Tanah Warisan 033
09 September 2001, KETIKA kedua anak-anak muda itu telah menjadi semakin jauh memasuki gelapnya malam, maka Temunggul pun segera meninggalkan tempat itu pula,
kembali ke Kademangan. Tempat itu kembali menjadi sunyi. Sekali-kali terdengar derik jengkerik
di rerumputan.
Kemudian hilang seakan-akan tertelan oleh gelapnya malam.
Bramantipun kemudian bangkit berdiri sambil mengibaskan pakaiannya.
Dengan nada datar ia bergumam perlahan-lahan kepada diri sendiri,
“Ternyata Temunggul adalah seorang pemimpin yang bertanggung jawab. Ia
melepaskan kedua anak-anak itu setelah ia yakin, bahwa keduanya akan dapat
mengatasi tugasnya, betapapun sulitnya.” Bramanti berhenti sejenak,
kemudian, “Aku akan melihat, apakah mereka akan berhasil.”
Bramanti kemudian melangkah, meninggalkan tempatnya. Dari jarak yang
cukup, di antara batang-batang jagung, Bramanti berusaha mengikuti kedua
anak-anak muda yang sekarang berburu harimau itu. Ternyata keduanya
memang cukup berani, sehingga mereka tidak saja menunggu di bulak yang
luas itu, tetapi menyongsong harimau itu, begitu ia ke luar dari hutan.
Malam yang pertama, ternyata telah mereka lampaui tanpa terjadi
sesuatu. Keduanya mengumpat-umpat tidak habis-habisnya. Sambil menggaruk-garuk
punggungnya Suwela bertanya, “Aku tidak tahu, pada hari-hari apa
harimau itu keluar dari persembunyiannya untuk makan di luar hutan.”
“Setiap malam kita harus menungguinya di sini,” sahut Panjang.
“Kalau harimau itu tidak juga keluar?”
Panjang menggelengkan kepalanya, “Entahlah. Mungkin kita harus masuk ke
dalam hutan itu. Kitalah yang akan memburunya di kandang sendiri.”
“Ya. Kita harus menangkap seekor harimau. Di manapun juga.”
Pada hari yang kedua, mereka berangkat lebih cepat. Mereka tidak perlu
lagi menunggu Temunggul. Ketika mereka menganggap bahwa waktunya sudah
tiba, mereka pun segera berangkat.
Seperti hari yang pertama, Bramanti berhasil mengikuti mereka. Iapun
datang lebih awal, supaya ia tidak tertinggal, dan terpaksa mencari
keduanya di padang yang luas itu.
Juga pada hari yang kedua mereka tidak menemui apa pun juga. Sekali
lagi mereka berdua terpaksa mengumpat-umpat. Semalam suntukmereka tidak
tidur sambil menahan diri dari gigitan nyamuk hutan. Namun ternyata
mereka harus pulang tanpa membawa apapun juga.
Demikianlah di hari ketiga, keduanya pergi lagi bersama-sama. Mereka
menjadi semakin lesu. Bukan karena mereka tidak mempunyai kekuatan
jasmaniah yang cukup untuk bekerja terus-menerus tanpa tidur sekejappun.
Namun oleh kekecewaan masing-masing, maka gairah mereka pun telah menjadi
susut.
Dengan segan mereka berjalan menyusur jalan di tengah-tengah bulak
langsung ke padang ilalang. Seandainya harimau itu tidak juga ke luar dari
hutan, maka mereka berdualah yang akan masuk, dan mencarinya di dalam
hutan itu. Mereka tidak peduli, apakah harimau yang dijumpai kemudian
adalah harimau yang sering mencuri ternak atau bukan. Mereka tidak mau
kehabisan waktu dengan menunggu-nunggu tanpa berbuat sesuatu.
Bramanti yang di hari ketiga itupun berhasil pula mengikuti kedua
anak-anak muda itu, telah mencoba untuk tidak kehilangan mereka. Dengan
hati-hati ia merunduk-runduk di antara batang ilalang beberapa langkah dari
keduanya.
Ditengah-tengah padang itu keduanya berhenti sejenak. Terdengar Panjang
berkata, “Marilah kita tunggu sebentar. Mungkin harimau itu akan ke
luar hari ini.”
“Pendadaran ini tidak terlampau berat untuk menangkap seekor harimau
berdua dengan kau, tetapi kesempatan untuk melakukannya hampir tidak ada.
Kalau kita berdiri saja di sini, dan harimau itu lewat beberapa puluh
langkah di depan kita, kita sudah tidak melihatnya.”
Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Biarlah kita
coba. Tetapi kita tidak duduk memeluku lutut. Kita berjalan
mondar-mandir. Kemungkinan untuk menjumpai harimau itu akan menjadi lebih banyak.
Mungkin kita yang akan mendekatinya, tetapi mungkin juga harimau itu.”
“Baiklah, marilah kita coba. Tetapi sebelum kita bertemu dengan harimau
itu, kita sudah kehabisan nafas.”
Panjang tidak menjawab. Perlahan-lahan ia berjalan di antara
batang-batang ilalang. Sekali-kali ia berhenti, kemudian kakinya terayun kembali
selangkah demi selangkah maju. Beberapa langkah di belakangnya, Suwela
berjalan dengan segannya menjinjing sebilah dari sepasang pisau
panjangnya. Ditimang-timangnya pisau belati itu seolah-olah hendak mengetahui,
apakah pisau belati itupun telah siap pula menghadapi setiap
kemungkinan.
Beberapa kali mereka berjalan mondar-mandir, sehingga Suwela menjadi
jemu, dan berkata, “Aku akan duduk saja di sini.”
Panjang menarik nafas dalam-dalam. “Duduklah,” jawabnya. Namun meskipun
ia masih berdiri, tetapi ia sudah tidak berjalan mondar-mandir lagi.
Posted on November 27th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 358 Views





Leave a Reply