27 Oktober 2001, Malam itu Temunggul hampir tidak dapat tidur sekejappun. Ia selalu
dibayangi oleh harapan-harapan dan kecemasan-kecemasan. Ia belum dapat
meyakinkan sikap Ratri kepadanya.
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
26 October 2001, “Sayang istrinya kawin lagi dengan seorang laki-laki yang bernama
Pruwita itu,” berkata ayah Ratri seterusnya, “Sehingga akhirnya Janda
Pruwita pun termasuk orang yang kita hormati di Kademangan ini.
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
25 Oktober 2001, Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Siang hari tidak akan berani
berdiri di depan rumah itu. Kalau Temunggul melihatnya, maka hal itu pasti
akan menjadi persoalan yang berlarut-larut.
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
24 Oktober 2001, Panjang menarik nafas dalam-dalam. “Selamat malam Bramanti. Apakah nanti malam kau tidak akan keluar halaman rumah ini.”
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
23 Oktober 2001, “Tetapi Temunggul tidak bertempur karena ia seorang pengawal
Kademangan. Ia berkelahi karena ia ingin membela Ratri,” Bramanti berhenti
sebentar, lalu, “Itu tidak wajar Panjang.
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
22 Oktober 2001, “Ratri.”
“Kenapa dengan Ratri?”
“Apakah kau sama sekali tidak mendengarnya?”
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
21 Oktober 2001, “Jangan bermimpi Ki Jagabaya,” potong Ki Demang, “Kita sama sekali
tidak memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu.”
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
20 Oktober 2001, Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia berpaling kepada Temunggul yang duduk pula di antara mereka. Katanya, “Jawablah persoalan
yang dikatakan oleh ayah gadis yang menjadi masalah itu.”
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
19 Oktober 2001, “Orang itukah yang telah disebut-sebut Ratri sebagai salah seorang
pembantu Wanda Geni yang terluka?” pertanyaan itu tumbuh di dalam hatinya.
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
18 Oktober 2001, TIBA-TIBA wajah ayah Ratri menjadi tegang. Dengan serta merta ia
berkata lantang, “Nah, bukankah aku sudah berkata, jauh sebelum peristiwa ini
terjadi.
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »