Tanah Warisan 075

22 Oktober 2001,  “Ratri.”
“Kenapa dengan Ratri?”
“Apakah kau sama sekali tidak mendengarnya?”Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Aku telah mendengar
bahwa telah terjadi keributan. Tetapi aku tidak jelas apakah yang
sebenarnya telah terjadi.”
“Dimanakah kau malam itu, ketika di Kademangan ada keramaian?”
“Di rumah.”
“Apakah kau tidak melihat ke Kademangan?”
“Ya, aku melihat. Tetapi aku pulang sebelum keramaian itu selesai.”
“Kenapa?”
“Aku terlampau lelah.”
Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya wajah Bramanti
seakan-akan ia sedang mencari sesuatu di antara hitam matanya.
“Sekali lagi Kademangan kita dijamah oleh seseorang yang diliputi oleh
rahasia yang sangat gelap,” berkata Panjang kemudian.
Bramanti tidak menyahut, ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.
“Hampir saja Ratri menjadi korban.”
“Korban apa?”
“Panembahan Sekar Jagat.” jawab Panjang, lalu “Maksudku orang-orang
Panembahan Sekar Jagat.”
Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kenapa kau tidak terkejut, atau menjadi heran atau dengan serta merta
memberikan tanggapan?”
Bramanti tergagap. Namun ia kemudian menjawab, “Aku menunggu kau
selesai berbicara.”
Panjang menarik nafas. Katanya, “Baiklah. Aku teruskan. Saat itu Ratri
berjalan bersama dua kawannya diantar oleh Temunggul dan seorang kawan.
Tetapi mereka tidak dapat melawan Wanda Geni dan tiga orang kawannya.
“Bukan mengalahkannya yang penting bagi Temunggul,” sahut Bramanti.
“Tetapi keberaniannya untuk melawan. Itulah yang seharusnya dilakukan
sejak semula. Kalau Temunggul dan para pengawal Kademangan ini berani
berbuat demikian, aku kira Panembahan Sekar Jagat harus berpikir untuk
kesekian kalinya, apabila ia masih akan meneruskan perampokan yang selalu
dilakukan itu.”
Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Temunggul memang
sudah melakukannya. Agaknya ia merasa, bahwa waktunya memang sudah tiba
untuk melakukan perlawanan.”
(Bersambung)-o

Leave a Reply