Tanah Warisan 031

07 September 2001, BRAMANTI menarik nafas dalam-dalam, kemudian diambilnya cangkulnya dan mulailah ia menyiangi tanaman di halaman rumahnya.
Ayunan tangannya berhenti ketika ia melihat melalui pintu regol halamannya, beberapa anak-anak muda lewat di jalanan di depan rumahnya. Diantaranya mereka adalah Panjang, anak muda yang baru saja menyelesaikan
pendadaran tingkat pertama.
Tetapi Bramanti tidak menegur mereka. Ketika anak-anak muda itu telah
lalu, maka kembali ia mengayunkan cangkulnya, sehingga keringatnya
membasahi seluruh bagian tubuhnya.
Namun demikian, angan-angannya masih saja tersangkut kepada sifat-sifat
anak-anak muda di Kademangan ini. Mereka ternyata bukan pengecut.
Tetapi kenapa mereka sama sekali tidak berbuat sesuatu pada saat serupa
ini?
“Menangkap harimau bukan pekerjaan yang mudah,” desisnya sambil
menggeliat. Kedua tangannya bertelekan ke pinggang. “Tetapi aku kira mereka
berdua akan dapat melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Aku akan
bergembira sekali apabila aku mendapat kesempatan untuk menyaksikan
pergulatan itu.”
Bramanti tiba-tiba mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil tersenyum ia
berdesis, “Aku akan mencoba melihatnya.”
Agaknya Bramanti benar-benar ingin melihat, bagaimana tandang kedua
anak-anak muda itu menghadapi seekor harimau. Karena itu, maka Bramantipun
harus tahu benar, apakah benar-benar ada seekor harimau yang sering
mendekati dan bahkan memasuki Kademangan mereka.
“Harimau itu akan keluar dari sarangnya di malam hari,” desisnya.
“Dengan demikian, akupun harus keluar di malam hari.”
Keinginan Bramanti itu benar-benar tidak dapat ditahannya lagi,
sehingga ketika malam turun, ia berkata kepada ibunya, “Nanti malam aku akan
tidur di luar saja bu.”
Ibunya mengerutkan keningnya, “Kenapa?” ia bertanya.
“Terlalu panas. Aku kira, di luar, dibekas kandang itu, udara tidak
sepanas di dalam rumah.”
“Tetapi……,” suara ibunya terputus.
“Aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku hanya ingin tidur nyenyak dalam
udara yang sejuk.”
Ibunya mengangguk-angguk meskipun ia masih menyimpan beberapa
pertanyaan di dalam hatinya. Namun kemudian ia berkata, “Terserahlah kepadamu
Bramanti.”
Sebenarnyalah, kemudian Bramanti membawa sehelai tikar dan
dibentangkannya di atas setumpuk jerami di bekas kandangnya yang telah
diperbaikinya pula. Ternyata udara di dalam kandang itu cukup hangat. Bahkan lebih
hangat daripada di dalam rumah yang dikatakannya terlampau panas itu.
Tetapi Bramanti sama sekali tidak dapat berbaring dengan tenang. Tidak
saja kakinya, tetapi tangannya, dan bahkan telinganya selalu dikerumuni
oleh nyamuk yang berdesing-desing.
Tetapi Bramanti memang tidak ingin tidur. Ia ingin pergi dengan
diam-diam.
Ketika malam menjadi semakin larut, Bramanti segera berkemas.
Perlahan-lahan ia mendekat bilik ibunya, dan perlahan-lahan ia mengetuk sambil
memanggil, “Bu, ibu?”
Tetapi tidak ada jawaban.
“Ibu sudah tidur,” desisnya. Dengan demikian maka ia telah mendapat
kesempatan untuk meninggalkan kandang itu dengan diam-diam.
Sejenak kemudian, maka Bramantipun telah berada di jalan yang menunju
ke bulak ke sebelah Kademangannya. Bulak itu langsung menghadap kehutan
yang meskipun tidak terlampau lebat, namun masih dihuni oleh berbagai
macam binatang buas.
“Kalau benar ada harimau tua yang berkeliaran di desa ini,” berkata
Bramanti di dalam hatinya. “Pasti berasal dari hutan itu.” Karena itu,
maka Bramanti ingin melihatnya, apakah Suwela dan Panjang juga mencari
harimau di daerah itu.
Dugaan Bramanti ternyata benar. Ketika ia keluar dari Kademgannya, ia
melihat sosok tubuh yang duduk berselimut kain panjang. Dengan demikian,
maka Bramantipun segera menyelinap ke dalam rimbunnya dedaunan.
Untunglah bahwa ia masih belum terlanjur melangkah keluar pedesaan, sehingga
kedua orang yang berselimut kain panjang itu belum melihatnya.
Dengan hati-hati sekali, Bramanti menyusur dinding desanya, kemudian
meloncat keluar. Sambil merangkak ia menyusup di sela-sela tanaman jagung
yang masih muda mendekati kedua sosok tubuh yang sedang duduk itu.
Lamat-lamat Bramanti mendengar salah seorang dari mereka berkata,
“Sebentar lagi kita berangkat,” Ternyata suara itu adalah suara Suwela.
(Bersambung)-c

Leave a Reply