Tanah Warisan 071

18 Oktober 2001,  TIBA-TIBA wajah ayah Ratri menjadi tegang. Dengan serta merta ia
berkata lantang, “Nah, bukankah aku sudah berkata, jauh sebelum peristiwa ini
terjadi. Bahkan pada saat Ratri tergila-gila untuk belajar menari.
Apakah manfaatnya belajar menari. Inilah. Inilah akibat yang paling jelas
kita lihat sekarang.”

“Pak,” berkata isterinya memotong kata-kata suaminya. “Jangan
menyalahkan Ratri. Kalau itu dianggap bersalah, biarlah kesalahan itu tidak kita
persoalkan lagi sekarang. Semuanya sudah telanjur.”
“Begitulah. Begitulah akhirnya. Sudah telanjur”.
“Bukankah demikian keadaannya?” jawab ibu Ratri, lalu “kini Ratri
sedang bingung. Bagaimana mengatasi persoalan ini. Jangan menambah Ratri
menjadi semakin bingung. Dan apakah seandainya Ratri dianggap bersalah,
kita akan terpancang pada kesalahan itu, dan membiarkannya diseret oleh
orang-orang Panembahan Sekar Jagat?”
“Tentu tidak. Tentu tidak,” sahut ayah Ratri cepat-cepat.
“Itulah masalahnya. Bagaimana?”
Laki-laki itu tidak segera menjawab. Tetapi kini kepalanya tepekur. Ia
mengerti, betapa hati anaknya dicengkam oleh ketakutan. Memang setiap
saat Wanda Geni dapat datang ke rumahnya. Seperti saat-saat ia mengambil
pendok emas atau mengambil timang tretes berlian, maka ia akan dapat
mengambil Ratri.
Namun setiap kali ia masih saja menyesali Ratri, bahwa ia tidak menurut
nasehatnya dahulu, dan setiap kali ibunya selalu memperingatkan, bahwa
yang penting adalah menyelamatkan Ratri.
“Aku belum tahu, apakah yang sebaiknya aku lakukan,” berkata laki-laki
itu seakan-akan ditujukan kepada dirinya sendiri. Dengan langkah yang
berat ia berjalan mondar-mandir.
“Apakah Ratri perlu bersembunyi?” bertanya isterinya.
“Dimana ia akan dapat bersembunyi di Kademangan ini,” desis ayahnya.
“Lalu apakah yang sebaiknya kita lakukan?” ibunyapun kemudian dicengkam
oleh kecemasan.
“Aku akan minta perlindungan Ki Demang dan Ki Jagabaya. Aku akan ke
Kademangan. Mungkin mereka dapat memberikan jalan keluar dari kesulitan
semacam ini. Kalau perlu, biarlah Ratri untuk sementara berada di
Kademangan sampai keadaan menjadi reda. Kalau kita yakin bahwa Wanda Geni
telah tidak kembali lagi, maka biarlah Ratri nanti pulang ke rumah ini.”
“Kapan kita dapat menentukan waktu itu, waktu dimana kita dapat
mengambil keputusan, bahwa Wanda Geni tidak akan kembali lagi.”
“Kita akan dapat merasakannya. Meskipun aku tidak dapat mengatakan
dengan tepat, kapan. Tetapi seandainya Wanda Geni masih tetap pada
pendiriannya, pasti ia akan kembali dalam waktu singkat.”
Isterinya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terserahlah kepadamu pak.
Tetapi Ratri harus diselamatkan.”
Ayah Ratri mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku akan pergi ke
Kademangan. Setidak-tidaknya aku akan mendapat nasehat. Bagaimana aku harus
menyelamatkan anakku ini.”
Ayah Ratripun kemudian pergi ke Kademangan menemui Ki Demang dan Ki
Jayabaya, untuk meminta perlindungan dari mereka terhadap anaknya yang
sudah jelas terancam bahaya. Bahaya yang sangat mengerikan bagi seorang
gadis. Karena apabila Ratri itu berhasil dibawa ke sarang iblis-iblis
itu, maka ia pasti akan kehilangan. Ratri pasti akan menempuh cara yang
bagaimanapun juga untuk menghapus malu. Bahkan mungkin ia akan membunuh
diri.”
Ketika ayah Ratri sampai ke regol Kademangan, ia menjadi heran. Di
Kademangan itu dilihatnya beberapa anak-anak muda pengawal Kademangan telah
berkumpul. Bahkan Temunggulpun telah ada di halaman itu pula. Di
pendapa dilihatnya Ki Demang, Ki Jayabaya dan beberapa orang bebahu
Kademangan yang lain. Namun di antara mereka terdapat seseorang yang asing
baginya. (Bersambung)-m

Leave a Reply