Tanah Warisan 032
08 September 2001, “YA,” sahut yang lain, “Apakah Temunggul akan datang kemari juga?”
“Ya, ia akan ikut bersama kami, meskipun ia hanya sekadar akan melihat.”
“Agaknya ia tidak percaya, bahwa kami berdua akan sanggup menundukkan
harimau itu.” “Mungkin, tetapi mungkin juga ia tidak yakin, bahwa kami akan
melakukannya. Agar kami tidak curang dengan membawa beberapa orang kawan lagi,
maka ia akan mengawasinya.”
Kemudian mereka pun diam untuk sejenak. Agaknya Panjang tidak cukup
sabar menunggu, sehingga sambil berdiri ia berkata, “Kalau ia tidak segera
datang, kita akan meninggalkannya. Seharusnya ia mempunyai keberanian
cukup untuk menyusul kami.”
Suwela tidak menjawab, bahkan ia menguap sambil berdesis, “Aku sudah
ngantuk. Waktu yang diberikannya hanya sepekan. Apakah sebagian terbesar
waktu kita akan habis untuk menunggu, kemudian kami dinyatakan tidak
memenuhi syarat.”
“Itu dia,” tiba-tiba Panjang memotong.
Suwela mengangkat wajahnya. Di pandanginya sesosok tubuh yang berjalan
tergesa-gesa ke arah kedua anak-anak muda yang kedinginan itu.
“Apakah kalian telah siap?” bertanya orang yang baru datang itu, yang
ternyata adalah Temunggul.
“Tentu,” jawab Suwela.
“Apakah senjata kalian?”
Suwela menunjukkan tangkai pisau belati panjangnya, “Aku membawa dua
bilah pisau panjang.”
Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada Panjang ia
bertanya, “Dan kau?”
“Panjang, silakan kalian pergi. Daerah ini adalah daerah jelajah
harimau itu sebelum ia memasuki Kademangan untuk mencuri ternak. Bahkan
mungkin lambat laun akan menangkap salah seorang dari antara kita.”
“Apakah kau akan ikut?” bertanya Panjang.
Temunggul tidak segera menjawab. Ditatapnya bulak yang panjang di
hadapannya. Kemudian sebuah padang ilalang. Di belakang padang yang tidak
terlampau luas itu terdapat sebuah hutan yang masih dihuni beberapa jenis
binatang buas.
Akhirnya perlahan-lahan ia menggelengkan kepalanya, “Aku tidak ikut.
Adalah kuwajiban kalian berdua untuk menangkap harimau itu, supaya kalian
dapat diterima menjadi pengawal Kademangan.”
“Lalu, apakah gunanya kami berdua harus menunggumu disini?”
“Semula aku agak ragu-ragu melepaskan kalian berdua. Tetapi setelah aku
sekarang melihat kelengkapan dari tekadmu, aku tidak ragu-ragu lagi.
Aku yakin kalau kalian akan dapat menangkap harimau itu. Sehingga dengan
demikian kalian akan dapat menjadi anggota pengawal Kademangan.”
Suwela menarik nafas dalam-dalam, “Agaknya kau masih tidak mempercayai
kami. Mudah-mudahan sebelum waktunya kami akan dapat membuktikan, bahwa
kami benar-benar mempunyai kemampuan yang cukup untuk menjadi seorang
anggota pengawal. Bahkan tidak akan kalah bernilai dari kawan-kawan
kami yang telah lebih dahulu memasukinya.”
Temunggul mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menjawab, “Baiklah.
Kalau begitu, berangkatlah. Malam ini adalah malam yang pertama. Kalian
masih mempunyai kesempatan empat malam setelah malam ini.”
“Ya,” jawab Panjang. “Tetapi kami jangan kau siksa dengan caramu
seperti malam ini. Waktu kami terbatas akan habis disini, menunggumu tanpa
berbuat apa-apa.”
“Sudah aku katakan, bahwa mula-mula aku ragu-ragu. Tetapi sekarang aku
sudah yakin.”
“Baiklah,” berkata Suwela, “Kami akan pergi.”
Sejenak kemudian, Temunggul melepaskan kedua kawannya itu pergi berburu
harimau. Namun pada keduanya sama sekali tidak membayang kecemasan dan
keragu-raguan sama sekali, sehingga karena itu maka Temunggulpun tidak
ragu-ragu pula untuk melepaskan mereka.
Suwela berjalan di depan sambil meraba-raba tangkai sepasang pisau
belati panjangnya, sedang Panjang berjalan menjinjing tombaknya di
belakang. Agaknya dingin malam telah membuatnya agak terlampau sejuk, sehingga
Panjang masih juga berselimut kain panjangnya. (Bersambung….
Posted on November 27th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 385 Views





Leave a Reply