Tanah Warisan 036
12 September 2001, MEREKA kemudian melihat dua ekor harimau itu merunduk. Mengibaskan ekornya. Dan sambil meraung panjang, hampir bersamaan waktunya keduanya meloncat menerkam lawan masing-masing. Panjang yang bersenjata tombak, mencoba meloncat menghindari. Kemudian dengan lincahnya ia memutar tubuhnya. Dengan sekuat tenaganya ia mengayunkan tombaknya mematuk punggung harimau yang tidak berhasil menjangkau lawannya.
Tetapi ternyata jarak Panjang terlampau jauh dari harimau itu, sehingga
ujung tombaknya hanya sekadar menyentuh kulit harimau itu tanpa
melukainya. Bahkan harimau itu kemudian meloncat menyerangnya dengan
kuku-kukunya yang tajam.
Sejauh dapat dilakukan Panjang melawan dengan tombaknya. Sekali ia
berhasil mengenai dada harimau itu. Namun kulit harimau itu ternyata begitu
liatnya, sehingga tombaknya hanya berhasil merobek kulit harimau itu.
Namun justru karena lukanya itulah harimau itu menjadi semakin tegang.
Sekali lagi harimau itu meraung keras-keras. Kemudian dengan garangnya
menyerang kembali. Giginya yang runcing tajam menyeringai mengerikan.
Panjang pun kemudian melawan sekuat-kuat tenaganya. Meskipun ia ngeri
juga, namun ia sadar, bahwa ia harus melawan. Kalau tidak, maka ia akan
menjadi makanan harimau itu seperti anak-anak kambing yang hilang dari
kandangnya. Dan Panjang sama sekali bukan seekor kambing yang lemah dan
menyerah tanpa melakukan perlawanan.
Dalam pergulatan yang terjadi kemudian, sekali-kali kuku harimau itu
pun menyentuh tubuhnya. Jalur-jalur yang merah membekas di kulitnya,
sedang pakaiannya telah hancur direnggut oleh kuku-kuku harimau yang ganas
itu.
Di lain pihak, Suwela pun ternyata mengalami kesulitan. Apalagi ia
bersenjata sepasang pisau belati panjang. Ia tidak dapat mengambil jarak
yang cukup, meskipun senjatanya lebih lincah dari sebatang tombak. Namun
meskipun ia telah berjuang sekuat tenaganya, ia sama sekali tidak dapat
menghindarkan diri dari kulit kuku-kuku harimau yang setajam ujung
belatinya.
Sejenak kemudian, maka kedua anak-anak muda itu telah mandi dengan
keringat dan darahnya sendiri. Semakin lama keduanya semakin tidak akan
dapat melawan kegarangan dua ekor harimau belang yang sedang lapar itu.
Meskipun demikian, namun Suwela dan Panjang sama sekali tidak berputus
asa. Apa yang dapat mereka lakukan untuk menyelamatkan diri, telah
mereka lakukan. Bahkan senjata-senjata mereka seolah-olah telah melekat
pada tangan-tangan mereka, sehingga bagaimanapun juga, senjata-senjata itu
sama sekali tidak akan dapat terlepas.
Tetapi harimau itu adalah harimau yang besar. Bagaimanapun juga
tangkas, lincah dan kuatnya tangan kedua anak-anak muda itu, namun untuk
melawan harimau-harimau itu adalah pekerjaan yang terlampau berat.
Ternyata kemudian, ketika darah mereka telah semakin banyak mengalir,
maka perlawanan mereka pun menjadi semakin surut. Kuku-kuku harimau itu
semakin sering menyentuh kulit mereka. Apalagi setelah harimau-harimau
itu mencium bau darah. Maka suaranya pun menjadi semakin keras,
menggeram dengan marahnya.
Dalam keadaan yang semakin sulit, ketika mereka mencoba melawan dengan
kekuatan mereka yang terakhir, sekali lagi kedua anak-anak muda itu
terkejut.
Sebuah bayangan hitam meluncur dengan cepatnya menerkam salah seekor
harimau belang itu, kebetulan yang sedang berkelahi melawan Panjang,
sehingga anak muda yang bersenjata tombak itu untuk sejenak berdiri
termanggu-manggu. Tetapi segera ia menyadari keadaannya ketika ia mendengar
bayangan itu berteriak, “He, jangan termenung. Bantulah Suwela
mengalahkan lawannya. Serahkan yang seekor ini kepadaku.”
Panjang tidak sempat berpikir lagi. Segera ia meloncat mendekati Suwela
yang sedang terdorong jatuh oleh sentuhan kaki harimau itu. Tepat pada
waktunya Panjang datang membantunya. Ujung tombaknya mematuk dengan
derasnya ke lambung harimau itu, sehingga harimau itu terkejut dan
mengurungkan niatnya untuk menerkam Suwela yang jatuh terlentang.
(Bersambung)-m
Posted on November 27th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 405 Views





Leave a Reply