Tanah Warisan 040
Tue. November 27, 2007Categories: Tanah warisan
16 September 2001, “SUWELA dan Panjang sendirilah yang mengatakan ketika kami datang menengoknya. Sebelum mereka menjadi pingsan.” “Ya, tetapi siapa yang membunuh harimau itu? Apakah ada orang lain di antara mereka ketika kau datang?”
Orang itu menggeleng. “Tidak. Tidak ada orang lain.”
Temunggul menjadi semakin tidak mengerti. Tetapi orang itu berkata,
“Nanti, bertanyalah kepadanya sendiri. Aku pun tidak sempat bertanya lagi,
karena keduanya menjadi terlampau lemah.”
Temunggul menganggukkan kepalanya. “Baiklah, nanti aku akan bertanya
kepada mereka.”
Temunggul kemudian meninggalkan pringgitan, langsung melintasi pendapa
dan turun ke halaman. Udara yang sejuk telah membuatnya agak tenang.
Namun apa yang dibayangkannya perkelahian antara kedua anak-anak muda itu
ngeri sekali.
“Tetapi,” ia bergumam. “Siapakah orang yang disebut-sebut telah
membunuh harimau itu?”
Tanpa sesadarnya Temunggul itupun kemudian berjalan menyelusuri jalan
di muka Kademangan itu tanpa arah. Sekali-kali ditengadahkannya
wajahnya, memandangi jalur-jalur awan yang kemerah-merahan di langit yang biru.
Ketika Temunggul itu menuruni tebing bendungan, langkahnya tiba-tiba
terhenti. Ia melihat sesosok bayangan berjalan perlahan-lahan menaiki
tebing. Namun sejenak kemudian ia menarik nafas. Orang itu adalah
Bramanti.
“Darimana kau Bramanti?”
Bramanti tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah Temunggul yang masih
membekas ketegangan yang mencekam jantungnya.
“He, darimana kau?” bentaknya ketika Bramanti tidak segera menyahut.
“Oh, aku baru saja dari bendungan.”
“Sepagi ini?”
“Ya, perutku sakit. Tetapi bukankah matahari telah naik?”
Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya Bramanti dengan
sorot mata yang aneh. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Kenapa kau
mandi terlampau pagi?”
“Aku biasa mandi sepagi ini. Kalau tidak ke sungai, akupun mandi di
rumah.”
Sorot mata Temunggul menjadi semakin aneh. Dan dengan suara gemetar ia
bertanya, “Kenapa dadamu itu Bramanti. Dan lenganmu? Meskipun kau
berusaha membersihkannya, tetapi aku masih dapat melihat bekas-bekas darah
itu.”
Bramanti mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum sambil
menjawab, “Oh, aku tergelincir dari pohon kelapa pagi tadi.”
“Kau memanjat pohon kelapa pagi-pagi buta?”
Kini Bramantilah yang memandangi Temunggul dengan sorot mata yang aneh.
Dengan ragu-ragu ia menjawab, “Kenapa kau heran Temunggul? Bukankah
sudah menjadi kebiasaan setiap orang yang menderas kelapanya, mengambil
bambu di pagi-pagi buta.”
Temunggul menarik nafas dalam-dalam. “Kau nderes juga?”
“Ya, sekadar meringankan beban ibu. Kelapa kami terlampau cukup,
sehingga aku menyisihkan tiga batang untuk aku ambil gulanya.”
Temunggul tidak menjawab lagi. Dipandanginya jalur-jalur merah di dada
dan lengan Bramanti. Namun kemudian ia berkata, “Seharusnya kau malu
kepada dirimu sendiri sebagai seorang laki-laki.” (Bersambung)-m
Comments