Tanah Warisan 038

14 September 2001,  PANJANG mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ketika angin yang silir mengusap tubuhnya, mulailah terasa seolah-olah tulang-tulangnya telah
terlepas sama sekali. Tubuhnya menjadi terlampau lemah sehingga terdengar
suaranya lamat-lamat. “Aku tidak kuat lagi untuk berdiri,”.
Suwela mengangguk-anggukkan kepalanya. Tubuhnya sendiri menjadi
demikian lemahnya, sehingga seakan-akan tidak mampu lagi menguasai anggota
badannya.
Tetapi ketika Panjang merobohkan dirinya duduk di atas rerumputan,
terdengar Suwela berkata agak keras, “Obor. Aku melihat beberapa buah obor
datang kemari.”
Dengan serta merta Panjangpun berdiri. Seakan-akan ia mendapat kekuatan
baru untuk tegak di atas kedua kakinya.
“Ya obor. Siapakah mereka?”
Suwela menggeleng. “Aku tidak tahu.”
Betapapun lemahnya namun kedua anak-anak muda itu berusaha untuk tetap
berdiri. Mereka ingin mendapat bantuan untuk kembali ke Kademangan.
Mungkin seorang dapat membantunya berjalan, atau mungkin memapahnya.
Mereka juga ingin membawa bukti bangkai-bangkai macam itu kembali ke
Kademangan. Tetapi mereka sama sekali sudah kehabisan kekuatan. Karena itu,
kehadiran orang-orang dari Kademangan akan dapat membantu mereka.
Sejenak kemudian obor-obor itupun menjadi semakin dekat. Suwela yang
tidak sabar lagi tiba-tiba berteriak, “He. Siapa kau?”
Tidak terdengar jawaban. Tetapi obor-obor itu merambat lagi mendekati
mereka berdua.
Ternyata mereka adalah para peronda. Ketika mereka mendengar aum
harimau yang dahsyat, meskipun masih agak jauh dari pedesaan, maka mereka pun
menjadi gelisah. Mereka tahu, bahwa Suwela dan Panjang sedang
menjalankan masa pendadaran dengan menangkap harimau. Karena itu, maka dengan
tergesa-gesa mereka bersama-sama tujuh orang dengan senjata
masing-masing berusaha mencari arah suara aum harimau itu. Seandainya harimau itu
telah bertemu dengan Suwela dan Panjang, bagaimanakah akhir dari
pertemuan itu.
“He,” teriak Suwela. “Kami disini.”
Obor-obor itupun kemudian semakin dekat. Seorang yang berdiri di paling
depan segera bertanya ketika mereka telah dekat. “Bagaimana dengan kau
berdua?”
“Kemarilah, lihatlah tubuhku yang luka arang kranjang, meskipun tidak
begitu dalam.”
“Bagaimana dengan harimau itu.”
“Kemarilah,” sahut Suwela.
Obor-obor itupun menjadi semakin dekat. Ketika orang yang terdepan
telah berada di hadapan Suwela, dengan serta-merta ia bergumam. “Bukan
main. Bukan main. Lukamu benar-benar arang kranjang Suwela.”
Suwela tidak menjawab. Tetapi nafasnya menjadi semakin terengah-engah.
Dari luka-lukanya itu masih mengalir darah dan lubang-lubang kulitnya
mengembun keringat.
Para peronda itupun kemudian mengerumuni Suwela dan Panjang yang hampir
kehabisan tenaga. Dibawah sinar obor mereka melihat, luka-luka
berjalur-jalur membujur lintang di tubuh kedua anak-anak muda itu.
“Pendadaran itu terlampau berat. Masih lebih baik menundukkan kuda liar
itu daripada harus berkelahi melawan harimau. Kuda liar itu tidak akan
dengan sengaja membunuh. Tetapi harimau ini.”
Para peronda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang dari
mereka tiba-tiba saja bertanya, “Lalu bagaimana dengan harimau-harimau itu
sekarang?”
Suwela tidak menjawab. Tetapi dengan jarinya ditunjuknya ke arah dua
ekor harimau-harimau yang sudah mati itu.
Ketika para peronda itu melihat, mereka terlonjak. Hampir berbareng
mereka berdesis. “Dua. Dua ekor harimau.”
Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Kami berdualah
yang hampir mati.”
“Luar biasa. Kalian selamat, dan bahkan kalian mampu membunuh
keduanya.”
Panjang menggelengkan kepalanya yang lemah. Dengan suara yang
seakan-akan menyangkut kerongkongannya ia berkata. “Bukan kami.”
“He?” para peronda itu terbelalak. Tanpa sesadar mereka memandangi
Suwela yang lesu. Dan Suwela pun membenarkannya. “Bukan kami.”
“Lalu siapa?”
“Nantilah aku akan bercerita kalau aku tidak mati kehabisan darah.”
(Bersambung)-m

Leave a Reply