Tanah Warisan 072
19 Oktober 2001, “Orang itukah yang telah disebut-sebut Ratri sebagai salah seorang
pembantu Wanda Geni yang terluka?” pertanyaan itu tumbuh di dalam hatinya.Karena itu, maka ayah Ratri tidak segera masuk ke dalam regol. Ia
berhenti sejenak di luar sambil melihat suasana. Ketika dilihatnya seorang
pengawal yang berdiri di depan regol, maka ayah Ratri itu mendekatinya
sambil bertanya, “Kenapa halaman ini kelihatan sangat sibuk?”
“O,” pengawal yang telah mengenal ayah Ratri itu menganggukkan
kepalanya. Jawabnya, “Kami akan melepaskan seorang tawanan kami.”
“Tawanan? Yang mana?”
“Itu, yang duduk di pendapa bersama Ki Demang.”
Ayah Ratri mengerutkan keningnya. Sikap orang itu sama sekali tidak
membayangkan sikap seorang tawanan. Bahkan melampaui seorang tamu yang
sangat dihormat.
“Orang itu terluka ketika ia berkelahi melawan orang yang menyebut
dirinya Putut Sabuk Tampar.”
Ayah Ratri mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Dalam keadaan luka itulah ia dapat ditawan oleh salah seorang anggota
pengawal Kademangan.”
Ayah Ratri masih mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tetapi ia menuntut untuk dibebaskan.”
“Dan tuntutan itu dikabulkan oleh Ki Demang?”
Pengawal itu menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya. Setelah melalui
banyak sekali pertimbangan dan pembicaraan. Akhirnya kami mengambil
keputusan untuk melepaskannya, demi keselamatan seluruh Kademangan.”
Sekali lagi ayah Ratri mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tetapi bukankah ia terluka?” bertanya ayah Ratri kemudian.
“Ya, tetapi luka itu sudah diobati. Agaknya orang itu merasa bahwa ia
sudah cukup kuat untuk kembali ke induknya. Ia minta kami memberikan
seekor kuda.”
Ayah Ratri mengangguk-anggukkan kepalanya, mengangguk-angguk dan
mengangguk-angguk. Namun sejenak kemudian ia harus meloncat menepi ketika
seekor kuda yang tegar meloncat berlari menyusup regol halaman, berpacu
dengan cepatnya meninggalkan debu yang tipis berhamburan di jalan-jalan
berbatu.
“Itulah orangnya,” desis pengawal itu.
Berbagai tanggapan bergolak didalam dada orang tua itu. Ia
kadang-kadang merasa bersyukur bahwa Ki Demang cukup bijaksana, sehingga
orang-orang Panembahan Sekar Jagat tidak terlampau mendendam Kademangan ini,
termasuk anaknya. Tetapi apabila diingatnya, sikap orang-orang itu terhadap
anaknya, maka kebenciannya pun segera memuncak.
Setelah orang berkuda itu hilang di tikungan, maka orang tua itupun
menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia berkata perlahan-lahan kepada
pengawal yang kini berdiri diseberang jalan di depan regol itu. “Aku akan
menemui Ki Demang.”
“Silakan,” jawab pengawal itu.
Ayah Ratri itu pun kemudian memasuki halaman Kademangan dan langsung
minta kepada salah seorang bahu Kademangan untuk bertemu dengan Ki
Demang.
Setelah mereka duduk di pendapa, maka ayah Ratri itu pun langsung
menyampaikan persoalannya dan kesulitan-kesulitannya kepada Ki Demang dan Ki
Jagabaya yang hadir pula disitu.
Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya, sedang Ki Jagabaya
mendengarkan dengan wajah yang tegang.
“Aku minta perlindungan Ki Demang. Anakku selalu dicengkam oleh
ketakutan yang luar biasa. Ia tidak mau makan sama sekali dan semalam hampir
tidak dapat tidur sekejappun. (Bersambung)-m
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 392 Views





Leave a Reply