Tanah Warisan 080

27 Oktober 2001,  Malam itu Temunggul hampir tidak dapat tidur sekejappun. Ia selalu
dibayangi oleh harapan-harapan dan kecemasan-kecemasan. Ia belum dapat
meyakinkan sikap Ratri kepadanya.

Tanah Warisan 079

26 October 2001,  “Sayang istrinya kawin lagi dengan seorang laki-laki yang bernama
Pruwita itu,” berkata ayah Ratri seterusnya, “Sehingga akhirnya Janda
Pruwita pun termasuk orang yang kita hormati di Kademangan ini.

Tanah Warisan 078

25 Oktober 2001,  Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Siang hari tidak akan berani
berdiri di depan rumah itu. Kalau Temunggul melihatnya, maka hal itu pasti
akan menjadi persoalan yang berlarut-larut.

Tanah Warisan 077

24 Oktober 2001,  Panjang menarik nafas dalam-dalam. “Selamat malam Bramanti. Apakah nanti malam kau tidak akan keluar halaman rumah ini.”

Tanah Warisan 076

23 Oktober 2001,  “Tetapi Temunggul tidak bertempur karena ia seorang pengawal
Kademangan. Ia berkelahi karena ia ingin membela Ratri,” Bramanti berhenti
sebentar, lalu, “Itu tidak wajar Panjang.

Tanah Warisan 075

22 Oktober 2001,  “Ratri.”
“Kenapa dengan Ratri?”
“Apakah kau sama sekali tidak mendengarnya?”

Tanah Warisan 074

21 Oktober 2001,  “Jangan bermimpi Ki Jagabaya,” potong Ki Demang, “Kita sama sekali
tidak memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu.”

Tanah Warisan 073

20 Oktober 2001,  Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia berpaling kepada Temunggul yang duduk pula di antara mereka. Katanya, “Jawablah persoalan
yang dikatakan oleh ayah gadis yang menjadi masalah itu.”

Tanah Warisan 072

19 Oktober 2001,  “Orang itukah yang telah disebut-sebut Ratri sebagai salah seorang
pembantu Wanda Geni yang terluka?” pertanyaan itu tumbuh di dalam hatinya.

Tanah Warisan 071

18 Oktober 2001,  TIBA-TIBA wajah ayah Ratri menjadi tegang. Dengan serta merta ia
berkata lantang, “Nah, bukankah aku sudah berkata, jauh sebelum peristiwa ini
terjadi.