Tanah Warisan 077

24 Oktober 2001,  Panjang menarik nafas dalam-dalam. “Selamat malam Bramanti. Apakah nanti malam kau tidak akan keluar halaman rumah ini.” Bramanti menggelengkan kepalanya, “Tidak Panjang. Aku lebih senang
tidur di rumah.” Bukankah katamu kau tidur di kandang?”

Ya. Aku memang tidur di kandang. Tidak terlampau panas, tetapi juga
tidak terlampau dingin.”
Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Satu-satu ia melangkahkan
kakinya melangkahi tlundak regol halaman. Di luar regol ia berhenti sejenak
sambil berpaling. “Tetapi tawanan yang di dapat malam itu, kini sudah
dilepaskan.”
“He,” Bramanti mengerutkan keningnya. Sejenak wajahnya menjadi tegang,
namun kemudian kesan itu pun segera lenyap. Sambil mengangguk-anggukkan
kepalanya ia bertanya, “Tetapi, kenapa dilepas? Aku memang sudah
menyangka, bahwa dengan demikian kita akan merasa lebih aman.”
“Ya.” Dan orang itu telah memberikan jaminan, bahwa Panembahan Sekar
Jagat pasti akan mencegah apabila ada orang-orangnya yang masih akan
mengganggu gadis-gadis.”
Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah kita dapat
mempercayainya?”
“Mudah-mudahan ia dapat dipercaya. Dan agaknya ia pun
bersungguh-sungguh.”
“Apakah kau melihat sendiri?”
“Aku melihat sendiri. Semua pengawal berkumpul di Kademangan ketika
kami melepaskannya.”
Bramanti tidak segera menjawab. Tampaklah ia termenung, namun kemudian
ia berdesis. “Mudah-mudahan demikianlah hendaknya.”
Panjang tidak menjawab lagi, tetapi ia berkata, “Selamat malam. Aku
akan pulang.”
Sepeninggalan Panjang, Bramanti kemudian duduk termenung ditangga
pendapa. Dipandanginya kehitaman malam yang menjadi semakin pekat. Lampu
minyak diregol halaman tergetar karena angin yang bertiup dari Selatan.
Bramanti berpaling ketika ia mendengar ibunya memanggilnya.
“Makanlah,” berkata ibunya.
Bramanti pun kemudian berdiri dan berjalan ke dapur.
Meskipun kemudian tangan Bramanti memegang mangkuk tanah yang berisi
nasi, namun hatinya menjalar ke dunia angan-angannya yang tidak bertepi.
Dunia yang dapat menampung segala macam kejadian dan peristiwa.
Tanpa disadarinya, Bramanti telah membayangkan kemungkinan yang dapat
terjadi, apabila Ratri tidak tertolong saat itu. Ia dapat menduga, apa
saja yang akan dilakukan oleh Wanda Geni. Dan tiba-tiba saja ia berdesah
di dalam hatinya. “Kasihan Ratri. Ternyata Temunggul tidak mampu
melindunginya.”
Bramanti yang mula-mula sama sekali tidak menaruh perhatian atas Ratri,
justru lambat laun ia mulai membayangkannya. Ia mulai mereka-reka
wajah gadis itu di dalam angan-angannya. Namun setiap kali ia
menghentakkannya sambil bergumam kepada diri sendiri. “Aku agaknya akan mencari
persoalan.”
Tetapi wajah Ratri semakin membayang di rongga matanya.
Setelah makan, Bramanti pun minta diri kepada ibunya, untuk tidur di
kandang yang kosong, seperti hampir setiap malam dilakukannya.
Namun agaknya malam terasa terlampau panas, sehingga hampir di tengah
malam Bramanti keluar dari dalam kandang. Setelah mengamati keadaan
sekitarnya, maka ia pun kemudian melangkah perlahan-lahan mengitari
rumahnya. Namun agaknya Ia menjadi jemu, sehingga dengan demikian, maka ia pun
berjalan keluar regol halaman.
Bramanti tidak tahu, kemana ia akan pergi. Tetapi ditelusurinya saja
lorong yang membujur lewat di depan regol halamannya. Selangkah demi
selangkah, semakin lama semakin jauh. Ketika ayam jantan mulai berkokok di
tengah malam, Bramanti tersadar, bahwa ia telah berada di depan rumah
Ratri.

Leave a Reply