Tanah Warisan 073

20 Oktober 2001,  Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia berpaling kepada Temunggul yang duduk pula di antara mereka. Katanya, “Jawablah persoalan
yang dikatakan oleh ayah gadis yang menjadi masalah itu.”Wajah Temunggul sekilas dibayangi oleh warna merah. Namun kemudian ia
beringsut maju. Katanya, “Kami disini sudah membicarakannya paman.
Ketika kami mendengar permintaan tawanan kami itu untuk mengajukan syarat.
Orang itu akan kami lepaskan, tetapi ia harus menjamin, bahwa
kawan-kawannya selanjutnya tidak akan berbuat sebuas itu lagi terhadap
gadis-gadis.”
Ayah Ratri mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Temunggul meneruskannya,
“Orang itu telah menyanggupinya.
“Tetapi,” potong ayah Ratri. “Orang itu bukan orang tertinggi di antara
mereka. Meskipun ia menyanggupinya tetapi atasannya tetap berpendirian
demikian.”
“Tidak paman,” jawab Temunggul. “Ternyata Panembahan Sekar Jagat sama
sekali tidak membenarkan tindakan-tindakan serupa itu. Sudah tentu ia
akan marah, apabila ia mendengar bahwa salah seorang anak buahnya telah
melanggar pantangan itu.”
“Darimana kau tahu?”
“Tawanan kami inilah yang mengatakannya. Wanita bagi Panembahan Sekar
Jagat adalah suatu persoalan yang tidak ada manfaatnya. Ternyata bahwa
Panembahan Sekar Jagat sendiri menurut pendengaran kami lewat tawanan
kami itu, juga tidak pernah kawin sepanjang umurnya.”
Ayah Ratri mengangguk-anggukkan kepalanya. Hatinya menjadi sedikit
lapang mendengar penjelasan itu, meskipun masih juga timbul keragu-raguan.
“Apakah orang-orang Panembahan Sekar Jagat itu masih juga dapat
dipercaya,” pertanyaan itu selalu mengganggu pikirannya. Tetapi kegelisahan
didadanya sudah tidak lagi melonjak-lonjak seperti pada saat ia pergi ke
Kademangan.
Orang tua itu mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Temunggul
meneruskan. “Meskipun demikian, aku akan selalu berusaha untuk mengawasi
mereka, paman. Kalau ada hal-hal yang mencurigakan, maka aku akan segera
mengambil tindakan yang akan dapat mengamankan gadis-gadis di Kademangan
ini.”
“Terima kasih ngger,” jawab ayah Ratri sambil mengangguk-angguk.
“Mudah-mudahan tidak terjadi lagi bencana apapun atas gadis-gadis kita. Kita
sudah membiarkan kekayaan kita satu demi satu mereka ambil. Sudah tentu
kita tidak akan dapat membiarkan anak-anak kita mereka ambil pula.”
Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya pula. “Kita akan bersama-sama
berusaha,” katanya, kemudian, “Dan aku menaruh kepercayaan kepada
tawanan yang kita lepaskan tadi. Agaknya ia berbicara dengan
sungguh-sungguh. Bahkan ia berjanji, kalau Wanda Geni masih akan mengulangi
perbuatannya, ia akan mengadukan kepada Panembahan Sekar Jagat. Sebab dengan
demikian, hal itu akan dapat mengganggu kelancaran pekerjaan mereka,
memungut harta dan kekayaan tidak saja di Kademangan ini.”
“Dan sebentar lagi kita akan melihat dua kekuatan berbenturan,” desis
ayah Ratri.
“Antara siapa?” bertanya Ki Jagabaya dengan serta merta.
“Bukankah angger Temunggul dimalam itu bertemu tidak saja dengan
orang-orang Panembahan Sekar Jagat, tetapi juga hadir sesorang yang menyebut
dirinya Putut Sabuk Tampar dan mengaku sebagai seorang utusan dari Resi
Panji Sekar?”
Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, Kademangan ini akan
menjadi ajang pertentangan dari orang-orang lain. Dan kita sama sekali
tidak berbuat apa-apa.”
(Bersambung)-m

Leave a Reply