Tanah Warisan 070

17 Oktober 2001,  “Aku kurang tidur ibu. Sampai hampir pagi aku memang tidak dapat tidur karena kelelahan.  “Kau aneh,” jawab ibunya. “Orang yang lelah biasanya akan dengan mudahnya tertidur.”

Tanah Warisan 069

15 October 2001,  “Tidak ayah. Aku lelah sekali. Aku ingin segera tidur.
Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ditinggalkannya pintu bilik
anaknya.

Tanah Warisan 068

14 Oktober 2001,  “Kami para pengawal telah membagi kerja paman.”
“Terima kasih ngger, “ dan sekali lagi laki-laki tua bergumam. “Terima
kasih.”

Tanah Warisan 067

13 Oktober 2001,  MESKIPUN Ratri tidak menduga, namun kata-kata Temunggul yang berterus terang itu telah menggoncangkan dadanya. Sejenak ia berdiri membeku
ditempatnya.

Tanah Warisan 066

12 Oktober 2001,  DEMIKIANLAH maka mereka menyusuri jalan sempit yang menuju ke rumah ketiga gadis-gadis itu. Tetapi dengan demikian, maka yang terakhir dari
ketiganya sampai di muka regol rumahnya adalah Ratri.

Tanah Warisan 065

11 Oktober 2001,  RATRI pun segera menyadari keadaannya. Karena itu meskipun kakinya bmasih gemetar, dipaksanya dirinya untuk berdiri bersama-sama kedua
kawannya.

Tanah Warisan 064

10 Oktober 2001,  “Persetan,” tiba-tiba orang itu menggeram. “Kalau benar-benar kau
lakukan itu, berarti Kademangan ini akan kedatangan bencana yang maha besar.
Tentu Panembahan Sekar Jagat tidak akan tinggal diam.

Tanah Warisan 063

09 Oktober 2001,  Dengan demikian maka akhirnya ia mengambil kesimpulan untuk
meninggalkan perkelahian.

Tanah Warisan 062

08 Oktober 2001,  ORANG itu terkejut. Hampir-hampir ia tidak sempat mengelak. Namun ternyata bahwa ia masih mampu menghindarkan dirinya dari serangan Temunggul.

Tanah Warisan 061

07 Oktober 2001,  TERNYATA bukan saja Temunggul yang menilai keliru dari pertempuran itu.