Tanah Warisan 029

05 September 2001, KETIKA ia telah berada di antara para penonton, ia menarik nafas
dalam-dalam. Ia terkejut ketika seorang laki-laki agak kekurus-kurusan menggamitnya. Ketika ia memandanginya wajah laki-laki itu, ia mendengar orang
itu bergumam, “Sakit.”
Bramanti mengangguk, jawabnya, “Ya paman.”
“Kau masih ingat aku?”

Sekali lagi Bramanti mengangguk, “Masih paman.”
“Aku dulu tidak sekurus sekarang ketika aku menjadi pembantu ayahmu.”
Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Sebaiknya kau pulang saja. Anak-anak memang dapat berbuat aneh-aneh
terhadapmu.”
Bramanti mengangguk, “Ya paman. Tetapi aku akan mendengarkan hasil
pendadaran kedua anak-anak muda itu.”
Laki-laki yang tinggi kekurus-kurusan itu mengangguk. Katanya, “Mereka
belum akan diterima hari ini. Biasanya masih ada yang harus mereka
lakukan.”
Bramanti tidak menyahut. Kini dilihatnya Temunggul berdiri di tengah
arena sambil menengadahkan dadanya. Sejenak kemudian ia berkata,
“Pendadaran tingkat pertama telah selesai. Keduanya telah dapat mengatasinya.
Untuk seterusnya kami selalu menunggu kawan-kawan yang sedang tumbuh.”
Temunggul berhenti sejenak, “Dan kamipun akan selalu menunggu kawan kami
yang telah lama sekali meninggalkan kampung halaman, Bramanti yang
telah menyatakan keinginannya, bahwa pada suatu ketika ia akan dapat
diterima menjadi pengawal Kademangan.”
Ketika Temunggul berhenti sejenak dan tersenyum aneh, maka anak-anak
muda yang lain pun bersorak pula. Sedangkan Bramanti berdiri menyudut,
dibelakang orang-orang lain. Namun orang-orang itupun berpaling kepadanya
sambil tersenyum pahit.
“Kita akan sampai pada pendadaran tingkat kedua,” berkata Temunggul
seterusnya, “Tetapi kita tidak akan mempergunakan kuda liar lagi. Kita
akan mengambil cara yang bermanfaat bagi kita sekarang ini.”
Temunggul itu berhenti pula sesaat. Dipandanginya wajah-wajah Suwela
dan Panjang yang menegang.
“Kalian berdua,” berkata Temunggul kemudian, “Diberi kesempatan sepekan
lamanya untuk menangkap harimau yang sering mengganggu Kademangan ini.
Harimau itu pasti harimau tua yang sudah tidak mampu lagi mencari
makanan di hutan-hutan sebelah. Nah, apabila kalian berhasil, maka kalian
dengan resmi akan diterima menjadi pengawal Kademangan ini. Kalian boleh
membawa senjata apa saja yang kallian kehendaki untuk memburu harimau
itu.” Temunggul berhenti pula sejenak, lalu, “Tetapi seandainya harimau
itu tidak muncul lagi, maka kalian boleh menukarnya dengan harimau
yang mana saja. Asal dalam waktu sepekan ini.”
Suwela dan Panjang saling berpandangan sejenak. Wajah mereka menjadi
tegang. Namun kemudian mereka berdua mengangguk-anggukkan kepala mereka.
“Apa kalian sangup melakukannya?” bertanya Temunggul.
“Tentu,” jawab Suwela. “Aku akan menangkap harimau itu bersama Panjang.
Harimau yang manapun juga.”
“Bagus,” berkata Temunggul. “Sekarang kita sudah selesai.”
Maka bubarlah mereka yang mengerumuni arena. Bramantipun dengan
tergesa-gesa meninggalkan tempat itu,supaya tidak timbul persoalan-persoalan
yang lain lagi, yang dapat membuatnya bertambah pening.
Ketika ia memasuki regol halaman rumahnya, ibunya telah berdiri di
ambang pintu pringgitan. Perempuan tua itu menarik nafas dalam-dalam.
Dengan serta merta ia bertanya, “Bukankah tidak terjadi sesuatu atasmu
Bramanti?”
Bramanti tersenyum. Jawabnya, “Tidak ibu. Aku hanya menonton saja.”
“Oh,” ibunya mendesah. “Syukurlah. Aku selalu dibayangi oleh kecemasan
tentang kau. Aku melihat sikap anak-anak yang tidak begitu baik
terhadapmu.”
“Aku berusaha menyesuaikan diri ibu. Aku tidak mendekati mereka. Aku
melihatnya dari kejauhan, di antara orang-orang tua, perempuan dan
kanak-kanak.”
Ibunya menganggukkan kepalanya. Kemudian ia bertanya, “Bagaimana dengan
kedua anak-anak muda yang ikut dalam pendadaran itu?”
“Suwela dan Panjang, yang kedua-duanya cukup baik untuk menjadi anggota
pengawal. “Bramanti berhenti sejenak, kemudian, “Tetapi justru itulah
yang mengherankan. Ternyata disini ada beberapa orang yang memiliki
kemampuan yang cukup. Namun tidak seorangpun yang berani melawan
Panembahan Sekar Jagat. Apalagi ikut serta dalam pergolakan yang terjadi antara
Pajang dan Mataram.
“O, jangan berbicara tentang itu lagi Bramanti,” potong ibunya,
“Berbicaralah tentang halaman ini, tentang rumah ini dan tentang Kademangan
ini.” (Bersambung)-m

Leave a Reply