Tanah Warisan 076

23 Oktober 2001,  “Tetapi Temunggul tidak bertempur karena ia seorang pengawal
Kademangan. Ia berkelahi karena ia ingin membela Ratri,” Bramanti berhenti
sebentar, lalu, “Itu tidak wajar Panjang. Seharusnya Temunggul bersikap demikian sepanjang waktu, justru untuk kepentingan seluruh Kademangan.” Dari siapa kau meniru anggapan itu atasnya?”
Sekali lagi Bramanti tergagap. Dan ia mendengar Panjang berkata
seterusnya. “Aku mendengar dari pengawal yang mengawani Temunggul saat itu,
bahwa kemudian hadir seseorang yang diliputi oleh rahasia itu, dan
mengatakan tentang Temunggul seperti yang kau katakan.”
Sejenak Bramanti tidak menjawab. Tetapi sejenak kemudian ia bertanya,
“Apakah kau tidak beranggapan begitu?”
“Ya, aku pun beranggapan begitu. Kita memang harus bersikap demikian
dalam segala kepentingan.”
“Dan bukankah kau, aku dan orang itu dapat berpendirian serupa sebelum
kita berbicara dan memperbincangkannya.”
Sekali lagi Panjang menarik nafas sambil mengangguk-anggukkan
kepalanya.
“Tetapi,” katanya kemudian, “Orang aneh itu pun sangat menarik
perhatian. Orang itu menyebut dirinya bernama Putut Sabuk Tampar. Utusan Resi
Panji Sekar.”
“Apakah Temunggul tidak dapat mengenal orang itu apabila suatu kali ia
bertemu lagi?”
Panjang menggelengkan kepalanya. “Orang itu sengaja menyembunyikan
pribadinya. Suaranya pun dibuat-buatnya sehingga melengking-lengking tidak
karuan. Sikapnya dan tata gerak disaat-saat ia bertempur, sama sekali
tidak dapat dikenal. Semuanya serba berlebih-lebihan dan bahkan mirip
dengan seseorang yang sedang bermain-main.”
“Aneh,” gumam Bramanti. “Apakah pamrihnya, sehingga orang itu tidak mau
menyatakan dirinya?”
“Kami tidak tahu. Temunggul tidak tahu, dan Ratri juga tidak tahu.”
Panjang berhenti sebentar, lalu, “Tetapi menurut dugaanku orang itu
agaknya orang yang telah menolong aku itu pula.”
“Ketika kau melakukan pendadaran dengan berkelahi melawan harimau itu?”
“Ya,”
“Apakah hubungannya?”
“Keduanya datang dengan tiba-tiba pada saat yang diperlukan, dan
keduanya menghilang dengan tiba-tiba pula. Keduanya tidak mau memperkenalkan
dirinya dan keduanya adalah orang-orang yang pilih tanding, yang tidak
akan kita temui di Kademangan kita ini.”
Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya, “Mungkin, memang mungkin,”
desisnya, “Mungkin orang itu benar-benar orang Resi Panji Sekar.”
“Mungkin,” gumam Panjang. “Memang mungkin.”
Keduanya pun kemudian saling berdiam diri, seolah-olah sedang
mendengarkan desir angin di dedaunan di malam yang menjadi semakin kelam.
Tiba-tiba Panjang berdesah sambil berdiri, “Sudah gelap. Aku akan
pulang.”
“O,” Bramanti tersadar, “Begitu tergesa-gesa? Aku sebenarnya ingin
mempersilakan kau naik ke pandapa.”
“Terima kasih. Lain kali aku akan selalu datang. Aku merasakan sesuatu
yang aneh di halaman rumah ini.”
“Apakah yang aneh itu?”
“Aku tidak tahu, tetapi seolah-olah dilingkungan dinding halaman ini
pun tersembunyi suatu rahasia. Rahasia yang tidak mudah ditebak.”
Bramanti mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum, “Kau
bergurau.”
“Aku bersungguh-sungguh.”
“Mungkin kau terlampau terpengaruh oleh kehidupan kita di masa
kanak-kanak. Rumah ini kini sudah berubah sama sekali, sehingga seolah-olah di
dalamnya tersimpan suatu rahasia yang gelap. Tetapi sebenarnya itu sama
sekali bukan rahasia. Justru kenyataan yang terhampar siang dan malam.”
(Bersambung)-m

Leave a Reply