Tanah Warisan 041

Thu. November 29, 2007
Categories: Tanah warisan

17 September 2001,  “KENAPA?” bertanya Bramanti.
“Hari ini Suwela dan Panjang terbaring di pringgitan Kademangan dengan
jalur-jalur merah di dada, punggung dan lengannya seperti jalur merah
ditubuhmu itu. Tetapi jauh lebih banyak dan dalam.”“Pertanyaanmu itu menyatakan kebohonganmu. Bukankah menjadi kepuasan,
bahwa keduanya harus menangkap seekor harimau? Nah, harimau itulah yang
telah membuat jalur-jalur merah ditubuh mereka. Nanti apabila
jalur-jalur itu telah sembuh dan membekas di kulitnya, mereka akan berkata
dengan bangga, bahwa jalur-jalur itu adalah bekas luka yang ditimbulkan oleh
kuku-kuku harimau. Sedang kaupun agaknya akan berbangga mengatakan,
bahwa jalur-jalur di dadamu itu adalah bekas geseran batang kelapa.”
Bramanti tidak menjawab, tetapi ia menundukkan kepalanya sambil
menggigit bibirnya.
“Kalau kau tidak pingsan melihat darah, tengoklah mereka di
Kademangan.”
Bramanti menarik nafas, jawabnya, “Sebenarnya aku ingin menengoknya.
Tetapi ia masih takut, kalau-kalau kehadiranku akan menimbulkan persoalan
lagi seperti pada saat pendadaran itu.”
“Huh,” Temunggul mencibirkan bibirnya. “Kau memang tidak pantas untuk
menjadi anggota keluarga kami, laki-laki Kademangan ini.”
Sebelum Bramanti menjawab, Temunggul telah meneruskan langkahnya turun
ke bendungan.
Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya dirabanya
jalur-jalur merah di dadanya. Perlahan-lahan ia berdesis. “Ibu pun pasti akan
bertanya, kenapa jalur-jalur ini telah tergores di dadaku. Dan ibu pasti
akan berkata, “Lain kali jangan memanjat terlampau pagi.”
Sekali lagi Bramanti berpaling memandangi Temunggul yang telah turun ke
air. Kemudian diayunkannya kakinya berjalan pulang ke rumahnya.
Ternyata dugaan tidak salah. Ibunya menjadi cemas melihat jalur-jalur
di dadanya itu.
“Tidak apa-apa,” berkata Bramanti. “Dengan getah mlandingan di campur
dengan kunyahan daunnya, segera luka-luka kecil ini akan sembuh.”
Dan nasehat yang dinanti-nantikannya itu di ucapkan oleh ibunya pula.
“Lain kali jangan memanjat terlampau pagi. Tunggulah sampai embun mulai
menguap.”
Dan Bramanti pun telah menyediakan jawabannya pula. “Baik bu.”
“Nah,” berkata ibunya. “Minumlah selagi masih panas.”
Bramanti pun kemudian berjalan dengan kepala tunduk, masuk ke dapur.
Perlahan-lahan ia duduk di sebuah bale-bale bambu. Sejenak di pandanginya
semangkuk air panas, dan seonggok gula kelapa. Kemudian tangannya pun
terjulur meraih mangkuk itu. Ketika ia mengangkatnya, tangan itu
tertegun. Dipandanginya air hangat itu sejenak. Keningnya berkerut ketika
tiba-tiba saja kenangannya meloncat kepada seorang gadis yang ditemuinya
pertama-tama ketika ia datang kembali ke padukuhannya.
Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Wajah gadis itu seakan-akan
membayang di dalam mangkuknya.
Tiba-tiba Bramanti menggeleng-gelengkan kepalanya. Diteguknya air
hangat itu sambil berdesis di dalam hatinya, “Temunggul telah mendorong aku
untuk selalu mengenang wajah itu. Sebenarnya aku tidak menaruh
perhatian sama sekali.”
Bramanti menggigit bibirnya. Dicobanya untuk mengusir bayangan yang
telah mulai mengganggunya itu.
“Aku sudah mulai mencari perkara,” ia berkata di dalam hatinya. “Aku
telah banyak sekali berkorban. Aku telah merendahkan diriku dengan
menahan hati sekuat-kuat tenagaku. Penghinaan di arena pendadaran itu adalah
pengorbanan yang tiada taranya dari seorang laki-laki. “Kalau kemudian
aku terlibat dalam persoalan seorang gadis dan langsung berhadapan
dengan Temunggul, maka pengorbanan itu akan sia-sia.”
Karena itu, maka Bramanti pun berusaha untuk tetap dapat mempergunakan
nalarnya tanpa membiarkan perasaannya mengembara menyusuri langit.
Tanpa sesadarnya Bramanti meraba jalur-jalur merah di dadanya. Ia
merasa sesuatu bergetar didadanya ketika terasa jalur-jalur itu menjadi
pedih.

Comments