Tanah Warisan 035

11 September 2001,  KETIKA Panjang itu menggeser pandangan matanya, maka dilihatnya Suwelapun telah menggenggam sepasang pisau belati panjangnya. Sambil
berjingkat ia maju setapak demi setapak. Namun Panjang menjadi heran. Suwela memandang ke arah lain. Ia tidak mengawasi harimau yang berdiri di hadapannya dengan sorot mata yang mengerikan. Tetapi Suwela memandang beberapa langkah di belakang harimau itu.

“Apakah Suwela masih belum melihat harimau itu?” bertanya Panjang di
dalam hatinya. Dan pertanyaan itu menjadi semakin tajam tergores
didinding hatinya ketika ia melihat justru Suwela melangkah surut.
“Pajang,” ia berdesis. “Kau lihat harimau itu?”
Panjang mengangguk. Tetapi kini ia tidak berani lagi berpaling ke arah
Suwela yang berdiri beberapa langkah daripadanya, “Aku telah
melihatnya.”
“Tetapi kenapa kau masih saja berdiri di situ.”
“Ia memandang kemari,” sahut Panjang dengan suara bergetar, sedang
tombaknya telah siap untuk mematuk harimau yang masih saja memandanginya
dengan heran.
“Harimau itu ada disini,” berkata Suwela tergagap.
“Kau keliru. Aku sudah melihatnya. Harimau itu ada disini.”
“He,” Suwela terperanjat. Sejenak ia berpaling, hanya sekejap, kemudian
matanya kembali melekat ketubuh harimau yang belang itu. “Apakah bukan
kau yang keliru. Ia menghadap kemari.”
“Tidak. Ia menghadap kemari.”
“Kalau begitu,” suara Suwela terputus. Yang terdengar adalah suara
harimau itu menggeram. Ketika kemudian terdengar suara harimau yang lain
pula, maka barulah mereka sadar, bahwa yang dihadapinya bukan hanya
seekor harimau. Tetapi sepasang harimau jantan dan betina.
Jantung kedua anak-anak muda itu serba berhenti berdenyut. Adalah
diluar perhitungan mereka, bahwa mereka malam itu akan bertemu dengan
sepasang harimau di padang ilalang. Betapa besar hati mereka, dan betapa
besar hasrat mereka untuk menjadi anggota pengawal, namun ketika mereka
berdua harus berhadapan dengan sepasang harimau, ternyata telah membuat
hati mereka kecut.
Tetapi semuanya telah terlanjur. Harimau itu telah berada di hadapan
mereka. Dengan demikian, mereka sudah tidak mempunyai pilihan lain
daripada berkelahi. Mereka seorang-seorang harus melawan harimau itu
masing-masing seekor.
Ternyata bukan hanya kedua anak-anak muda itulah yang menjadi cemas dan
berdebar-debar. Dibalik batang-batang ilalang, Bramantipun menjadi
cemas pula. Telinganya telah menangkap suara harimau itu menggeram. Dan
iapun segera tahu, bahwa harimau itu tidak hanya seekor, tetapi sepasang.

Sementara itu, Panjang dan Suwela sudah tidak dapat menghindar lagi.
Seperti berjanji sepasang harimau itu masing-masing memilih lawannya.
Dengan mata yang bersinar-sinar dan geram yang menyeramkan kedua ekor
harimau itu perlahan-lahan maju mendekati lawan yang mereka pilih.
Kedua anak-anak muda itu surut beberapa langkah. Mereka segera
menyiapkan diri untuk menghadapi setiap kemungkinan.
(Bersambung)-

Leave a Reply