dendam, sekarang adalah
saat yang paling baik. Ayah-ayah kami ingin melihat, apakah anak Pruwita
mampu berbuat seperti ayahnya.”
Bramanti mengerutkan tubuhnya sambil merintih kesakitan. Tiba-tiba
dilemparkannya cambuknya sambil berkata, “Aku minta ampun.”
Sekali lagi suara tertawa meledak seolah-olah memanggil bunyi puluhan
guruh yang meledak bersama-sama. Anak-anak berteriak-teriak memanggil
nama Bramanti, sedang orang-orang tua memalingkan wajahnya sambil meludah
ditanah. Inilah anak Pruwita itu.
Tetapi agaknya Suwela masih belum puas. Ia meloncat sekali lagi
mendekat. Tetapi ketika tangannya terangkat, maka terdengar Ki Jagabaya
berteriak, “He, kau gila Suwela. Anak itu sudah melepas senjata.”
“Ia menjadi takut,” desis Temunggul.
Namun Ki Jagabaya berteriak lagi, “Menurut ketentuan, apabila salah
satu pihak telah melepaskan senjata, itu berarti ia telah mengakui
kekalahan. Pertandingan tidak perlu diteruskan.
“Tetapi ini bukan penjajakan dalam rangka pendadaran. Kali ini kami
ingin mengajari Bramanti untuk menjadi seorang laki-laki. Anak laki-laki
Candi Sari. Itu saja.”
“Tetapi itu sudah keterlaluan. Itu sama sekali bukan mengajari. Yang
dilakukan oleh Suwela adala penyiksaan tanpa perikemanusiaan.”
“Bukan maksud kami Ki Jagabaya,” sahut Suwela.
“Apa, apa kau bilang? Kau berani membantah he anak manis?”
Suwela mengerutkan keningnya. Di pandanginya wajah Ki Demang yang
justru tersenyum. Kemudian katanya, “Sudahlah Ki Jagabaya. Jangan marah.
Tetapi kau benar, bahwa perkelahian harus dihentikan.” Lalu katanya kepada
Tumenggung, “Sudahlah. Aku berharap bahwa Bramanti akan dapat menjadi
seorang anak laki-laki dari Kademangan Candi Sari.”
“Nah,” berkata Temunggul kemudian, “Apakah kau masih bermaksud untuk
menjadi anggota pengawal Kademangan ini?”
Bramanti tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam.
“Renungkan apa yang kau lihat hari ini,” berkata Temunggul. “Mungkin
suatu ketika kau ingin menjadi pengawal seperti Suwela dan Panjang.”
Kata-kata Temunggul itu disambut oleh suatu tertawa gemuruh. Beberapa
anak-anak muda yang lain berteriak-teriak tidak menentu. Sedangkan
Bramanti masih saja menundukkan kepalanya.
“Pergilah,” berkata Temunggul kemudian. Bramanti tidak menunggu
Temunggul mengucapkannya untuk kedua kalinya. Dengan tergesa-gesa ia menyeret
kakinya tertatih-tatih keluar arena.

Leave a Reply