Tanah Warisan 074
21 Oktober 2001, “Jangan bermimpi Ki Jagabaya,” potong Ki Demang, “Kita sama sekali
tidak memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu.” “Bagaimana dengan anak-anak kita? Ternyata Temunggul telah memulainya.
Dan ternyata orang-orang Panembahan Sekar Jagat itu adalah orang-orang
biasa, yang dapat luka oleh senjata.”
Tetapi apakah kita mengetahui jumlah kekuatan mereka yang sebenarnya?”
sahut Ki Demang. “Kita tidak boleh mempertaruhkan Kademangan ini untuk
memberikan kepuasan kepada beberapa pribadi saja. Kita harus
menghitungkannya, apa yang pantas dan dapat kita lakukan.”
Ki Jagabaya tidak menjawab. Tetapi wajahnya menjadi tegang. Ia menjadi
kecewa, seperti setiap kali ia mempercakapkan masalah itu, ia pun
selalu menjadi kecewa.
Dan setiap kali ia berbicara masalah itu, ia selalu terdiam sambil
menahan hati. Ki Demang kurang mempunyai keberanian menjajagi kekuatannya,
meskipun Ki Jagabaya dapat juga mengerti, bahwa Ki Demang ingin berbuat
dengan sangat hati-hati.
Yang terdengar kemudian adalah kata-kata Ki Demang kepada ayah Ratri,
“Pulanglah. Kita akan memperhatikan nasib gadis-gadis kita. Kita akan
menemukan cara yang sebaik-baiknya tanpa mengorbankan seluruh Kademangan
kita ini.”
“Terima kasih,” jawab ayah Ratri. “Setiap ada persoalan tentang
anak-anakku, aku akan menyerahkannya kepada Ki Demang dan orang-orang lain
yang seharusnya memang bertanggung jawab.”
Ki Demang tersenyum sambil berkata, “Jangan takut.”
Ayah Ratri pun kemudian meninggalkan Kademangan dengan hati yang agak
lapang. Disampaikannya semua pembicaraannya kepada istri dan anaknya,
sehingga keduanya pun menjadi agak tenang. Di tambah-tambahinya
keterangan Ki Demang, Ki Jagabaya dan Temunggul agar anak dan istrinya itu tidak
selalu diburu oleh keragu-raguan dan kecemasan.
“Orang itu menyanggupkan dirinya menjadi taruhan,” berkata ayah Ratri
kepada anak dan istrinya. “Kalau Wanda Geni masih akan mengulangi
perbuatannya, ia akan menyampaikannya kepada Panembahan Sekar Jagat. Sebab
Panembahan Sekar Jagat sama sekali tidak menghendaki hal-hal serupa itu
dapat terjadi. Bukan karena kebaikan hatinya, tetapi semata-mata karena
ketamakannya akan harta benda, sehingga persoalan serupa itu akan dapat
mengganggu usahanya mengumpulkan benda-benda berharga dari Kademangan
ini.”
Istri dan anaknya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Tetapi seperti
ayah Ratri itu, sebenarnya, mereka masih menyimpan keragu-raguan di dalam
hati.
Dengan demikian, maka sejak peristiwa itu Ratri jarang sekali keluar
dari rumahnya, apalagi dari halaman. Ia selalu berada di dalam biliknya,
atau berjalan-jalan di ruang dalam. Hanya kadang-kadang sekali ia turun
ke halaman apabila ia telah menjadi rindu sekali menghirup cahaya
matahari yang cerah.
Sementara itu, berita tentang hal itu telah tersebar di seluruh
Kademangan. Hampir setiap mulut mempercakapkannya. Tidak terkecuali Panjang,
anggota pengawal Kademangan yang baru.
Ketika ia pulang dari Kademangan di saat matahari terbenam, ia melihat
Bramanti sedang menyalakan lampu regolnya, sehingga karena itu ia pun
berhenti.
“He,” sapanya. “Lampumu terlampau kecil.”
Bramanti berpaling. Kemudian ia tersenyum. “Aku harus menghemat
minyak.”
Panjang kemudian singgah ke halaman itu. Mereka duduk berdua bersandar
dinding regol.
“Darimana kau Panjang?” bertanya Bramanti.
“Dari Kademangan,” jawab Panjang pendek.
“Apakah akan ada keramaian lagi di Kademangan?” bertanya Bramanti.
Panjang menggelengkan kepalanya, “Ekor dari keramaian yang dahulu
itupun masih belum terlupakan.”
“Kenapa?” (Bersambung)-m
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 353 Views





Leave a Reply