Tanah Warisan 037
13 September 2001, KESEMPATAN itu ternyata dapat dipergunakan sebaik-baiknya oleh Suwela. Segera ia meloncat bangun. Ternyata sepasang pisau belatinya masih melekat di tangannya. Sekilas ia melihat harimau yang seekor, yang sesaat sebelumnya berkelahi melawan Panjang, kini sedang sibuk melayani lawannya yang baru, yang tidak segera dapat mereka ketahui.
Namun Suwela dapat melihat dengan jelas, bahwa bayangan itu seolah-olah
melekat dipunggung harimau belang itu, sambil mengayun-ayunkan pisau
belatinya. Bertubi-tubi tanpa henti-hentinya menghujam ke punggung dan
lambung harimau itu.
Kesempatan itu tidak mereka lewatkan. Mereka masih belum yakin. Apakah
orang yang baru datang menolong mereka itu mampu melawan harimau yang
kini sedang dicengkamnya. Apalagi pada suatu ketika tangannya yang
sebelah itu terlepas, maka ia pasti akan terpelanting, karena harimau itu
dengan sekuat-kuat tenaganya menggeliat dan melonjak-lonjak.
Sejenak kemudian maka Suwela dan Panjang yang telah mandi darah itu,
menggeretakkan gigi mereka. Serentak mereka menyerbu dan menghujamkan
senjata masing-masing. Beruntun seperti orang yang sedang kerasukan.
Kemarahan yang bergelora di dalam dada kedua anak-anak muda itu agaknya
telah menambah ketahanan tubuh mereka. Bahkan kehadiran seseorang yang
tidak mereka kenal itu telah menambah nafsu mereka pula, sehingga
tenaga mereka yang telah susut itu, serasa menjadi pulih kembali.
Dengan sekuat-kuat tenaga mereka berusaha untuk mengalahkan harimau
yang seekor itu dengan secepat-cepatnya. Berdua mereka lambat laun
berhasil menguasainya, sehingga pada suatu saat senjata Panjang berhasil
menembus di celah-celah rusuk harimau itu.
Dengan sekuat tenaga harimau itu menghentakkan tubuhnya. Demikian
kuatnya sehingga tangkai tombak itu terlepas dari tangan Panjang. Tetapi
tombak itu masih menghujam di lambung harimau itu. Dan sebelum harimau itu
berhasil mengibaskan tombak itu, maka sepasang pisau belati Suwela
telah menyobek kulitnya pula. Bertubi-tubi sehingga harimau itu sama
sekali tidak mendapat kesempatan untuk melawan lagi.
Sejenak terdengar harimau itu mengaung dahsyat sekali. Namun sejenak
kemudian suaranya lenyap seakan-akan ditelan oleh sepinya malam.
Kedua anak muda itu berdiri dengan nafas terengah-engah. Setelah mereka
yakin bahwa lawannya telah mati, maka justru tubuh mereka menjadi
terlampau lemah. Mereka hampir tidak kuat berdiri menahan tubuh
masing-masing.
Tetapi tiba-tiba Suwela tersentak sambil mengedarkan pandangan matanya
berkeliling. Ia sama sekali tidak melihat lagi harimau yang seekor,
sehingga tiba-tiba ia menjadi cemas. Terbata-bata ia berkata di sela-sela
engah nafasnya, “He, dimana orang yang datang menolong kita tadi?”
Panjang tidak menyahut. Ia menjadi cemas, bahwa justru orang yang
menolongnya itu telah dibinasakan dan digonggong oleh harimau yang seekor
lagi. Karena itu, betapapun lemahnya mereka menyeret kaki-kaki mereka,
pergi ke bekas tempat yang tidak mereka kenal ia berkelahi.
Keduanya tertegun ketika mereka melihat tubuh harimau yang telah
menjadi bangkai terbaring di antara batang-batang ilalang yang telah menjadi
porak poranda. Tetapi mereka tidak menjumpai seorangpun lagi. Seperti
pada saat datang, bayangan itupun pergi tanpa diketahui arahnya.
“Aneh,” desis Panjang. “Siapakah yang telah menolong kita itu?”
Suwela menarik nafas dalam-dalam. Dengan sisa-sisa kainnya ia menyeka
darah dan keringat di seluruh badannya. Sakit dan pedih terasa menyengat
di seluruh permukaan kulitnya.
“Aneh,” ia berdesis.
“Siapakah kira-kira orang itu,” bertanya Panjang. “Apakah kau mempunyai
dugaan tentang orang yang aneh itu?”
“Temunggul,” desis Suwela, namun ia sendiri meragukan jawabannya.
“Memang mungkin. Tetapi apabila orang itu Temunggul, maka ia pasti
tidak akan menghilang sebelum kami menyapanya.”
Suwela mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia mendapat suatu teka-teki
yang tidak mudah ditebaknya, “Sulit untuk menebak,” ia berdesis.
“Tidak ada ciri apapun yang dapat kita kenal.”
Posted on November 27th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 390 Views





Leave a Reply