Tanah Warisan 034

10 September 2001,  BRAMANTI yang bersembunyi di balik batang-batang ilalang memperhatikan keduanya dengan hati berdebar-debar. Meksipun keduanya cukup berani, namun mereka sama sekali belum berpengalaman. Mereka hanya mempercayakan diri kepada kemampuan mereka berkelahi, kepada tenaga mereka dan
kelincahan mereka. Tetapi mereka belum matang untuk menghadapi bahaya yang
sebenarnya.

“Pendadaran untuk menjadi anggota pengawal Kademangan ini cukup berat,”
berkata Bramanti di dalam hatinya, sementara ia masih duduk sambil
menghalau nyamuk yang mengerumuninya.
Sejenak Suwela dan Panjang membeku di tempatnya tanpa mengucapkan
sepatah katapun. Panjang masih saja berdiri menggenggam tombak pendeknya,
sedang Suwela kemudian duduk di atas sebongkah batu padas.
Malam pun menjadi bertambah malam. Angin yang sejuk mengalir
perlahan-lahan mengusap tubuh-tubuh yang sudah mulai basah oleh keringat. Betapa
tegangnya mereka menunggu tanpa batas waktu.
Bramanti duduk sambil memeluk lututnya. Lambat laun dadanya pun mulai
dirayapi oleh kejenuhan. Malam yang sepi, nyamuk dan kantuk telah
mengganggunya. Tetapi ia tidak ingin meninggalkan kedua anak-anak muda itu.
Keinginannya untuk melihat apa yang terjadi telah memukaunya untuk tetap
tinggal di tempatnya.
Sejenak kemudian Bramanti mengangkat kepalanya. Ia merasakan bahwa
malam ini agak terlampau sepi. Ia sama sekali tidak mendengar bunyi
binatang-binatang hutan. Tidak terdengar salak anjing liar dan pekik kera di
pepohonan. Terlampau sepi, bahkan jengkerik dan belalangpun sama sekali
tidak berdesik.
“Terlampau sunyi,” ia bergumam kepada diri sendiri. Namun dalam pada
itu, secerah harapan melonjak dihatinya. Harapan bahwa apa yang
ditunggu-tunggunya akan segera datang. Keinginannya untuk melihat batapa kedua
anak-anak muda itu berusaha menangkap seekor harimau, hidup atau mati,
akan segera terjadi.
Bramanti menjadi berdebar-debar ketika hidungnya yang tajam menjentuh
bau yang lain dari bau rerumputan. Semakin lama semakin nyata.
“Agaknya harimau itu telah datang,” desisnya.
Bramanti menjadi semakin berdebar-debar ketika ia masih melihat kedua
anak-anak muda itu seolah-olah tidak beranjak dari tempatnya. Panjang
masih berdiri sambil mengedarkan pandangan berkeliling, sedang Suwela
duduk dengan segannya, memandang kekejauhan.
“Hem,” desah Bramanti di dalam hatinya. “Agaknya mereka tidak mengenal
buruan yang akan mereka tangkap.”
Ketika bau itu menjadi semakin tajam, maka Bramanti menjadi gelisah.
Apakah kedua anak-anak muda itu menunggu harimau itu menerkamnya.
Tetapi ia menarik nafas ketika melihat Panjang terperanjat.
Perlahan-lahan ia melangkah mendekati Suwela sambil berdesis, “Aku melihat batang
ilalang bergerak-gerak.”
“Dimana,” bertanya Suwela sambil meloncat berdiri.
Panjang menunjuk ke arah ujung ilalang yang bergerak-gerak.
“Ya, pasti itulah. Marilah, kita jangan membuang banyak waktu. Kita
bunuh saja harimau itu, supaya kita dapat membawanya dengan mudah.”
“Memang lebih mudah menangkap mati daripada menangkap hidup,” sahut
Panjang.
“Kita memencar,” berkata Suwela kemudian.
Panjang menganggukkan kepalanya. Tombaknya pun kemudian merunduk
seperti ia sendiri membungkukkan ilalang yang bergerak-gerak. Katika gerak
ujung ilalang itu berhenti, maka Panjang pun berhenti pula.
Meskipun ia telah membulatkan tekadnya untuk menangkap harimau itu,
namun ketika tiba-tiba dari sela-sela dedaunan, matanya membentur benda
yang bercahaya kebiru-biruan, hatinya berdesir. Darahnya serasa berhenti
mengalir. Sorot mata harimau itu telah membuatnya gemetar.
Namun sejenak kemudian ia menyadari, bahwa ia tidak boleh membantu.
Harimau itu akan dapat menerkamnya dan merobek-robek dagingnya. Karena itu
maka ia harus menghadapi setiap kemungkinan.

Leave a Reply