Tanah Warisan 030

06 September 2001, “Aku juga sedang berbicara tentang Kademangan ini ibu. Bukankah masalah Panembahan Sekar Jagat itu juga masalah Kademangan ini, dan masalah
Pajang dan Mataram itu juga akan menyangkut langsung Kademangan ini?Apakah kita akan berpangku tangan selagi Mas Ngabehi Loring Pasar berusaha
membangun suatu pemerintahan yang akan dapat memperbaharui wajah
kerajaan Pajang yang sudah mulai suram karena solah Hadiwijaya yang agak
sisip saat terakhir.”
“Oh,” ibunya berdesah. “Aku tidak mengerti apa yang kau katakan itu.
Tidak seorang pun dari Kademangan ini yang melibatkan diri dalam
persoalan yang tidak dimengertinya”.

“Ya, itulah yang membuat kita semua disini menjadi kerdil.”
“Bramanti,” desis ibunya kemudian. “Sebaiknya kaupun tidak perlu ikut
melibatkan diri dalam persoalan yang tidak ada sangkut pautnya dengan
persoalan kita disini.”
Bramanti tidak menjawab, tetapi sorot matanya membayangkan gejolak
hatinya sehingga ibunya berkata, “Kau pasti akan pergi lagi dari rumah
ini.”
Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab lagi.
Ia merasa bahwa tidak ada gunanya lagi berbantah dengan ibunya. Ibunya
adalah salah seorang yang pendiriannya dapat lepas dari pendirian
kebanyakan orang di Kademangan ini, meskipun ibunya seakan-akan terpencil.
“Apakah kau mengerti maksudku Bramanti,” bertanya ibunya.
Bramanti menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya bu. Aku mengerti.”
“Bagus. Dengan demikian kau tidak akan pergi lagi dari rumah ini.”
Bramanti terdiam.
“Apapun yang terjadi di dunia di luar dunia kita biarlah itu terjadi.
Kita tidak perlu ikut mencampurinya.
Bramanti tidak menjawab. Kepalanya masih saja mengangguk-angguk
meskipun dadanya bergolak. Ia merasa bahwa masalah yang di-katakannya itu
adalah masalah yang asing bagi ibunya.
Ketika ibunya kemudian pergi ke dapur, maka Bramanti itupun turun pula
ke halaman. Pengamatannya yang pendek atas kampung halamannya telah
menumbuhkan banyak persoalan di dalam dirinya. Sekali-kali dirabanya
jalur-jalur merah di tubuhnya. Untunglah bahwa ibunya tidak melihatnya,
sehingga perempuan tua itu tidak mempersoalkannya. “Sampai kapan aku dapat
menahan diri menghadapi semua persoalan semacam ini,” desisnya. “Pada
suatu saat aku tidak akan dapat menahan hati lagi.”
Bramanti menjadi cemas sendiri. Apa yang dialaminya benar-benar membuat
hatinya terlampau pedih. “Mungkin tidak ada seorang pun yang akan
bersedia menerima hinaan serupa ini,” katanya kepada diri sendiri, sehingga
Bramanti sendiri kadang-kadang menjadi ragu-ragu, apakah yang
dilakukan itu sudah tepat. “Setiap orang pasti akan mentertawakan aku. Dan
apakah memang demikian yang dimaksud oleh guru?” Pertanyaan serupa itu
selalu saja mengganggunya. Namun akhirnya diletakkannya alasan yang selalu
memperkuat sikapnya.
“Tidak setiap orang berada dalam keadaan yang pahit seperti aku. Tidak
semua orang mempunyai seorang ayah seperti ayahku. Agaknya itulah yang
membuat aku lain dari orang-orang lain.”

One Response to “Tanah Warisan 030”

  1. Good Day, How is it going? I must say that i value the special information of your blog alot, can’t help asking my self how you get all of this from. Best regards Ps3Ylodfix

Leave a Reply